Price Quality Perception

Harga dan kualitas merupakan sepasang kata yang selalu disebut dalam siklus jual beli. Saat ini jual beli memiliki arti luas tidak hanya sebatas jual beli barang dan jasa. “Ono rego, ono rupo,” bentuk kalimat bahasa jawa untuk mengilustrasikan bahwa jika kita menginginkan barang yang bagus, maka kita harus membayarnya dengan harga bagus pula. Lalu sebenarnya mana yang datang lebih dulu, seperti mencari tahu mana yang lebih dulu lahir, telur atau ayam? Mari kita lihat beberapa paparan aktual di bawah ini.

Thohir seorang tukang ojek yang biasa mangkal di bilangan Monumen Nasional Jakarta Pusat, sedang mendapatkan calon pembeli jasanya untuk mengantarkannya ke suatu tempat. “Berapa ke Bundaran Hotel Indonesia, Bang?” tanya calon penumpang. “Biasa Bu, Dua Lima aja,” jawab Thohir segera menghampiri motornya. “Sepuluh aja, wong saya biasa jalan kaki koq,” ujar si Ibu menawar. Akhirnya Thohir sepakat mengantar si Ibu sambil menggerutu dalam hati. Motor dipacu dengan kecepatan tinggi hingga si Ibu protes, “Koq kenceng amat sih!” Thohirpun menjelaskan “Lha wong harganya ga sampe separuh koq minta slamet.”

Mbok Tilah biasa menjual gorengan di sebuah pojokan Pasar Senin, lapak tempe gorengnya dikenal laris dan cepat habis karena rasanya yang cocok buat lidah orang Indonesia dan harganya yang pas, juga buat saku orang Indonesia. Tempe goreng berukuran sekitar 5 x 7 cm dijualnya seharga seribu rupiah perbuah. Namun karena harga bahan pokok termasuk kedelai, minyak goreng dan terutama gas elpiji makin naik, sementara Mbok Tilah tidak mau kehilangan pasarnya, maka ukuran tempenya pun disesuaikan. “Mbok, koq tempenya makin tipis aja?” tanya seorang pembeli. “Kita harus selalu berinovasi Dik, Mbok sudah bisa beli pisau yang lebih tajem, supaya tempenya bisa lebih tipis dan bumbunya meresap,” timpa Mbok Tilah dengan gaya marketing-nya.

Thohir dan Mbok Tilah merupakan representasi dari para pelaku pasar penjual barang dan jasa yang memutuskan untuk menurunkan kualitas demi menyesuaikan dengan harga yang disepakati. Tujuannya relatif sama, bagaimana tetap sustain menghadapi tantangan pasar yang semakin berat. Di sini tampak jelas terlihat bahwa kualitas benar-benar dipengaruhi oleh harga. Harga datang lebih dahulu sebelum kualitas lahir.

Namun, jangan disimpulkan dulu, sebab pada kondisi lain dapat terjadi keadaan sebaliknya dimana harga ditentukan oleh kualitas. Kita banyak mengenal produk-produk terkenal yang jika kita sebutkan, orang cenderung akan menyebutnya sebagai barang mahal. Tanpa tujuan promosi, sebut saja jam tangan Rolex, mobil Mersi alias Mercedes, perhiasan Berlian, dsb. Konsumen dengan penghasilan di bawah rata-rata akan bereaksi menolak dengan kalimat “Itu mahal” ketika ditawarkan merk-merk tersebut. Istilah bahasa jawanya terbalik menjadi “Ono rupo, ono rego.” Inilah istilah yang biasa di sebut sebagai Price Quality Perception.

Kondisi “Ono rupo, ono rego” ini amat menguntungkan produsen dengan merk-merk terkenal, atau layanan-layanan publik yang sudah terkenal. Dan dampaknya akhirnya merugikan produsen yang baru tumbuh, pengusaha baru dengan modal minimal Misasi alias minjem sana sini. Menumbuhkan kepercayaan konsumen relatif tidak mudah untuk ditumbuhkan, “Bisa membayar gaji karyawan secara teratur aja sudah syukur, apalagi harus bayar promosi produk di tivi seperti merk-merk lain,” ujar Suhud seorang pengusaha muda yang sedang tumbuh.

Iklim seperti di atas tentunya sedikit banyak akan menghambat pertumbuhan negara kita khususnya dari segi ekonomi. Jika kita cinta akan negara kita Indonesia, berdasarkan UUD 1945 Bab XIV tentang Kesejahteraan Sosial, maka tentunya harus ada aturan turunan dari Bab tersebut yang dapat menjadi landasan pelaksanaannya. Mungkin sudah ada namun saya belum menemukannya. Bahwa pengusaha muda atau sebut saja pejuang ekonomi bangsa tidak akan dibunuh secara prematur oleh oknum-oknum pengusaha kaya yang bisa membeli apapun termasuk mengintervensi hukum.

Price Quality Perception di Lingkungan Kerja

Jika kita amati, bahwa Price Quality Perception (PQP) ini juga dapat terjadi dalam lingkungan kerja, karena pekerjaan yang dilakukan seorang karyawan merupakan jasa yang dijual kepada pengusaha pemilik perusahaan. Oleh karenanya muncullah istilah KKN atau Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (bukan Kecil Kecil Nekat). Praktek nepotisme (nepos=keponakan) cenderung dapat terjadi di lingkungan perusahaan keluarga dimana pada posisi top management diduduki oleh keluarga besar dari pemilik perusahaan.

Pemilik perusahaan keluarga dapat cenderung yakin bahwa keluarga dan keturunannya pasti adalah orang yang dapat dipercaya, lebih baik, lebih bagus, lebih jujur, dan kelebihan yang lain. Sehingga sebaik apapun kinerja karyawan bukan anggota keluarga, tidak boleh lebih baik kesejahteraannya daripada karyawan anggota keluarga. Perusahaan bukan keluarga yang juga cenderung mempraktekkan kepercayaan ala nepotisme di atas adalah perusahaan besar yang telah memiliki anak-anak bahkan cucu perusahaan.

Perusahaan induk dapat memiliki strategi mengendalikan anak perusahaan dengan meletakkan orang-orangnya di posisi-posisi strategis anak perusahaan, terutama posisi yang terkait langsung dengan pengendalian keuangan, dan fungsi-fungsi lain yang dianggap perlu. Karyawan-karyawan loyal pada suatu perusahaan alias telah beranak-pinak di perusahaan kadang tidak berharap banyak untuk menduduki jabatan di atasnya, “Gak mungkin bisa naik Mas, posisi di atas saya itu jatah untuk pejabat dari induk perusahaan,” ucap seorang karyawan tanpa mengurangi semangatnya bekerja.

PQP juga dapat terjadi di lingkup lebih bawah dari suatu perusahaan. Sebut saja Adul yang telah 15 tahun bekerja di perusahaan tambang minyak, bermula bekerja sebagai clerk akhirnya bisa menduduki posisi sebagai mandor alias foreman alias pengawas atau apalah namanya. Posisi yang didapatnya adalah semata-mata karena rasa kasihan dari top management atas rasa setianya dan kinerjanya yang baik, tidak pernah salah dan terutama karena si Adul telah hampir memasuki masa pensiun. Wajahnya yang selalu ceria menyenangkan, kulitnya yang mulai keriput dan ubannya yang telah menutupi seluruh kepalanya, membuat atasannya menghadiahkan posisi mandor sebagai bagian dari manfaat pensiun yang tidak cukup untuk makan seperempat bulan.

Pada usia produktifnya dulu, sebenarnya si Adul memiliki kesempatan untuk menduduki posisi sebagai manager di area kerjanya. Namun pada saat proses seleksi pengangkatan, Adul kalah dalam `Seleksi Alam PQP` dimana atasannya memberikan alasan “Wah demi efisiensi biaya, rasanya si Adul jangan dulu dinaikkan, toh dia juga mau-mau saja menerima gaji segitu-gitunya, asalnya aja dari clerk, mungkin jika saat ini digaji sebesar gaji clerk, pasti dia ikhlas. Gak usah, yang lain aja, sebab saat ini sedang tidak ada calon pekerja yang bisa menggantikan dia dan dengan konsumsi biaya seminimal dia!”

Rekan pembaca yang budiman, jika kita telaah lebih dalam, praktek PQP yang dilakukan atasan dalam tokoh si Adul di atas secara tidak langsung dapat merugikan perusahaan, tidak usahlah memikirkan nasib si Adul jika Anda keberatan, namun potensi yang dimiliki si Adul bisa jadi dapat mem-booster perusahaan jika dia ditempatkan pada posisi yang tepat. Coba luangkan waktu dan biaya untuk melakukan assessment yang tepat terhadap potensi vs posisi karyawan kita. Jangan-jangan kita telah salah langkah menempatkan si Adul secara subyektif karena keterbatasan kemampuan analisa kita ditambah oleh karena sifat-sifat serakah kita yang diturunkan oleh para penjajah bangsa kita dahulu.

Akhirnya, sebagai bagian dalam siklus hidup yang tidak dapat lepas dari harga dan kualitas, mari kita selalu fokus pada peningkatan kualitas apapun yang kita lakukan, kualitas layanan, kualitas pekerjaan, kualitas produk dsb. Harga pada akhirnya akan tetap dinilai oleh pasar. Jangan biarkan karyawan berpotensi kita menjadi tidak berprestasi karena keterbatasan kewenangan yang diberikan kepadanya. Jangan sampai anak cucu kita bahkan lari dan berprestasi untuk dimanfaatkan oleh negara lain sebagaimana salah satu sumber: 10-orang-asal-indonesia-berprestasi.

Judul Price Quality Perception ini terinspirasi dari Rhenald Kasali dalam acara Rumah Perubahan untuk calon-calon pengusaha muda di TVRI semalam tanggal 8 Januari 2012, di mana pada akhir acara Pak Rhenald menyampaikan kalimat PQP ini dengan saran agar sebagai pengusaha jangan mudah menurunkan harga hanya karena produk kalah bersaing, fokuslah kepada kualitas karena kualitas akan menaikkan harga produk. Terima kasih Pak Rhenald. (abh/012013)

Leave a Reply