Menjadi Bawahan Yang Baik

Pada sebuah seminar bertema upaya meningkatkan kinerja menggunakan otak kanan, Ippo Santosa menyampaikan pentingnya semua bagian dalam sebuah organisasi. Steve Jobs tidak mungkin melakukan semuanya sendirian, Bill Gates tidak mungkin bekerja sendirian. Ippo kemudian bertanya kepada peserta seminar, “lebih penting mana apakah atasan atau bawahan?” Setelah mendapatkan jawaban bervariasi dari para peserta, akhirnya Ippo menjelaskan, “Gak mungkin orang keluar rumah tanpa bawahan, namun sebagian pria di pantai ada yang tidak menggunakan atasan tanpa masalah,” ujarnya berkelakar.

Saat ini kita banyak melihat slogan, ajakan, motivasi, kata-kata bijak dll. mengenai leadership, seperti Yamaha Semakin di Depan, How to be a leader, Leadership Quotations, dan masih banyak yang lain. Banyak hal positif yang bisa kita rasakan ketika kita diajak untuk menjadi pemimpin, setidaknya untuk menjadi pemimpin bagi diri sendiri. Pada sebuah tanya jawab dalam lomba kegiatan peningkatan kualitas bertajuk leadership, seorang juri bahkan menyatakan keraguannya akan hasil dari lomba leadership ini, bahwa mencetak pemimpin itu baik, namun apakah yang akan terjadi jika semua orang menjadi pemimpin?

Pertanyaan tersebut bisa menciptakan polemik, namun jika kita interpretasikan secara dalam, bahwa menjadi pemimpin itu adalah suatu kesempatan, dan kesempatan itu tidaklah serta merta dimiliki oleh setiap orang. Untuk menjadi pemimpin diperlukan kesiapan, dan ketika kesempatan itu datang maka hanya orang-orang yang siaplah yang bisa mendapatkan kesempatan itu.

Jika maksud dari kata pemimpin itu adalah atasan, maka pasangannya adalah bawahan. Jika pemimpin itu diciptakan dari para bawahan, maka selain belajar banyak mengenai kepemimpinan, kita sebagai bawahan haruslah menjadi bawahan yang baik. Tidak mungkin seorang pemimpin dipilih atau ditunjuk karena kita telah gagal menjadi bawahan. Tidak mungkin seorang bawahan yang tidak bisa mengendalikan diri misalnya tidak bisa mengendalikan emosi, mudah marah di depan orang banyak, kemudian dipilih menjadi pemimpin. Pemimpin yang baik selalu berawal dari seorang bawahan yang baik pula.

Tujuan hidup untuk menjadi pemimpin seringkali melupakan landasan utamanya menjadi bawahan yang baik. Dapat kita bayangkan ketika dalam tim sepak bola semua pemain 11 orang termasuk keeper maju ke depan ke daerah lawan untuk berebut memasukkan bola, berebut menjadi pemimpin,  nggak ada satupun yang berjaga di belakang. Pertahanan belakang sudah pasti rapuh, lawan hanya tinggal melempar bola ketempat kita, tidak perlu berjuang dan tinggal memasukkan bola ke dalam gawang kita, Goal! Jadi, sebelum mempersiapkan diri menjadi pemimpin, jadilah bawahan yang baik terlebih dahulu.

Ciri Bawahan Yang Baik
Bawahan yang baik dapat dilihat dari beberapa hal yang tidak terbatas pada hal-hal di bawah ini:

Mengetahui dan melaksanakan aturan yang berlaku. Organisasi dimana seorang bawahan bekerja, pasti memiliki aturan-aturan yang mengatur agar pekerja dan organisasi dijamin hak-hak dan kewajibannya. Seorang bawahan yang baik, harus mengetahui segala aturan yang ditetapkan organisasi termasuk perjanjian kerjanya, serta dengan sadar melaksanakan aturan tersebut sebagai bagian dari tanggung jawabnya.

Memiliki pengetahuan dan kemampuan melebihi tanggung jawabnya. Bawahan memiliki tanggung jawab yang sudah ditetapkan oleh organisasi yang biasanya dapat tertuang dalam sebuah uraian pekerjaan (job description). Agar bawahan dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik, bawahan harus memiliki pengetahuan dan kemampuan minimal sama dengan tuntutan dalam uraian pekerjaan, namun bawahan yang baik harus memiliki lebih dari itu, sebab pengetahuan dan kemampuan pas-pasan akan membatasi dirinya dengan peningkatan karirnya.

Dapat cepat menterjemahkan segala hal terkait pekerjaan yang di arahkan oleh atasan. Bawahan akan selalu berkomunikasi dengan atasan, bawahan harus dapat menterjemahkan segala arahan yang diberikan oleh atasan, namun bawahan yang baik dapat menterjemahkannya lebih cepat dan tepat.

Memiliki kreativitas yang tinggi. Organisasi yang baik tak lepas dari adanya perubahan dan perbaikan yang terus-menerus. Bawahan yang baik dituntut untuk memiliki kreativitas yang tinggi. Bawahan yang tidak kreatif hanya akan melaksanakan tugas statis dan tidak mau diajak berubah. Bawahan yang baik dapat mengusulkan terobosan-terobosan baru kepada atasannya, agar organisasi dapat lebih efektif dan efisien.

Dapat mengatur waktunya dengan baik. Bawahan sebagai makhluk sosial, memiliki kehidupan lain di luar waktu kerjanya. Melakukan hobby, berinteraksi dengan keluarga dan kerabat, berolahraga meningkatkan stamina, mengikuti pengajian untuk meningkatkan imannya kepada sang Khalik, adalah kegiatan manusiawi. Bawahan yang baik dapat mengatur waktunya sendiri agar kegiatan-kegiatan tersebut tidak akan mengganggu waktu kerjanya.

Dapat merencanakan dan melaksanakan pekerjaan sesuai target yang ditetapkan. Apa yang diarahkan oleh atasan seringkali hanya merupakan kalimat uraian tugas, bawahan yang tidak baik masih memerlukan petunjuk pelaksanaan (juklak) lebih detil, meminta time-frame dan target dari atasan. Namun bawahan yang baik, dapat merencanakan sendiri apa yang harus dilakukan dan melaksanakannya dengan baik pula.

Dapat mengendalikan diri. Seorang bawahan berinteraksi secara horisontal dengan bawahan yang lain, dan secara vertikal dengan atasan dan bawahannya sendiri jika ada. Bawahan yang baik selalu tahu diri akan batas-batas yang dimilikinya, selalu menghormati atasannya, menghargai rekan kerja dan bawahannya jika ada. Bawahan yang tidak baik kadang harus ditegur oleh atasan, “Emangnya kamu siapa?” kalimat yang tentunya amat memalukan, jangan sampai anak, istri atau kerabat¬†kita sedih jika mereka mendengarnya, ha..ha..ha..

Berpikir lebih cepat dari atasan. Meskipun bawahan memiliki keterbatasan dalam kewenangannya, seorang bawahan yang baik haruslah dapat berfikir lebih cepat mengatasi masalah daripada atasannya. Hal ini diperlukan ketika seorang atasan memiliki kendalan menghadapi suatu masalah, bawahan dapat mengusulkan solusi jika berpikir lebih cepat dari atasan.

Nah, rekan pembaca yang budiman, kesimpulannya adalah bahwa menjadi bawahan yang baik itu relatif tidak mudah, namun dapat dilakukan secara tidak sengaja jika kita memiliki misi memberikan yang terbaik untuk organisasi tempat kita mencari nafkah. Dan, jika Anda ingin menjadi seorang pemimpin, dengan bekal hanya memiliki ciri seorang bawahan yang baik seperti di atas, Anda masih belum patut menjadi pemimpin apalagi menjadi pemimpin yang baik, kecuali berada dalam organisasi yang tidak baik. (abh/012013)

4 thoughts on “Menjadi Bawahan Yang Baik

  1. Atasan saya lbh muda dari saya dan kurang banyak jam terbangnya. Knowledge saya cenderung dimanfaatkannya dan dia juga cenderung mencari aman jika terkena masalah dgn menyerahkan ke anak buahnya. Jadi barangkali sia2 jika saya jadi bawahan yg baik utknya.

  2. Bagaimanakah dengan atasan yang pernah mengatakan kamu tau saya ini atasan kamu.. apakah itu pantas diucapkan meskipun atasan itu yakin banget dg perasaanya kalau bawahannya melawan.
    Apakah ketika bawahan tidak tau sama sekali dengan apa yang ia hadapi bukankah sebagai atasan wajib memberitahu atau mengajarkan apa yg harus dilakukan dan dipersiapkan bila melaksanakan perjalanan jauh..
    Apakah sikap menekankan siapa saya (atasan) itu adalah sikap pemimpin yg efektif.. saya menunggu jawabannya ya

    1. Dewinta yang baik,
      Pertanyaan yang diajukan adalah mengenai bagaimana sikap atasan yang baik, sementara bahasan topik di atas adalah mengenai bagaimana menjadi bawahan yang baik. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya rasa akan lebih komprehensif jika ada artikel lain khusus untuk membahas mengenai bagaimana menjadi pemimpin yang efektif. Tunggu jawabannya di artikel berikutnya ya Dew, silahkan kunjungi selalu situs ini untuk bisa saling berbagi pengetahuan.
      Terima kasih.

Leave a Reply