Menaklukkan Negeri Kurcanesia

Berawal dari sebuah kondisi dimana Kurcanesia kaya akan sumber daya alam, letaknya diĀ  daerah tropis dan terdiri dari banyak pulau. Interaksi antar penduduk yang dibatasi oleh lautan menyebabkan keberagaman, sehingga Kurcanesia kaya akan suku dan bahasa. Memerlukan upaya keras untuk menyatukan keberagaman hingga menjadi sebuah satu negara.

Suku bangsa Kurcanesia memiliki bentuk tubuh relatif lebih pendek dari kebanyakan orang-orang dari bangsa yang sudah maju, kulitnya tampak agak kusam, mulai dari kuning langsat hingga hitam kelam. Kecerdasannya relatif tidak diperhitungkan oleh negara lain, karena education path-nya tampak tidak terpola.

Bentuk pemerintahannya republik dipimpin oleh seorang presiden dibantu dengan menteri-menteri. Suara rakyat diwakili oleh sebuah majelis permusyawaratan, dengan harapan aspirasi seluruh rakyat Kurcanesia dapat disampaikan melalui majelis ini. Langkah eksekusi presidensial juga kudu mendapat persetujuan dari majelis ini sebagai kendali mutu pemerintahan.

Kekayaan sumber daya alam menjadi pemicu munculnya ide-ide kaum kapitalis untuk menaklukkan negeri Kurcanesia. 4 sampai 5 abad yang lalu, Negeri Kurcanesia sudah dijajah oleh negeri kapitalis. Sumber daya alam dijarah dan penduduknya dibuat menderita hingga penjajah berhasil membuat mental penduduk Kurcanesia menjadi kerdil lebih kerdil dari ukuran tubuhnya.

Belum seabad yang lalu negeri Kurcanesia merdeka. Kemerdekaan ini diperoleh dengan tumpahan darah para pejuang dan doa kepada Sang Maha Pencipta. Namun menjadi negeri merdeka tampaknya tidak semudah apa yang dibayangkan ketika mereka sedang dijajah. Negeri Kurcanesia membentuk sebuah negara berbekal pengetahuan dan mental kurcaci yang diwariskan oleh para penjajah.

Yap, benar sekali! Penduduk Kurcanesia merasakan betapa memilih pemimpin amatlah sulit. Seperti kebanyakan penduduk sebagai pengikut, setiap pemimpin dan wakil rakyat yang mereka pilih selalu berpikir kerdil tidak lepas dari suku bangsa mereka sebagai bangsa kurcaci. Daya pikir para pemimpinnya tidak sampai kepada pemikiran mensejahterakan rakyatnya, hampir semua pemimpinnya berpikir bagaimana menjadi berkuasa dan kaya ala seorang penjajah negerinya dulu.

Negeri kapitalis lain selalu ingin kembali menguasai Negeri Kurcanesia ini. Termasuk sebuah negeri adidaya bernama Amrinesia. Amrinesia dianggap sebagai negara yang paling berpengaruh di dunia, namun sekaligus menjadi pelopor gerakan Hak Asasi Manusia. Kampanye perdamaian dunia selalu digalakkan, namun semua negara di dunia harus tetap di bawah kendalinya. Gerakan kelompok-kelompok yang menentangnya disebut sebagai kelompok teroris dan harus dibumi-hanguskan.

Upaya untuk menaklukkan Kurcanesia tidak boleh dengan kekerasan. “Kita tidak boleh menyerang negara lain termasuk Kurcanesia ini dengan senjata, karena kita adalah negeri adi daya yang dikenal sebagai negeri kuat tapi santun dan menghargai hak asasi manusia,” ucap pemimpin negeri Amrinesia ini pada suatu pertemuan militer strategis kenegaraan.

Strategi penaklukan negeri Kurcanesia
“Selundupkan minuman keras ke Negeri Kurcaci, agar para pemudanya terlena dan menghabiskan waktunya dengan minuman dari neraka ini!,” seru pemimpin negeri Amrinesia. Minuman keras kemudian menjadi minuman favorit para pemuda di Kurcanesia, hingga negeri Kurcanesia tidak memiliki satupun penerus perjuangan mensejahterakan penduduk. Pemimpinnya pun haus akan minuman melenakan ini dan tidak ada strategi jitu yang dihasilkan dari kepemimpinannya.

Segelintir penduduk masih ada yang taat kepada ajaran agama yang mengharamkan minuman neraka ini. Alhasil mereka berhasil menelorkan Undang-undang yang melarang minuman keras. Para pemimpin Amrinesia kecewa karena upaya penaklukan ini gagal di tengah jalan. “Segera bikin serangan baru, kirimkan tayangan pornografi dan narkotika ke negeri Kurcanesia!.”

Akses internet menjadi salah satu media serangan ini, para pemuda Kurcanesia pun kelimpungan dengan serangan yang tidak diduga ini. Para pemuda kembali asyik dengan tayangan wanita dan narkotika yang tidak disadari seolah memanjakan, namun ternyata merusak pikiran jernih, otak jenius yang dimiliki.

Penduduk yang memiliki iman yang kuat kemudian makin geram akan tingkah negeri Amrinesia ini. Beberapa diantaranya hingga bertingkah tanpa kendali dan dianggap teroris oleh negeri Amrinesia. Mereka dicari, dipenjarakan dan bahkan dibunuh. Untungnya penduduk Kurcanesia yang memiliki iman yang kuat tetap berhasil menelorkan Undang-undang anti pornografi dan narkotika.

Kini, negeri Amrinesia hampir putus asa dibuatnya. “Masih ada satu celah lagi untuk menaklukkan negeri Kurcanesia, buat kampanye sosialis melalui fasilitas social networking. Buat aplikasi seapik mungkin agar penduduk Kurcanesia merasa aman, tenang dan nyaman serta tidak mungkin dilarang oleh pemimpinnya!” seru pemimpin negeri Amrinesia itu.

Alhasil, negeri Kurcanesia saat ini diambang keterpurukan akibat kehausan akan generasi yang enerjik, pintar, jenius, stratejik untuk memikirkan masa depan Negeri Kurcanesia. Para pemudanya lebih asik memelototi layar mungil berisikan media social networking, bahkan dengan anggota keluarganya sendiri di dekatnya mereka tidak peduli!

Harga seorang ilmuwan di negeri Kurcaci hampir tidak terdengar. Cita-cita seorang anak kecil pun hampir tidak ada yang berminat untuk menjadi pelopor-pelopor kemajuan negeri Kurcaci. Tayangan televisi dan berita semuanya terfokus ke arah selebritis, enfotania. “Mah, aku mau jadi seperti selebritis-selebritis di Tivi-tivi itu, cantik, kaya, mudah mencari uang, sehari gaji mereka bisa seratus kali lipat gaji sebulan Papa!,” begitu ucapan seorang putri balita yang kemudian diiyakan Mamanya.

Pelajaran bagi kita
Kasihan negeri Kurcaci itu. Rekan, mari kita pahami kondisi negeri ini dan upayakan yang terbaik agar negeri ini tidak seperti negeri Kurcaci. Tokoh dan cerita dalam kisah ini bukan kisah sebenarnya, dibuat hanya untuk menjadi pencerahan bagi kita sebagai calon-calon penerus perjuangan bangsa demi kesejahteraan anak cucu kita, dan kedamaian bagi seluruh umat di dunia. (abh/112012)

Leave a Reply