10 December

Ditulis di Kisah | 1 Komentar

(Siapa bilang) Lapas itu Penjara

Penjara kini dikenal sebagai Lembaga Pemasyarakatan atau Lapas, tempat untuk mendidik para narapidana sebelum siap dikembalikan ke masyarakat. Bagi kita sebagai bagian masyarakat yang patuh hukum, Lapas merupakan tempat yang amat mengerikan, tempat yang wajib untuk dihindari dan oleh karenanya kita harus tetap taat kepada hukum yang berlaku.

Beberapa waktu yang lalu, ada seorang teman yang memberikan kesempatan kepadaku untuk mengunjungi temannya yang ada di penjara. Sebut saja Pak Adul, teman karibnya yang kini harus mendekam di Lapas karena terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi merugikan negara sebesar 300 Miliar Rupiah. Pak Adul didakwa dengan hukuman penjara selama 5 tahun karenanya.

Aku tidak pernah mengenal Pak Adul sebelumnya, namun wajahnya sering muncul di lembar media massa sebagai tokoh masyarakat ketika sedang meresmikan fasilitas-fasilitas publik seperti jembatan dan jalan. Maklum karena rasa sosialnya yang tinggi sebagai pengusaha lokal, Pak Adul kemudian terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah di suatu Kabupaten. Mendengar namanya, maka aku tertarik untuk ikut menjenguknya di suatu Lapas di ibukota negara ini.

Menapakkan kaki di pintu pagar Lapas merupakan hal tabu bagiku, perasaan aneh, berdebar melangkahkan kaki melewati jalan-jalan di samping bangunan tinggi dilengkapi pagar kawat berduri. Beberapa orang tampak sedang turun dari angkutan kota sambil membawa rantang dan bawaan bekal lainnya. Pasti mereka adalah anggota keluarga dari narapidana di Lapas ini yang hendak mengunjunginya.

Aura negatif menyelimuti wajah-wajah mereka, sesekali tampak perbincangan serius di antara para pengunjung. Ada yang termenung menatapkan wajahnya ke tembok bisu, ada yang memegang kepalanya sambil tertunduk, ada yang mencoba berusaha menenangkan balitanya yang digendong meronta menangis minta pulang. Langit memang sedang cerah, hingga plastik kanopi atap di atas mereka tidak banyak membantu meringankan kegelisahan mereka dari teriknya matahari. Arloji di tanganku menunjukkan waktu jam 09:00 WIB, matahari memang sedang mulai bersemangat untuk memancarkan panasnya.

Beberapa langkah kemudian di bagian dalam lokasi, tampak berjejer duduk para pengunjung lain sedang antri menunggu panggilan masuk. Dari pakaiannya tampak mereka kurang beruntung dalam hidupnya, kerudung wanita-wanita tua warna-warni, celana levis anak-anak lelaki balita yang digendong, Bapak-bapak tua dengan kopiah hitam yang tidak lagi baru, sendal jepit dengan merek yang sudah tidak tampak tergerus oleh gesekan dengan tanah-tanah yang mereka lewati, meyakinkanku bahwa mereka tidak seberuntung apa yang dicita-citakannya.

Panjang antrian kira-kira ada sekitar 50 meter, kubilang pada teman mungkin kita akan terlambat bertemu dengan Pak Adul, jika harus menunggu giliran dipanggil oleh petugas pemanggil. Temanku segera mengeluarkan hape dan menelepon Pak Adul, “Langsung aja ke penjaga di pintu besi, gak usah antri, bilang pada petugas akan menemui Pak Adul.” Benar saja, kami berdua disapa dengan ramah oleh petugas, “Pak Adul sudah menunggu di lantai 2, silahkan masuk,” ujarnya.

Petugas berbaju dinas lengkap dilengkapi senjata api di pinggang, ternyata jauh lebih santun daripada ketika memanggil satu persatu pengunjung lain. Sepertinya Pak Adul sudah banyak dikenal oleh petugas Lapas dan mungkin telah menotifikasi petugas bahwa tamunya sedang menunggu di luar, sehingga kami masuk tampak lebih mudah daripada pengunjung lain.

Melewati pintu besi, kami diarahkan ke petugas yang sedang menggeledah setiap pengunjung yang masuk. Satu persatu diperiksa, pengunjung pria oleh petugas pria, dan pengunjung wanita oleh petugas wanita. Harus begitu karena memeriksanya cukup ketat termasuk memastikan tidak ada barang terselip diantara baju yang dipakai pengunjung. KTP dan hape kami harus ditahan tidak boleh dibawa masuk. Mungkin ini dimaksudkan agar hape tidak diselundupkan ke dalam Lapas.

Kami segera diarahkan ke lantai 2, disana sudah tampak sosok Pak Adul yang ku hanya bisa lihat sebelumnya melalui media massa, duduk santai di kursi di antara meja dan kursi lain yang biasa digunakan oleh para pengunjung untuk mengunjungi keluarganya. “Ini adalah ruang pelatihan, dibagi per kelas dan sering digunakan untuk berbagai tujuan pelatihan. Hari ini tidak ada pelatihan, makanya kita bisa santai ngobrol di sini, gak apa-apa kan?” ujarnya dengan wajah berseri.

Baru tahu bahwa Pak Adul adalah sosok yang memang berwibawa, memiliki kharisma, tampak tenang dan amat meyakinkan. Pandangan matanya menunjukkan bahwa beliau memiliki visi yang kuat, memiliki pengaruh dan tegas. “Mataku agak kemerahan, maklum disini kan gak ada kegiatan, tidur melulu bawaannya, hehehe..” ucapnya sambil berkelakar.

Temanku mulai bercerita, “Maaf Pak, saya tadi sudah sms ke Bapak sebelum kesini, apakah saya boleh membawa teman, Alhamdulillah Bapak mengijinkan, dia namanya Agus, temanku.” Sekejab aku langsung berfikir, oh ternyata temanku ini sudah mendapat ijin untuk mengajakku kesini. Dan, barangkali sesuai urutan pengaruh dan kekayaan, Pak Adul harus memberikan ijin dulu di atas ijin-ijin tingkat di bawahnya, ha..ha..ha..

“Kapan terakhir ketemu Ibu Pak? Apa sejak ditetapkannya keputusan pengadilan itu?” Pak Adul tampak tersenyum tenang. “Minggu kemarin,” jawabnya singkat. “Untuk bisa bertemu keluarga, saya hanya perlu meminta surat dokter berwenang, cuman 400 ribu biayanya, jika perlu menginap, semalam saya dikenakan biaya 4 juta rupiah, gak seberapa sih kalo demi kepentingan keluarga.”

“Lalu nginapnya dimana Pak?” tanya temanku. “Hah, dimana aja bisa, hotel di Jakarta kan banyak, yang penting ga kena jepret kamera wartawan, bisa runyam nanti. Saya juga didampingi oleh sipir, cukup ngasih 200 ribu saja sekali jalan, yang penting saya kan gak akan lari kemana-mana. Anggap aja ini kantor, kan bisa bawa laptop untuk kerja disini.” Tegasnya meyakinkan. “Pak Adul, nanti kalo saya ijinkan keluar, jangan dekati Mall besar seperti Grand Indonesia ya, yang agak jauh sana misalnya ke Cibubur kalo mau jalan-jalan dengan keluarga, begitu pesan dari petugas,” Pak Adul menambahkan.

“Betah nggak disini Pak?” temanku melanjutkan bertanya. “Disini ada universitas dengan fakultas hukum, napi yang berminat dan mampu boleh melanjutkan kuliah disini. Jadi bisa mengisi waktu dengan sesuatu yang berguna.” Jawab Pak Adul. “Sekamar berapa orang Pak? Katanya bisa 8 orang ya?” tanyaku. “Saat saya masuk Lapas, saya berkesempatan untuk menyewa ruangan Lapas agar bisa sendirian sekamar, biayanya 40 juta di awal, dan ada biaya tambahan pertahun,” terangnya.

“Ada seorang napi masih remaja penghuni Lapas narkotika yang biasa saya sewa untuk membantu saya membelikan rokok di luar, karena napi narkotika anak-anak di sini yang tidak produktif pada masa tertentu pasti dipindahkan ke Nusa Kambangan, jadi anak itu beruntung jika produktif seperti ini disini,” cerita Pak Adul.

“Wah, 5 tahun itu lama banget ya Pak,” celoteh temanku. “Ada 2 opsi untuk bisa keluar instan dari sini, membayar uang terima kasih ke Hakim dan Jaksa kira-kira 1M, atau membayar uang administrasi untuk merubah arsip putusan pengadilan, ini agak mahal, 1,2M kira-kira. Yah, jika perusahaan yang baru kudirikan sudah mulai beroperasi bulan depan, pasti langsung saya bayar,” beliau meyakinkan.

Rekan pembaca Yang Terhormat, semoga cerita di atas hanya fiksi, semoga Pak Adul hanya bercanda dan bukan cerita sebenarnya. Namun bagaimanapun, jangan pernah mencoba-coba melanggar hukum, karena penjara dapat menjadi tujuan berikutnya. Jikapun ternyata cerita Pak Adul di atas adalah benar adanya, maka Lapas adalah tetap benar-benar penjara, setidaknya Anda harus kaya sebelum bisa hidup di Lapas senikmat Pak Adul. (abh/122012)

Tags:

One Response to “(Siapa bilang) Lapas itu Penjara”

  1. fadelix says:

    Seperti lagu GnR Pak, welcome to the jungle

Tinggalkan Pesan

Anda harus logged in untuk mengirim pesan.

Agus Budi Harto - Copyright © 2012 | All rights reserved.