13 March

Ditulis di Kisah, Opini | 1 Komentar

Makna Pemain Latar

ViolinistDalam sebuah film kolosal, tampak beratus hingga beribu pemain berlaga dengan berbagai bentuk dan gayanya. Dalam adegan suasana perang, pemain terdepan biasanya adalah tokoh utama dalam suatu cerita, didandani sedemikian rupa sehingga harus tampak berbeda dengan pemain latar di belakangnya. Pencahayaan dibuat sedemikian terang sehingga mata penonton dibuat fokus pada adegan tokoh utama tersebut. Sementara beribu pemain latar dibuat tampak mendukung penuh adegan dalam suasana tersebut.

Pemain latar amat sangat diperlukan dalam suatu situasi agar pemain utama dapat lebih terlihat perannya. Dapat dibayangkan jika seorang aktor yang berperan sebagai tokoh Pangeran Diponegoro, sedang bertanding menggunakan tombak menunggang kuda melawan musuhnya, jika tanpa latar banyak orang yang sedang berperang di belakangnya, misalnya diganti dengan pemandangan persawahan dengan gunung yang indah, maka suasana perang Diponegoro tersebut tidak akan terasa seru.

Mirip juga kondisinya dengan penampilan seorang penyanyi sebagai tokoh utama dalam acara konser, aktor lain dibelakangnya termasuk drummer, pemain gitar, pemain suling, pemain biola dan berpuluh pemain lain, menjadi amat bermakna keberadaannya agar konser tersebut sukses menarik perhatian para penonton. Sebagaimana perjuangan tokoh utama, para pemain latar ini juga berjuang menunjukkan karya terbaiknya agar konser menjadi konser terbaik. Dan, bisa jadi tokoh utama ini tidak memiliki keahlian seperti yang dimiliki oleh pemain latar.

Pemeran latar bukan tidak mungkin telah belajar dan berjuang agar memiliki kemampuan yang sama dengan tokoh utama, namun seperti kita ketahui bahwa pemain latar dimana-mana mendapatkan reward yang tidak lebih ketimbang tokoh utamanya. Selain jumlahnya yang berkali lipat, bukan menjadi fokus cerita, pemain latar ini pada adegan tersebut, keahliannya juga sedang dalam posisi bukan sebagai keahlian utama. Dalam konser musik, penyanyi adalah keahlian utama, bukan pemain biola atau gitar.

Gambaran di atas hanyalah sebagian contoh ilustrasi, kondisi lain dapat kita jumpai dalam aktivitas seorang dokter. Dokter yang bekerja di rumah sakit akan menjadi tokoh utama, namun jika seorang dokter bekerja di suatu institusi non-rumah sakit, maka dokter tersebut akan menjadi pemain latar saja. Seorang profesional TI yang bekerja di perusahaan sebesar Microsoft atau Google misalnya, akan menjadi tokoh utama, tidak sama jika dia bekerja di perusahaan non-TI, yang akan membuatnya menjadi pemain latar semata.

Jika keseharian kita secara kebetulan adalah memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai pemain latar, yang tentunya memiliki rewarding ‘tidak boleh’ lebih baik daripada tokoh utama, lalu apa yang sebaiknya kita lakukan untuk menyikapi kondisi tersebut? Kembali kepada Alqur`an dan hadits bahwa rasa syukur dan ikhlas adalah suatu keniscayaan, tidak boleh dihindari. Namun hadits lain menyatakan agar kita selalu berikhtiar untuk mengubah nasib.

Pemain latar tidak bisa memaksakan diri untuk menjadi tokoh utama, sebab tentu keberadaannya pasti tidak akan sejalan dengan misi suatu even atau organisasi. Pemain suling tidak bisa memaksakan diri untuk selalu disorot kamera sementara penyanyinya diabaikan. Bisa jadi nilai even akan menurun dan bahkan gagal. Pemain gitar tidak boleh berdiri di depan sementara sang penyanyi berada di belakang panggung hanya terdengar alunan suaranya.

Pengalaman sebagai pemain latar
Dulu saya pernah bekerja di suatu perusahaan tambang batubara berinisial `R`, pekerjaan saya adalah sebagai pemindah data alias tukang ketik dari tumpukan lembaran kertas ke sistem informasi penganalisa. Awalnya dengan semangat tinggi saya input semua data, memastikan tidak salah, memastikan tidak terlambat, karena merasa bahwa semua data tersebut amat diperlukan untuk menentukan keputusan. Ternyata selang beberapa bulan berjalan, data-data yang sudah diinput tidak disentuh sedikitpun, sehingga kesalahan tidak ditinjau dan keterlambatan input data tidak ditanyakan.

Perasaan mengerjakan sesuatu yang mubadzirpun mulai timbul, saya merasa bahwa fungsi saya sebagai tukang ketik tidak bermanfaat untuk orang lain. Timbul asumsi negatif bahwa jika keberadaan saya tidak ada gunanya, maka bagaimana orang lain bisa memberi rewarding lebih? Bagaimana saya harus menjelaskan di akhirat nanti mengenai apa manfaat hidup yang diberikan kepada saya. Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti dan mencari pekerjaan sehingga saya bisa memiliki manfaat yang lebih banyak untuk orang lain.

Kiat menjadi pemain latar yang berhasil
Pemain latar tetaplah pemain latar, namun tentunya bergantung kepada semangat dalam diri apakah ingin memberikan manfaat hidup yang lebih banyak kepada hidup orang lain tau tidak, apakah kita ingin mendapatkan pahala yang lebih banyak atau tidak. Pemain latar yang berhasil (menurut saya) adalah pemain latar yang bisa merubah fungsinya menjadi lebih banyak atau bahkan menciptakan even atau adegan film baru sehingga kemampuan kita bisa menjadi fungsi sebagai tokoh utama. Jika kita adalah seorang pemain biola, sudah saatnya untuk membuat konser biola dengan penyanyi sebagai pemain latar.

Hingga saat ini sayapun masih merasa menjadi seorang pemain latar, berusaha memiliki fungsi yang lebih banyak untuk orang lain namun tentunya saya tetap sadar bahwa penambahan fungsi semata tidaklah cukup untuk berubah menjadi tokoh utama. Berharap agar tulisan ini bisa menjadi ide bagi pembaca khususnya yang selama ini hanya berharap mendapatkan rewarding lebih, sementara fungsinya hanya sebatas pemain latar. Semakin banyak tulisan ini memberikan manfaat, semoga juga akan meningkatkan fungsi lebih banyak kepada banyak orang diluar tugasnya sebagai pemain latar.

Semoga bermanfaat. (abh/032013)

One Response to “Makna Pemain Latar”

  1. Joni Iswanto says:

    Tidak diragukan bahwasannya seorang pemain latar punya peran yang penting dalam tim. Bertanggungjawab penuh atas perannya. Selama kita berada dalam 1 tim, lakonilah secara profesional. Kita harus bisa setia dengan profesi kita bukan ?

    Tak pelak seorang Pemain Utama dalam tim tidaklah bisa tampil optimal tanpa dukungan dari pemain latar. Oleh karena itu “ketergantungan” ini harus dijaga dengan baik.

    Menyadari bahwa semua peran… adalah penting, maka seorang pemain utama sangatlah perlu menjaga harmonisasi di dalam tim. Sementara pemain latar, harus selalu optimis melihat ke depan sesuai arahan si pemain utama.

    Kapan seorang pemain latar akan menjadi pemain utama ?

Tinggalkan Pesan

Anda harus logged in untuk mengirim pesan.

Agus Budi Harto - Copyright © 2012 | All rights reserved.