27 September

Ditulis di Opini | 2 Komentar

Produktivitas vs Keamanan Informasi

Beberapa tahun lalu kita ingat ketika masih menggunakan Windows 98 dan/atau kakek neneknya, betapa bahagia ketika layar komputer sudah bisa dihiasi dengan bentuk-bentuk visualisasi mirip benda-benda asli termasuk tampilan foto di dalamnya. Canggih, begitu satu-satunya kata terucap ketika kita dan orang-orang di jamannya memberikan komentar.

Secepat kilat berbagai institusi memanfaatkan teknologi ini untuk berbagai pencatatan, kalkulasi dan berbagai bagian proses kerja lain sehingga proses kerja dapat dipercepat secara signifikan. Bahkan beberapa bidang tertentu telah menjadikan komputer sebagai tulang punggung bisnisnya, sebagai contoh perbankan dengan kemudahan ATM-nya.

Setelah merasakan kenyamanan memanfaatkan komputer, serta manfaat lain sehingga produktivitas kerja institusi pengguna menjadi maksimal, pengguna komputer termasuk pihak pengambil keputusan sudah merasa cukup dengan bantuan yang diberikan oleh perangkat canggih tersebut. Padahal sebagaimana kita sadari bahwa perkembangan komputer terasa amat cepat, kadang lebih cepat dari yang dipikirkan oleh sebagian orang.

Kadang tidak disadari bahwa sistem komputer diperbaharui selain karena dengan tujuan menambah manfaat lain, menambah kecepatan, dll., akan tetapi juga karena sistem yang lama memiliki berbagai kelemahan (vulnerabilities). Windows 98 memudahkan pengguna untuk memasang berbagai software yang diinginkan untuk dipasang, namun kemudahan ini justru berujung kepada tidak dapat dikendalikannya pengguna untuk mendapatkan berbagai software secara ilegal.

Pada suatu kunjungan di suatu instansi, pada masa itu komputer sistem operasi windows sudah berada pada kejayaan Windows XP. Salah satu kelebihan yang ditawarkan oleh Sistem Operasi ini sebagai turunan dari Windows NT, adalah kemampuan multilevel akses sehingga setiap pengguna hanya bisa mengakses dokumen kerja yang dimilikinya, atau hanya bisa bekerja sesuai dengan kewenangan yang diberikan di windows XP.

Institusi tersebut sangat mempertahakan prinsip bahwa dengan hanya menggunakan Windows 98 saja, hasil kerja institusinya sudah mencapai produktivitas lebih tinggi dibandingkan institusi setara di bagian lain yang sudah menggunakan windows XP. “Untuk apa nambah investasi kalo dengan yang ada saja sudah kenceng, sudah mengalahkan pesaing!,” arahan dari penentu keputusan saat itu.

Saya mencoba melakukan pendekatan berbeda dari pioneer lain sebelumnya, pendekatan produktivitas untuk meng-upgrade sistem operasi ternyata sudah usang dan tidak mempan, karena hal tersebut hanya terbatas kepada pemikiran untung-rugi yang berdampak kepada keuntungan institusi. Pendekatan lain yang ternyata belum disadari oleh banyak orang saat itu adalah pendekatan keamanan informasi, dimana salah satu aspek yang harus diperhatikan adalah pemenuhan terhadap persyaratan legal.

Saya tekankan perbedaan mencolok dari Windows 98 dan XP adalah akses multilevel yang tidak bisa dilakukan di Windows 98. Pada presentasi yang saya paparkan kepada tim pengambil keputusan adalah bahwa dengan mempertahankan menggunakan Windows 98, maka setiap karyawan atau pegawai dapat melakukan instalasi software apapun tanpa batas termasuk software mengandung virus maupun software ilegal.

Potensi kerugian yang akan ditanggung oleh institusi tersebut tentunya adalah pelanggaran UU-HAKI no. 19 tahun 2002 pasal 72 ayat 3 bahwa “Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak memperbanyak penggunaan untuk kepentingan komersial suatu Program Komputer dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).”

Serentak tanpak wajah-wajah penentu keputusan tercengang karena baru sadar bahwa ada faktor legal yang berpotensi dapat menyeret mereka ke meja hijau dan/atau mengurangi keuntungan hasil produksi pada institusi mereka. Alhasil, Alhamdulillah pendekatan keamanan informasi lebih berhasil daripada pendekatan produktivitas.

Bagi kita yang bergelut dengan software, cobalah baca sesekali UU-HAKI dan UU terkait lainnya, siapa tahu hal ini bisa menyelamatkan kita dari ancaman pelanggaran legal, dan terhindar dari kerugian lebih besar jika kita terlambat mematuhinya. (abharto/092012)

Tags:

2 Responses to “Produktivitas vs Keamanan Informasi”

  1. kusbud says:

    ikut nyengir sama nitip backlink 😀

Tinggalkan Pesan

Anda harus logged in untuk mengirim pesan.

Agus Budi Harto - Copyright © 2012 | All rights reserved.