Penyebar Foto Novi

Masih terngiang dalam ingatan kita kasus mobil yang menabrak 7 orang yang dilakukan oleh seorang wanita menggunakan mobil Honda Jazz merah. Kasus tabrakan ini dapat dikatakan tidak biasa karena dilakukan oleh seorang wanita dengan kondisi hampir tanpa busana.

Tanpa mendalami bagaimana terjadinya, namun kondisi pengemudi ini telah menarik perhatian banyak pihak termasuk beberapa orang yang sedang berada di lokasi saat kejadian, dan di ruang tahanan sesaat setelah pengemudi diamankan di ruang tahanan.

Beribu pasang mata segera mengetahui kejadian ini melalui media televisi, tampak pengemudi yang diketahui bernama Novi Amalia tengah digotong oleh seorang Ibu berkerudung dan kondisi Jazz merah dalam kondisi ringsek di bagian kiri depan.

Tak lama kemudian segera muncul gambar-gambar kejadian tersebut di internet namun dengan tambahan gambar lain yang tidak dipublikasikan di televisi. Gambar pengemudi dalam ruang tahanan tampak sedang out-of-control dengan kondisi hampir tanpa busana.

Penyebaran gambar berkonten pornografi tersebut tentunya tidak pantas untuk dipublikasikan dan pelakunya berpotensi melanggar UU-ITE. Mari kita simak Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik no. 11 tahun 2008:

Pasal 32 ayat (3) :”Terhadap perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang mengakibatkan terbukanya suatu Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang bersifat rahasia menjadi dapat diakses oleh publik dengan keutuhan data yang tidak sebagaimana mestinya.”

Pasal 48 ayat (3): “Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).”

Proses penyebaran foto-foto tersebut sedang dalam proses penyelidikan oleh pihak berwajib, namun terlepas dari hal tersebut patut kita sadari bahwa obyek foto tersebut sudah berada dalam lingkungan yang dapat dikatakan aman, berada di suatu bangunan dengan penjagaan ketat, dalam ruangan yang hanya pihak yang berwenang yang diijinkan.

Dalam suatu siklus pengamanan data, terdapat 3 unsur besaran yang menjadi perhatian; metode, teknologi dan manusia. Metode dapat direpresentasikan oleh undang-undang serta aturan pelaksanaan terkait, teknologi dapat direpresentasikan oleh berbagai media pengamanan seperti CCTV, alarm, dlsb. serta manusia pelaksananya.

Dalam kaidah pengamanan data, manusia merupakan unsur terlemah dalam siklus ini. “Human is the weakest link.” Meski 2 unsur lain sudah diberikan kekuatan penuh dengan biaya yang tidak terbilang kecil, namun jika manusianya tidak peduli terhadap keamanan data, maka semuanya menjadi sia-sia.

Foto-foto sudah terlanjur tersebar bagai kapas yang ditiup ke udara dan menjadi mustahil untuk dikendalikan. Siapapun pelaku penyebarannya, semoga kita bisa menjadi manusia bijak yang tidak akan menjadi bagian dari peredarannya sehingga kita bisa terhindar dari jerat hukum UU-ITE tersebut di atas. (abh/112012)

Leave a Reply