13 June

Ditulis di Kisah, Opini | 1 Komentar

Jujur Diantara Para Pembohong

Meja kerja dihadapannya tampak bersih meski masih terlihat segaris jejak kain pembersih, belum ada selembar kertas pun di meja kerja yang baru hari ini dia tempati. Rudy namanya, seorang pekerja baru di perusahaan penjualan barang perlengkapan rumah tangga, begitu bersemangat di hari Senin ini di terima menjadi tenaga penjual. “Rudy, Marketing Executive… ckckck, keren namanya,” bisiknya dalam hati ketika tangannya membaca kembali kartu nama yang ada di dadanya, senyum manisnya tampak terjepit di ujung bibir cowok ganteng ini.

Rudy baru saja menyelesaikan kuliah, ingin sekali membahagiakan orang tuanya untuk menunjukkan bahwa Rudy kecil sudah mulai tumbuh dewasa, bisa nyari duit sendiri dan menyisihkan untuk orang tuanya. Jiwanya masih bersih dan tampak sekali dalam sikap duduknya yang masih canggung menempati meja kerja barunya itu. Belum terfikir dikepalanya untuk bagaimana menjadi yang terbaik, atau bagaimana menghadapi masalah besar, atau bagaimana menghadapi calon konsumen yang bandel, dan lain sebagainya.

Hari pertama bekerja Rudy melewatinya dengan beberapa pelatihan dasar bagaimana menjadi salesman yang handal, selalu berhasil memenangkan negosiasi. “Jika calon pelanggan memalingkan muka saat Anda menawarkan produk, alihkan pembicaraan pada topik yang dia tertarik untuk membahasnya. Jika calon pelanggan meminta untuk kembali saja besok pagi, katakan saja bahwa hanya bisa saat ini, karena besok pagi berarti tidak. Katakan semua kelebihan produk kita, hindari mengatakan keburukannya,” begitu pesan pelatih yang bersarang dikepala Rudy.

Sekian lama Rudy menapaki hari-harinya, mulai terasa banyak hal yang dirasakannya berbeda. Teman-teman Rudy harus belajar keras untuk menutupi keburukan produk yang harus terjual. “Ternyata mereka mengajariku cara berbohong yang profesional,” begitu kepalanya mulai berfikir keras. Namun Rudy bersikeras untuk tetap obyektif dengan produknya, terbuka untuk berdiskusi. “Menutupi keburukan produk pasti hanya akan merugikan masa depanku, perusahaan yang baik pasti akan menghasilkan produk yang baik, dan memilih karyawan yang baik pula,” hatinya meyakinkan.

Benar apa yang diperkirakan Rudy, perusahaan itu bangkrut karena kehilangan pelanggan, para pelanggan merasa dirugikan karena produk yang dijual ternyata tidak seindah apa yang diterangkan oleh teman-teman Rudy. Rudy pun mulai lebih dewasa dalam memilih perusahaan. Sebelum melamar pekerjaan, produk yang dihasilkan perusahaan tersebut haruslah diyakininya memang benar-benar baik untuk pelanggan, agar Rudy juga bisa berlama-lama bekerja sepanjang usia berdirinya perusahaan tersebut.

Kisah Rudy mungkin hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak kasus dimana kebohongan menjadi landasan demi meningkatkan jumlah penjualan. Namun demikian, tentunya penjualan yang tinggi dengan landasan yang rapuh hanya bisa bertahan sebentar. Perusahaan lain dengan landasan kejujuran yang tinggi siap untuk melibas perusahaan-perusahaan pembohong. Perusahaan jujur memilih karyawan yang tepat untuk bisa menghasilkan produk terbaik dengan biaya minimal. Tenaga penjualan yang jujur hanya bisa bertahan hidup pada perusahaan yang jujur.

Ciri-ciri Pembohong
Beberapa literatur misalnya di yahoo menyebutkan bahwa pembohong itu memiliki 3 kebiasaan:

  1. Pembohong berbicara lebih banyak dari orang di sekitarnya.
  2. Pembohong lebih banyak berjanji.
  3. Pembohong lebih banyak membicarakan orang lain.

Banyak membicarakan “dia” atau “mereka” daripada membicarakan “kamu” atau “saya” dapat menjadi indikasi bahwa dia adalah seorang pembohong. Pembohong menutupi kelemahan dirinya dengan menceritakan keburukan orang lain. Seorang tenaga penjual yang lebih banyak menyudutkan produk pesaing daripada mendetilkan informasi produk yang dijualnya, menjadi indikasi ketidakberesan dalam produk yang dijualnya.

Otak Pembohong berbeda dengan Otak Orang Jujur
Seperti ditulis oleh sebuah literatur, bahwa study yang dilakukan oleh University of Southern California mempelajari 49 orang dan menemukan bahwa otak pembohong memiliki hingga 26 persen lebih banyak material prefrontal putih (seperti serat kabel) dan material prefrontal abu-abu yang lebih sedikit. Menurut Profesor Adrian Raine, material putih di otak menjadi alat bantu yang diperlukan untuk menguasai teknik penipuan, sementara material abu-abu menjadi pengendali kebohongan.

Berbohong Perlu Perjuangan
Sebagaimana dikatakan oleh Profesor Raine, bahwa orang yang sedang berbohong harus dapat memahami pola pikir orang lain, agar pembohong dapat menyesuaikan diri dengan orang yang dibohonginya. Pembohong harus dapat mengendalikan emosi, agar pembohong tidak tampak gugup ketika sedang berhadapan dengan orang yang dibohonginya. Pembohong harus berjuang karena dia sedang melawan kebenaran.

Pembaca yang budiman, bagaimanapun ahlinya seorang pembohong suatu ketika pasti akan terkuak juga. Sepandai-pandai melompat pasti akan jatuh juga, begitu pepatah mengatakan. sedangkan keuntungan yang dianggap dapat mendongkrak suatu nilai (misalnya nilai penjualan dalam contoh di atas), hanya berbatas waktu tidak sepanjang peningkatan suatu nilai karena dasar kejujuran. Oleh karenanya, jika Anda merasa bagian dari orang-orang jujur dan sedang didaulat untuk hidup berada di antara para pembohong, maka bersyukurlah karena Anda bisa merasakan perbedaan itu dan menjadi arena menempa kedewasaan. Jika para pembohong merasa bisa mengendalikan orang jujur seperti Anda, namun jangan berkecil hati karena sebenarnya mereka tidak berhasil dan justru yang Anda bisa menghadapi para pembohong.

Terima kasih saya ucapkan kepada seorang pembaca budiman yang telah menginspirasi tulisan ini dengan mengirimkan Short Message.

Semoga bermanfaat (abh/062013)

Tags:

One Response to “Jujur Diantara Para Pembohong”

  1. nora says:

    Ikan busuk walau ditutupi setebal apapun pasti akan tercium bau nya.
    Orang jujur sekarang jarang banget kita temui.
    Kisah ini mingingatkan para lidah bercabang dua.
    Salam pak budi..saya tunggu cerita yang lain^^

Tinggalkan Pesan

Anda harus logged in untuk mengirim pesan.

Agus Budi Harto - Copyright © 2012 | All rights reserved.