20 June

Ditulis di Kisah, Opini | Tidak Ada Komentar

BBM Naik, Berebut Aksi Menjauhi Solusi

Gejala akibat rencana kenaikan bensin bersubsidi sudah mulai terasa. Bahan bakar kendaraan cenderung dirasakan sebagai biaya wajib bagi roda hidup yang meski harganya belum naik tapi hampir semua kebutuhan sehari-hari sudah dinaikkan terlebih dahulu. Menjelang kenaikan harga bahan bakar kendaraan bersubsidi ini pemilik kendaraan cenderung mengisi penuh tangki kendaraannya, “itu wajar,” kata Jero Wacik.

Menurut RAPBN 2013 bahwa Pemerintah telah mengeluarkan biaya untuk mensubsidi BBM pada tahun 2012 sebesar 137,4 triliun rupiah, sebuah angka yang fantastis dari Pemerintah yang merasa kasihan atas rakyatnya yang dirasakan belum mampu untuk membeli bensin dengan harga tanpa subsidi. Dua pihak berseberangan kemudian muncul saling bertentangan atas keputusan ini. Yang satu merasa bahwa rakyat harus dibantu dengan subsidi, dan pihak yang satu merasa bahwa negara ini harus bangkit dari hutang! Dua alasan yang kedua ujungnya sebenarnya bermuara kepada rasa kasihan kepada rakyat.

Jika kita telaah lebih lanjut, mengapa kedua pihak harus saling berseberangan dan sibuk mencari alasan bagaimana keputusannya bisa diterima oleh rakyat? Kan ujung-ujungnya juga demi rakyat juga? Maka timbullah 2 pendapat saling tuding yang menyalahkan satu sama lain. Satu pihak yang setuju untuk tidak menaikkan harga BBM menuding bahwa harga dinaikkan demi kepentingan biaya politik pada pemilu 2014, sedangkan pihak lain menuding bahwa yang tidak setuju dengan kenaikan BBM adalah pihak yang ingin menaikkan citranya seolah pro rakyat demi memenangkan pemilu 2014.

Saya tidak akan membahas apa hubungan antara kenaikan harga BBM di tahun 2013 dan pemilu tahun 2014. Namun jelas bahwa sorotan masyarakat kita kepada kenaikan BBM ini sepertinya semata-mata tertuju kepada akibat yang ditimbulkan dibandingkan dengan solusi dan hasil yang akan dirasakan oleh kita. Mengapa tidak ada bahasan mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah dan rakyat untuk mengurangi hutang tanpa membebani raskin alias rakyat miskin? Tidak terpikirkah oleh kita apakah masih ada waktu untuk berfikir atau berdebat bagaimana mencari solusinya?

Coba palingkan muka sejenak dari kerumitan segala masalah yang kita buat sendiri di negeri ini kepada negeri lain yang lebih maju dan justru maju pesat dalam sekejap. Rakyat Jepang salah satunya, terkenal kreativitasnya sehingga mereka bisa menjadi negara maju lebih cepat. Bayangkan pada tahun 1945 negara ini masih porakporanda karena Bom, tapi sudah dinyatakan sebagai negara maju. Lah bangsa kita tercinta ini hingga kini masih sibuk mencari pola, mungkinkah karena kita dijajah hingga 7 turunan sebelum merdeka? Hush! Mari kita tetap pandang ke depan mencari solusi terbaik untuk negeri ini.

Sejak teknologi mulai merambah negara kita, banyak kemudahan yang kita dapat, dan bahkan banyak orang-orang disekeliling kita melupakan keberadaan kita. Mereka tampak menunduk, tidak bergeming dengan keadaan sekitar, fokus dengan jendela dunianya yang baru seukuran 2-10 inchi saja. Media yang diaksesnya bertajuk social networking secara virtual namun dampaknya anti sosial terhadap dunia nyata disekelilingnya. Sebut saja salah satunya, BBM alias Blackberry Messenger diantara banyak media social networking yang lain.

Banyak dari kita bahkan terlelap menatap huruf demi huruf yang ada di layar BBM, sementara membiarkan saudaranya bahkan pasangan hidupnya merengek berharap kasih sayang yang dulunya dia dapatkan. Masalah kenaikan harga bahan bakar bersubsidi mengalir dari layar BBM menuju saraf mata hingga ke otak. Belum terfikir untuk bertindak, kemudian muncul pop-up yang lain di layar yang sama. Begitulah bagian dari hidup kita, kemudian masalah hanya dibicarakan dampaknya dan tidak kreatif untuk mencari solusinya.

Tidak banyak dari kita yang berfikir, berapa banyak waktu yang kita buang untuk hanyut dalam virtual social networking, berapa banyak receh-demi receh yang mengalir ke kantong para pemikir yang fokus kepada masa depan mencari solusi. Hari ini saya mencoba melihat berapa keuntungan yang diraih oleh RIM pada akhir tahun 2012. USD 1.164 juta atau sekitar 11,5 triliun rupiah menggunakan kurs saat ini. Sedangkan berdasarkan RAPBN 2013, subsidi yang dikucurkan oleh pemerintah untuk mensubsidi BBM tahun 2012 mencapai 137,4 triliun rupiah.

Jarang terbayangkan oleh kita, adalah seorang Mike Lazaridis yang mendirikan perusahaan RIM dan hasil produksinya (Blackberry) sampai di tangan kita hingga saat ini, bisa menghasilkan laba sebesar sepersepuluh dari total subsidi negara kita. Sedangkan kita hanya bisa membaca tulisan di layar BBM hingga sampai ke otak dan malas untuk berfikir kreatif bahkan muncul pikiran profokatif. “Jangan mau, hancurkan, pukul, ambil batu, bawa panah, ajak mereka, serbuuu!” begitulah.

Adakah dari kita yang kemudian berfikir untuk membangun sebuah datacenter yang bisa diakses oleh seluruh orang di negara kita, dijadikan media komunikasi interaktif positif untuk membangun negara ini? coba sisihkan subsidi BBM itu untuk membangun media sosial seperti BBM, dijual bagian layanannya kepada negara lain untuk membantu raskin, pasti bisa! Inilah salah satu dari sekian banyak solusi bagaimana mengentaskan hutang negara tanpa membebani raskin. Masalahnya mau atau tidak?

Semoga bermanfaat untuk semangat membangun Indonesia yang lebih maju (abh/062013)

Tags:

Tinggalkan Pesan

Anda harus logged in untuk mengirim pesan.

Agus Budi Harto - Copyright © 2012 | All rights reserved.