28 September

Ditulis di Kisah | Tidak Ada Komentar

Rekayasa Sosial di Bandara Soetta

Bandara merupakan tempat yang tidak asing bagi setiap individu atau kelompok yang hendak bepergian ke suatu tempat di luar pulau. Keberadaannya menjadi suatu obyek vital bagi negara karena hanya dengan melalui bandara, rakyat termasuk pejabat negara bisa melakukan perjalanannya ke luar negeri.

Dulu ketika harga tiket kapal laut jauh di bawah harga tiket pesawat, sebagian besar masyarakat kita lebih memilih menggunakan kapal laut untuk bepergian antar pulau ketimbang pesawat terbang. Namun kini harga tiket tidak signifikan berbeda sehingga sebagian besar dari mereka lebih memilih pesawat terbang termasuk karena waktu tempuhnya yang lebih kecil.

Jarak tempuh pesawat terbang yang hanya dibatasi oleh daya tampung bahan bakar dan aturan lintasan yang ditetapkan, menjadi suatu kelemahan dari sistem transportasi ini yang beberapa kali kerap menjadi obyek bagi pelaku kejahatan untuk mengalihkan arah terbang ke tempat lain yang diinginkan oknum penjahat. Misalnya oleh sindikat yang menginginkan sejumlah uang dengan menculik pesawat komersial.

Oleh karenanya, pihak pengelola bandara telah bekerja keras untuk mencegah bertemunya ancaman (threat) yaitu penjahat dan kelemahan (vulnerability) yaitu dapat dialihkannya pesawat terbang kemana saja, dengan berbagai cara. Beberapa diantaranya adalah dengan melakukan proses scanning semua tas yang dibawa calon penumpang, terhadap barang-barang yang berbahaya untuk dibawa ke kabin pesawat, misalnya senjata tajam, senjata api, dan lain-lain.

Proses administratif juga dilakukan dengan menugaskan penjaga di pintu masuk untuk memastikan bahwa setiap orang yang masuk harus memiliki tiket, sehingga hanya penumpang sajalah yang berada di dalam bandara. Setidaknya hal ini untuk memastikan kenyamanan calon penumpang dengan membatasi jumlah populasi yang berada di dalam bandara.

Pada suatu acara mengantar keluarga ke bandara Soetta (Soekarno-Hatta) di salah satu terminal keberangkatan, saya merasa wajib untuk mengantar keluarga hingga di dalam bandara. Karena saya harus membantu keluarga membawa beberapa bagasi hingga di dalam bandara, dan kebetulan keluarga saya tersebut masih belum terbiasa dengan perjalanan antar pulau.

Saya mencoba memperhatikan petugas pemeriksa tiket, namun saya merasa tidak akan bisa masuk karena saya tidak memiliki tiket. Lalu saya coba dekati petugas lain yang berjaga di pintu keluar, dia bilang bahwa selain penumpang saat ini tidak bisa masuk lagi ke dalam bandara, berbeda dengan sebelumnya dimana selain penumpang boleh masuk setelah membayar biaya masuk.

Beberapa saat saya perhatikan petugas pemeriksa tiket, ternyata dia hanya benar-benar memeriksa ada tidaknya tiket, tidak memeriksa kesesuaiannya dengan calon penumpang. Hal ini barangkali terjadi karena saking banyaknya penumpang yang masuk tiap hari, sehingga petugas tidak memeriksa tiket hingga detil.

Saya pikir, ini adalah vulnerability yang bisa bertemu dengan threat, dan threatnya adalah saya sendiri. Saya pinjam tiket keluarga, dan .. Alhamdulillah bisa membawa masuk semua bagasinya ke dalam. Lalu saat di dalam, saya masukkan tiket tersebut ke dalam dompet, dan melalui pintu keluar, saya tidak keluar namun dompet berisi tiket saya berikan kepada keluarga yang masih di luar, “ini dompetnya, tadi kebawa!,” meneriaki keluarga agar petugas mendengarnya.

Alhasil, kami berdua bisa masuk ke dalam bandara dengan cara rekayasa sosial. Rekayasa sosial (Social Engineering) merupakan aktivitas untuk mencapai suatu tujuan dengan merekayasa kelemahan manusia sebagai makhluk sosial. “Social Engineering is exploiting human vulnerabilities” kata suatu referensi. Banyak kelemahan manusia yang bisa di-exploit, dalam hal ini yang paling menonjol adalah, manusia paling suka merasa nyaman (lalai) di tempat yang dianggap aman.

Di setiap bandara, banyak sekali kita lihat penjaga di sana-sini. Kamera CCTV hampir kita jumpai di setiap sudut. Petugas patroli mondar-mandir untuk memastikan keamanan lokasi. Situasi tersebut berhasil membuat setiap calon penumpang merasa nyaman dan aman, termasuk mungkin petugas pemeriksa tiket:)

Banyak hal di luar bandara yang menjadi dampak dari rekayasa sosial ini, beberapa di antaranya dalam media publikasi: Barang bawaan penumpang bus dibawa kabur oleh penjahat yang berhasil membuat penumpang tunduk untuk minum obat bius, tabungan di ATM habis dikuras setelah penjahat mendapatkan informasi rekening termasuk nama ibu kandung melalui telepon, dan masih banyak lagi lainnya.

Semoga kondisi aman di Bandara Soetta semakin baik dan kita sebagai calon penumpang benar-benar dibuat aman karenanya. Warning: Jangan pernah mencoba-coba tindakan ini, karena kita bisa menjadi subyek hukum karenanya dan mungkin vulnerability ini sudah diperbaiki di Soetta. Tulisan ini dibuat semata-mata untuk meningkatkan kepedulian kita bersama terhadap keamanan informasi. Ingat, mari kita kenali kelemahan kita sebagai manusia, berbuatlah untuk membentengi kelemahan-kelemahan itu, selebihnya mari kita berdoa kepada Allah SWT. agar terhindar dari kedzaliman, Amin. (abharto/092012)

Tags:

Tinggalkan Pesan

Anda harus logged in untuk mengirim pesan.

Agus Budi Harto - Copyright © 2012 | All rights reserved.