20 September

Ditulis di Kisah | Tidak Ada Komentar

Antemini Antemono

Antemini adalah nama seekor tikus betina berbulu putih, berbadan subur dan bersih. Tampak fisiknya menunjukkan bahwa makanannya cukup bermutu hingga pertumbuhan badannya hampir sempurna. Matanya yang lembut siap meluruhkan setiap tikus jantan yang garang sekalipun. Tatapannya membuat setiap lawan jenisnya menyerah, bagai tatapan seorang ibu memberikan asi kepada bayinya. Tatapannya penuh kelembutan dan kehangatan.

Demi melanjutkan hidup, antemini musti berupaya sedemikian hingga setiap kebutuhannya sendiri terpenuhi. Kebutuhannya sebagai makhluk betina, rupanya tidak cukup hanya makan, bedak dan pewangi pun harus selalu mendampinginya kemana saja. Otaknya cerdas, sering kali dia diminta oleh teman-teman di sekitarnya untuk merancang sesuatu dan banyak berhasil. Namun bagaimanapun pinternya Antemini, rupanya bentuk tubuhnya yang molek lebih dikenal daripada kepinterannya.

Hidup adalah hidup yang harus dinikmati, begitulah pikirnya setiap dia mengalami kendala. Hidup adalah perjuangan dan otaknya yang cerdas membuatnya bisa menjadikan perjuangan sebagai sebuah hobby, permainan hidup. Saking dinikmatinya hidup, diapun tidak tahu bahwa dia sedang berupaya berjuang hidup di dalam kandang kucing. Dia tidak tahu bahwa disekitarnya bersamanya dia mencari makan dengan kucing-kucing itu.

Antemini memang polos, lurus dan tidak neko-neko. Dia merasa bahwa hidup haruslah dijalani. Dia juga bahkan tidak tahu bahwa kucing merupakan binatang yang bisa memangsanya sewaktu-waktu. Kucing yang dikenal licik, tidak menyia-nyiakan kepolosan Antemini ini. Diberikannya beberapa potong makanan, pasti, tentu, absolutely diterima dengan senang hati oleh Antemini, makan adalah kewajiban untuk melanjutkan hidup, ujarnya dalam hati.

Beberapa kali diberikan makanan oleh kucing, dirasakannya sebagai bentuk kasih sayang oleh Antemini dari seekor kucing. Tidak! Manusia itu salah sangka, ternyata kucing itu baik hati! tegasnya dalam hati. Dan, ketika Hurican si kucing jantan mengajaknya jalan, tanpa pikir panjang Antemini langsung mengiyakan.

Desakan hati untuk menolak ajakan itu diabaikannya, sebab sudah selayaknya Antemini membalas kebaikan Hurican atas perhatianya selama ini. Dan, ketika mengajaknya untuk berbuat lebih, desakan penolakan hati Antemini kian kabur. “Gimana Hurican, aku baik hati, pemurah dan tidak sombong kan?,” ujar Antemini mengakhiri kisah kencannya hari itu.

Adalah seekor kecoak jantan yang juga jatuh hati termasuk merasa tertarik akan kemolekan fisik Antemini. Dia berusaha mencari cara untuk mendekati Antemini. Perbekalannya tidak sebanyak para kucing, karena si kecoak tidak memiliki daerah kekuasaan, pekerjaannya hanya mengais-ngais sisa-sisa makanan kucing dan tikus.

Antemono si kecoak jantan itu hanya bermodal dengkul. Tak tampak memang kekuatan dengkulnya, namun hanya semangat yang tinggilah modal utamanya untuk memperoleh hati Antemini. Beberapa kali Antemini menceritakan perjalanannya kencannya bersama kucing-kucing itu, namun antemini tidak menceritakan bagaimana dekatnya Antemini itu dengan para kucing, karena bagaimanapun sebagai makhluk betina, Antemini juga masih merasa untuk bersikap jaim kepada Antemono.

Gelagat Antemono sudah mulai tampak terasa oleh Antemini, lama kelamaan Antemini juga merasa bahwa meski hanya bermodal dengkul, Antemono tampak memiliki semangat paling besar untuk mendekati Antemini, berbeda dengan para kucing itu hanya bermain-main dengan fisik Antemini.

Antemini mulai merasa bahwa sisi-sisi psikologi Antemono tampak unggul dan kadang mulai bisa mengalahkan perhatian yang diberikan oleh para kucing-kucing itu. Akhirnya Antemini mulai jatuh hati dengan Antemono. Dikatakan sejujurnya bahwa Antemini memang selama ini suka berjalan-jalan dengan para kucing, namun hatinya telah luluh dengan dengkulnya Antemono. Antemono pun merasa bahwa masa lalu adalah masa lalu, tidak ada yang tidak bisa diperbaiki atau dimaafkan. Antemono menerima Antemini apa adanya.

Suatu hari Antemini bermimpi bahwa Antemono telah menyelingkuhinya, dan merasakan bahwa mimpi itu seolah nyata. Sejak itu Antemini tersentak hatinya dan berikrar untuk mempertahankan hubungannya dengan Antemono. Dan, demi ingin menunjukkan kesungguhannya pada Antemono, Antemini pun mengakui bahwa dia pun telah menyelingkuhi Antemono dengan melayani keinginan-keinginan para kucing itu.

Bagaimana perasaan Antemono? Silahkan Anda rasakan dan nilai sendiri..:) (abharto/20092012, hari pilkada DKI putaran 2)

Tags:

Tinggalkan Pesan

Anda harus logged in untuk mengirim pesan.

Agus Budi Harto - Copyright © 2012 | All rights reserved.