26 December

Ditulis di Kisah | 1 Komentar

Dampak Kepemimpinan Otoriter

OtoriterPada sebuah acara pertemuan tahunan, saya melihat sebuah kondisi dimana kepala seksi (Kasi) pada sebuah perusahaan terlihat piawai menyampaikan segala perkembangan yang terjadi pada seksi yang dipimpinnya. Perkembangan seksi disampaikan secara runtun, mulai dari segala permasalahan yang terjadi, tindakan perbaikan yang dilakukan hingga usulan kepada pejabat di atasnya terasa berbobot.

Akibat positif dari apa yang telah dilakukannya, penilaian kinerja terhadap Kasi sudah barang tentu menjadi jauh lebih baik dari rekan setingkat yang berada di lokasi lain, dimana meski mereka telah menelorkan banyak produk operasional, namun karena kurangnya pengetahuan akan cara meyakinkan pejabat di atasnya, rekan-rekannya mendapat penilaian kinerja yang tidak lebih baik dari Kasi yang satu ini.

Pada suatu kunjungan yang tidak ditujukan khusus untuk melakukan penilaian kinerja terhadap Kasi ini, target pekerjaan saya tentunya diluar dari hal-hal di atas. Saya justru melihat sisi lain dibalik kesuksesan yang didapat oleh sang Kasi. Kesan pertama yang saya rasakan adalah pada saat saya memerlukan dukungannya untuk memberikan guidance bagaimana prosedur masuk ke lokasi kerjanya sebagai tamu, justru hal ini diserahkan secara penuh kepada bagian di bawahnya, sementara telepon genggamnya tidak aktif, meski saya tidak tahu bagaimana cara menghubungi bawahannya tersebut karena belum pernah mendapatkan nomor telepon genggamnya.

Keesokan harinya ketika pertama kali saya dan tim bertemu dengan sang Kasi, kalimat pertama yang saya dapatkan adalah arahan dari sang Kasi untuk menghubungi bawahannya, sebut saja namanya Tole, bahwa si Tole lah yang bertanggung jawab terhadap pemenuhan dari kegiatan yang akan saya lakukan. Terasa sekali sikap tegasnya, menunjukkan bahwa sang Kasi adalah seorang yang berkarakter pengarah.

Dalam sehari si Tole beberapa kali mendapat arahan-arahan dari sang Kasi, mulai dari nada mengarahkan hingga nada cemoohan atas hasil kerjanya. Demi melihat wajah kami yang diliputi ‘rasa tertekan’ atas sikap sang Kasi terhadap si Tole, sang Kasi menerangkan, “Disini kita harus keras menghadapi mereka, jika memang salah, hajar aja. Gak usah sungkan kepada saya sebagai atasannya, kesalahan itu gak bisa ditolerir supaya tidak berulang,” ucapnya dengan tertawa puas.

Pada suatu pagi dimana kami biasa dijemput oleh sang Kasi bersama sopir setianya seperti biasa, di baris tempat duduk paling belakang mobil tampak sudah berisi 3 orang anak buah sang Kasi yang ketinggalan kereta alias ketinggalan jemputan. Satu orang harus turun karena tidak muat, dan orang tersebut menjauhi mobil, menghilang mencari tumpangan yang lain. “Hei, dimana teman kalian yang tadi,” bentak sang Kasi kepada ketiga orang anak buahnya itu.

Ketiga orang anak buah tersebut seperti ragu-ragu menjawab pertanyaan sang Kasi yang terkesan galak. “Hei! kalian punya telinga tidak? Apa kalian tuli!!,” bentak sang kasi sekali lagi. Salah satu dari ketiganya menjawab dengan pelan, sedikit gemetar karena takut salah, “Maaf Pak, saya tidak tahu kemana perginya, ditelpon juga gak diangkat,” jawabnya dengan tertatih.

Kejadian di atas ternyata hanya sebagian kecil dari cara memimpin sang Kasi yang dirasakan oleh seluruh anak buahnya sejak sang Kasi menjabat atasan mereka setelah dipindahkan dari lokasi lain. Beberapa anak buahnya yang kebetulan harus melayani mendukung kegiatan kami termasuk si Tole, menyatakan sudah tidak betah dengan tingkah laku sang Otoriter.

“Saya termasuk salah satu dari tiga orang yang diisukan akan mengundurkan diri pada awal tahun depan Pak, Ujang dan Ujo juga begitu,” curhatnya pada suatu kesempatan. “Kami selalu disalahkan, kami tidak pernah diakui benarnya, sang Kasi memang pintar, terutama pintar mencari kesalahan kami untuk menutupi kekurangannya,” lanjutnya. “Si Kasi itu gak pernah kerja, gak tahu apa-apa, tahunya nyuruh, bentak dan menyalahkan kami,” ujarnya sedih menambahkan.

Tipe-tipe Kepemimpinan
Banyak literatur baik berupa buku maupun e-book yang bisa kita baca secara online mengenai tipe-tipe kepemimpinan. Tipe kepemimpinan umum yang paling banyak dibicarakan adalah Otoriter, demokrasi dan kepemimpinan bebas. Saya tidak akan membahas lagi mengenai tipe-tipe kepemimpinan ini. Namun dari kisah yang saya alami di atas, si Kasi hampir bisa disimpulkan sebagai tipe pemimpin yang otoriter.

Tipe otoriter disini disamping dampak positif yang dihasilkan termasuk diantaranya keteraturan dan pemenuhan berbagai aturan organisasi yang menjadi lebih mudah untuk dipatuhi, jika otoriternya tidak berlebihan maka akan membawa dampak perbaikan mental bagi segenap bawahan yang menjadi tanggung jawabnya. Pengalaman menunjukkan bahwa beberapa pemimpin otoriter dapat menghasilkan pemimpin-pemimpin baru yang tentunya tidak jauh dari otoriter.

Tipe Kepemimpinan, nilai inti organisasi dan kepuasan karyawan
Kepuasan karyawan sudah barang tentu tidak dapat dinilai dari seberapa besar take-home-pay yang mereka dapatkan. Kepuasan dapat dilihat dari seberapa besar karyawan loyal alias betah berlama-lama bekerja dalam organisasi, seberapa besar semangat mereka menikmati pekerjaannya yang kemudian dapat berdampak kepada peningkatan profit organisasi.

Beberapa literatur menyatakan bahwa hubungan dari 3 hal di atas adalah bahwa tingkat kepuasan karyawan dapat dikendalikan dengan internalisasi nilai-nilai inti perusahaan yang kemudian akan ditambahi pengaruh dari tipe kepemimpinan dari sang pemimpin di area kerjanya. Saya kemudian membayangkan betapa meruginya suatu organisasi yang telah membiayai sebuah proyek nilai inti perusahaan ternyata hancur hanya diakibatkan oleh seorang pemimpin dengan gaya otoriter.

Sikap otoriter harus dikendalikan
Bagi seorang yang dilahirkan dengan karakter otoriter, tidak dapat dielakkan lagi bahwa karakter ini harus diperkaya dengan pemahaman potensi dampak yang dapat ditimbulkan oleh tingkah polahnya. Beberapa hal yang harus dikendalikan antara lain; hindari untuk mengucapkan kata-kata tidak senonoh yang bagi sebagian besar orang merupakan pembunuhan karakter alias character assassination, seimbangkan antara kalimat tuduhan yang menjatuhkan dengan kalimat memuji yang bisa memicu tumbuhnya kreativitas.

Sebagai makhluk sosial, saya berusaha memberikan dukungan terbaik mengenai sikap born-to-win kepada beberapa diantara ketiga bawahan sang Kasi di atas, bahwa apa-apa yang tidak bisa membunuh kita betapapun kuatnya, pasti akan membuat kita lebih kuat, bahwa melarikan dari masalah tidak berarti tidak akan bertemu lagi dengan pemimpin yang otoriter, agar bisa menjadikan pengalaman hidup ini sebagai landasan menghadapi kesuksesan di masa mendatang. (abh/122012)

Tags:

One Response to “Dampak Kepemimpinan Otoriter”

Tinggalkan Pesan

Anda harus logged in untuk mengirim pesan.

Agus Budi Harto - Copyright © 2012 | All rights reserved.