Seminar: Cepat Kaya Tanpa Usaha

Mulanya saya ingin menulis di sini bahwa kita dan orang-orang di sekitar kita cenderung ingin cepat kaya dan sukses namun dengan sedikit bekerja. Artinya bahwa mulanya saya berpikir bahwa kita dan orang-orang di sekitar kita adalah sekelompok orang-orang pemalas yang hanya ingin menuai padi tanpa menanam, ingin memiliki banyak harta tanpa usaha, ingin kaya tapi tanpa kerja keras dan hanya berharap warisan dari nenek moyang. Lalu saya berandai-andai barangkali akan laku keras jika ada orang yang memiliki ide untuk membuat seminar dengan topik “Cepat Kaya Tanpa Usaha.” Sebelum menulis topik di atas, tiba-tiba saya menemukan banyak link yang membahas mengenai kata-kata malas dalam mesin pencarian online dan ternyata malas itu kadang bisa membuat orang sukses? Nah lho? Perlu digaris bawahi dulu bahwa dalam tulisan ini saya tidak mengajak untuk malas dalam artian malas secara umum, karena hanya malas yang positif yang akan membuat orang sukses.

Sebuah buku berjudul “Malas tapi Sukses” yang dikarang oleh Fred Gratzon mendobrak tentang paradigma hubungan antara kerja keras dan kesuksesan yang berbanding lurus, diarahkan untuk diubah menjadi hubungan masuk akal antara “sifat malas” dengan kesuksesan. Kesimpulan sekilas yang didapat adalah bahwa “Kita harus menggunakan otak untuk membantu diri kita agar sedikit bekerja dan akhirnya bisa tidak bekerja sama sekali.”

Kenyataan yang kita lihat saat ini adalah bahwa jika dulu petani terus bekerja keras untuk mencangkul sawah bekerja keras dari shubuh hingga petang, dan terus bekerja keras tanpa ada pikiran “malas” untuk mendapatkan cara baru tanpa mencangkul dengan hasil kerja yang sama, maka barangkali hingga saat ini para petani kita tidak akan pernah bertemu dengan sapi dan perangkat membajak sawah sehingga para petani hanya tinggal duduk di atas perangkat bajak sawah, di tarik sepasang sapi hingga sawahnya selesai di bajak.

Orang-orang Inovatif
Ilustrasi di atas rasanya sama dengan pikiran orang-orang pertama yang memanfaatkan air terjun untuk menggiling gabah tanpa harus menumbuk, orang-orang yang berpikir untuk memasang layar di kapal tanpa harus bekerja keras mendayung dan lain sebagainya. Jika diterjemahkan pada istilah bisnis saat ini bahwa ternyata malas positif yang dikatakan pada buku “Malas tapi Sukses” itu sebenarnya adalah “Inovatif maka Sukses.” Judul buku malas tapi sukses pada awalnya akan membuat orang terperangah dan memicu orang untuk membacanya, dan orang yang demikian bisa jadi adalah orang-orang yang kreatif dengan cara yang tidak biasa untuk meraih sukses menjual buku.

Malas tapi Kaya vs Kerja Keras tapi Miskin
Kembali kepada paragraf awal di atas, bahwa jika sebuah buku berjudul malas tapi kaya ternyata menjadi buku best seller, maka jika kita ingin mencari penyebabnya adalah dengan membaliknya menjadi suatu kondisi dimana orang-orang sudah bekerja keras tapi masih tetap miskin, begitu? Nah, jika kita lihat kondisi saat ini dimana kita dan orang-orang di sekitar kita sudah bekerja keras memeras keringat namun kondisi ekonominya tetap begitu-begitu saja, maka ilmu-ilmu baru termasuk yang ada dalam buku, seminar, literatur, acara televisi dengan judul yang amat menarik, pasti akan sangat diminati.

Termasuk dalam posting saya kali ini, barangkali judul di atas akan mendapat banyak perhatian bagi pembaca-pembaca yang ingin merubah hidup menjadi lebih ringan dengan merubah fokus kepada peningkatan penggunaan otak daripada otot. Meski ternyata hidup seorang pembaca sudah tidak berada di bawah marjin angka miskin, keinginan untuk mencari kehidupan yang lebih baik pasti akan terus ada. Dan, kalau kita pikir lebih jauh, bahwa orang-orang yang berada di bawah marjin angka miskin negara kita, pasti tidak akan menjangkau mencari pengetahuan dengan membeli pulsa untuk mengakses internet, bukan?

Pembaca budiman, saya pribadi mengajak diri saya sendiri dan pembaca sekalian untuk merubah paradigma bekerja keras itu berbanding lurus dengan sukses, menjadi paradigma inovatif itu berbanding lurus dengan sukses. Mereka orang-orang sukses barangkali sudah mentertawakan para petani atau pihak lain yang sudah bekerja keras, dan membiarkan bahkan seolah mengajak untuk terus bekerja keras (untuk orang-orang sukses). Jika kita ingat bahwa hidup kita ini amat sangat terbatas, mari kita mengajak diri sendiri dan orang lain yang terjebak paradigma bekerja keras, untuk selalu berpikir kreatif inovatif. Menciptakan hal-hal baru yang dapat membantu anak cucu kita untuk lebih mudah hidup menggantikan kita di masa yang akan datang. Bekerja keraslah untuk kreatif inovatif untuk memberi manfaat bagi makhluk sekalian alam, dan jangan berharap untuk bekerja keras agar kaya, karena kaya saja tidaklah cukup jika kekayaannya hanya untuk diri sendiri.

Semoga bermanfaat. (abharto/082013)

Leave a Reply