Risk Management untuk menghindari Bencana

Tak pernah terbayang oleh kita bahwa berita itu benar terjadi. Jembatan Mahakam 2 yang begitu menjadi kebanggaan, ternyata dapat juga runtuh. Melihat ukurannya yang raksasa, jika kita tidak melihat beritanya langsung, kita seakan tidak percaya bahwa kekokohan itu telah runtuh dalam beberapa detik saja! Jika melihat dari dekat, tali-tali pengikatnya begitu kekar mencengkeram bumi. Banyaknya kendaraan yang telah diseberangkannya, makin membuktikan bahwa jembatan itu tidak dibuat main-main.

Terbayang oleh kita berapa biaya yang dibutuhkan untuk mendirikan bangunan jembatan semegah itu, berapa ratus orang harus bekerja keras agar tiang kuning penyanggah itu bisa berdiri di atas landasan lembut tanah berair berdasar curam sisi sungai. Betapa orang harus berfikir keras untuk menyiasati agar tali-tali raksasa itu bisa menyeberang ke sisi seberang sungai. Apakah yang terjadi hingga kekuatan raksasa itu musnah begitu mudahnya?

Threat vs Vulnerability
Bencana di atas merupakan salah satu bentuk dampak dari suatu risiko. Risiko itu sendiri merupakan pertemuan antara ancaman dan kelemahan. Ancaman tanpa kelemahan it’s just a threat. Dan Kelemahan tanpa bertemu dengan ancaman, it’s just a vulnerability. Sebuah jendela pintu rumah yang terbuka merupakan contoh bentuk kelemahan. Tidak akan ada suatu bencana atau insiden jika tidak ada maling yang lewat. Begitu pula seorang maling yang sedang berkeliaran, tidak akan terjadi bencana jika tidak melihat adanya suatu kelemahan misalnya jendela yang terbuka tadi.

Risk Management
Untuk memitigasi agar suatu bencana diharapkan tidak terjadi, setidaknya manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya, berkewajiban melakukan upaya mitigasi atas potensi risiko bencana tersebut. Risiko dapat dikelola dengan berbagai pendekatan, istilah yang umum biasa disebut sebagai Risk Management. Risk Management biasa dimulai dari pemaparan semua risiko bawaan yang ada dari semua kondisi pada suatu obyek. Misalnya pada obyek pekerjaan perawatan jembatan ini, semua kelemahan bahan, manusia pelakunya, prosedurnya, mesin yang digunakannya serta lingkungan alamnya diuraikan sedetil mungkin hingga elemen paling kecil. Misalnya kabel sling, kabel sling memiliki kelemahan akan menjadi putus jika ditarik melebihi batas tarikan yang diijinkan, ini disebut inherent risk atau risiko bawaan.

Risiko bawaan ini kemudian dinilai berapa besar dampaknya (impact) dan kemungkinannya (possibility) dan kemudian disimpulkan berapa tingkat risikonya dengan mengalikan keduanya. Jika risikonya belum diterima (unacceptable), maka perlu adanya upaya mitigasi atas risiko tersebut, misalnya dengan memastikan bahwa pengukuran tagangan kabel dilakukan secara real time, sehingga pengawas diharapkan dapat mengetahui kapan kabel tersebut akan melewati batas maksimalnya.

Kontrol tambahan dapat diberikan jika ternyata pengawas atau petugas yang ada kemudian tidak dapat mengendalikan pengurangan beban secara tiba-tiba jika ternyata penambahan beban begitu cepat, misalnya karena kendaraan yang lewat tiba-tiba sangat banyak atau ternyata kabel baut pengikatnya tersedat dan menyebabkan hentakan besar. Mitigasi dapat dilakukan dengan cara memastikan tidak ada kendaraan lewat pada saat dilakukannya perawatan, atau dengan cara teknik lain yang diketahui.

Jika ternyata rencana mitigasi risiko ini masih juga belum diterima, maka pemilik pekerjaan wajib melakukan treatment plan hingga risiko dapat diterima. Semua risiko dituangkan dalam sebuah format yang mudah dimengerti dengan memperhatikan biaya yang ditimbulkan dan kemudahan pelaksanaannya.

Nah, tanpa mengurangi rasa syukur kita kepada Allah SWT. karena memberikan kita daya pikir sehingga membuat kita bisa bertahan hidup, maka risk management patut kita lakukan pada setiap pekerjaan yang berdampak besar, termasuk salah satunya contoh pekerjaan perawatan jembatan tersebut. Bukan berarti bahwa kita telah mencoba mendobrak takdir, namun inilah yang disebut berjuang dan berdoa. Semoga kita dihindarkan dari berbagai bencana termasuk bencana yang diakibatkan oleh kelalaian kita sendiri, Amin. (abharto/092012)

Leave a Reply