9 October

Ditulis di Opini | Tidak Ada Komentar

Melupakan Musibah

Tatkala runtuhnya Jembatan Mahakam di Kutai Kartanegara menjadi peristiwa mengharukan yang tidak bisa dilupakan begitu saja oleh semua pihak yang menjadi korban, orang-orang yang selamat kemudian berandai-andai. Andai jembatan itu tidak diperbaiki, andai jembatan ditutup sebelum dilakukan perbaikan, andai semua orang menggunakan pelampung, andai jembatan itu tidak ada, dan seribu satu andai-andai yang lain.

Salah satu wise word menyatakan “Jangan belajar insiden dari insiden diri, belajarlah dari insiden orang lain.” mengingatkan kita agar jangan menunggu insiden terjadi pada diri kita untuk menjadi pelajaran di masa mendatang, namun belajar dari apa yang telah menimpa orang lain agar tidak sampai berulang pada kita.

Sisi lain dari mengingat insiden adalah melupakannya. Hal ini cenderung terjadi pada pihak-pihak yang menjadi korban dari insiden itu. Melupakan insiden dapat menyembuhkan berbagai dampak psikologis yang diakibatkan. Kesedihan berlama-lama hingga gangguan kesehatan mental dapat terjadi jika pihak-pihak korban terus selalu meratapi kepergian orang-orang yang mereka cintai.

Lalu, bagaimana menyikapi suatu insiden tanpa terus mengingat kehilangan orang-orang yang kita cintai, namun tetap bisa belajar menghindari insiden agar tidak berulang kepada kita yang ditinggalkan? Kita patut mengingat kembali misi kita sebagai makhluk yang diciptakan oleh Sang Khalik, memiliki tanggung jawab untuk memelihara kesinambungan hidup agar kita bisa menjalankan ibadah kepada-Nya dengan sebaik-baiknya.

Pertama sekali adalah bahwa kita wajib bersyukur karena kita sendiri bisa terhindar dari musibah. Kedua, yakin bahwa musibah yang terjadi pasti atas ijin yang telah diberikan oleh-Nya, tak ada selembar daun yang jatuh pun yang lepas dari ijin oleh-Nya. Ketiga, meneruskan tugas dan tanggung jawab mereka yang meninggalkan kita termasuk dengan cara menyampaikan kondisi-kondisi bahaya kepada pihak-pihak yang belum mengerti, agar mereka juga bisa terhindar dari insiden berulang.

Namun, mari kita lihat apa yang telah dilakukan oleh kita dan penentu kebijakan publik khususnya di daerah dimana Jembatan Mahakam runtuh. Sudah merupakan kebijakan yang tepat untuk memberikan infrastruktur pengganti jembatan agar masyarakat bisa terbantu menjalankan kehidupannya, dan agar roda perekonomian daerah tidak terganggu. Namun jika kita lihat pada gambar di atas, kapal feri pengangkut kendaraan kecil, sepeda motor dan penumpang, tidak dilengkapi dengan alat keselamatan diri khususnya pelampung.

Bayangkan apa yang terjadi jika kapal feri yang mengangkut mereka juga tenggelam, apakah para penumpang dipastikan bisa berenang? Apakah di kapal feri sudah disediakan kapal skoci darurat? Hmmm, kendaraan boleh dicari, bisa dibeli, bahkan kadang dijamin asuransi. Namun, apa yang akan dikatakan media ketika insiden ini terjadi, apa yang akan ditanyakan oleh Sang Khalik untuk mempertanggung jawabkan segala tindakan kita menyia-nyiakan usia yang telah diamanahkan kepada kita? (abh/102012)

Tinggalkan Pesan

Anda harus logged in untuk mengirim pesan.

Agus Budi Harto - Copyright © 2012 | All rights reserved.