Terpuruk Dilenakan Kenyamanan

Ayam mati di lumbung padi, sebuah pepatah yang sudah tidak asing lagi. Ketika seekor ayam terbiasa hidup nyaman di sebuah area yang penuh dengan butiran jagung bertebaran dimana-mana, tidak perlu mencari bahkan menggali untuk mengenyangi perutnya, tidak pernah bertemu dengan pemangsa, bisa tidur nyenyak kapan saja, dan kemudian bangun dengan butiran jagung disekitarnya lagi.

Ketika ayam yang sedari kecil sudah diberkahi kenyamanan, kemudian dipindahkan ke sebuah lumbung padi yang tidak dikenalnya dan merasa bahwa yakin sudah tidak ada lagi jagung seperti hidup di area sebelumnya yang penuh dengan butiran jagung, dan tidak berusaha mencoba mencicipi padi sebagai makanan baru, maka tentulah ayam itu akan mati.

Melihat perkembangan harga batu bara yang semakin menukik turun sebagaimana di paparkan di salah satu media referensi harga batu bara yaitu forum tambang, Harga Batubara Acuan (HBA) di Januari 2013 dimulai dari 87.55 dolar per ton turun menjadi 76.70 dolar per ton. Hal ini pastilah berdampak merugikan bagi perusahaan-perusahaan tambang, hingga mengakibatkan beberapa perusahaan tambang tutup.

Beberapa tahun lalu ketika harga batu bara relatif tinggi, banyak pihak mengalihkan perhatian bisnisnya ke batu bara, mulai dari aktor, penyanyi, dan lain sebagainya. Pemain-pemain baru ini beralih tak lain karena bisnis batu bara merupakan bisnis yang nyaman menggiurkan dengan dugaan sedikit potensi risiko kerugian.

Menurut saya pribadi, pengerukan batu bara merupakan jenis bisnis yang memanfaatkan sumber daya alam sebagai obyek kelola utamanya, seperti juga emas, perak, minyak, gas dan berbagai sumber alam lainnya. Berbeda dengan bisnis lain sebut saja manufaktur, konveksi dan lain sebagainya dimana pengusaha harus mencari bahan baku dari berbagai sumber yang tidak semudah mengeruk sumber daya alam.

Jika perusahaan manufaktur harus mencari pemasok baut, lampu, plastik dan lain-lain, perusahaan batu bara dan sumber daya alam lain tinggal mengeruk perut bumi dan menjualnya untuk dimanfaatkan. Bergantung kepada harga jual sumber daya alam tersebut, maka semakin mahal harga jualnya, maka perusahaanya akan semakin memiliki profit yang tinggi. Kalau saya perhatikan bahwa jika diurutkan berdasarkan harga per massa jenisnya, batu bara  berada di bawah emas, minyak dan gas, namun masih jauh di atas kayu atau sumber alam lain yang kita ketahui.

Kondisi ‘nyaman’ bisnis batu bara ini bisa menjadikan pelaku bisnis terlena, karena dengan sedikit upaya efisiensi atau bahkan mungkin tanpa adanya efisiensi pun, bisnis dapat selalu profit. Dan kebiasaan tidak efisien ini jika dibiarkan berlarut-larut seiring makin tingginya harga batu bara, dapat menjadi budaya yang tidak baik bagi perusahaan batu bara itu sendiri.

Seperti yang terjadi kepada pemain-pemain baru pada paragraf ketiga di atas, jika motivasi mendirikan kerajaan bisnisnya hanyalah meraup keuntungan dengan cepat dan mudah, maka akar pengelolaannya akan sangat rapuh dan hanya dengan penurunan HBA saja sudah pada runtuh, berbeda dengan perusahaan-perusahaan dengan akar budaya efisiensi yang kuat dan hingga kini masih bisa berdiri kuat mempertahankan keberadaannya.

Jika kita merupakan bagian dari pekerja di perusahaan batu bara dan belum mengetahui apakah perusahaan kita bisa bertahan di tengah badai ini atau tidak, beberapa hal di bawah ini dapat menjadi check-list faktual sederhana untuk dinilai:

  1. Apakah perusahaan Anda tidak pernah me-review jam kerja pekerja dan membiarkan beberapa pekerja nakal masuk siang, hilang di siang bolong, ngobrol di tempat merokok, atau bahkan hilang beberapa hari tanpa ijin?
  2. Apakah perusahaan Anda memberlakukan pola senioritas seperti kapal Roro dimana yang masuk duluan maka akan bisa memilih posisi yang paling disukai dan membiarkan para pekerja potensial duduk dikutuk dengan limpahan pekerjaan yang membuatnya hingga tidak bisa berpikir inovatif?
  3. Apakah perusahaan Anda tidak pernah memberikan Anda tantangan agar perusahaan bisa lebih produktif.
  4. Apakah perusahaan Anda mengagungkan subyektivitas dalam penilaian kinerja?
  5. Apakah perusahaan Anda tampak seperti keluarga besar penuh dengan toleransi dan membiarkan banyak kesalahan terjadi tanpa tindakan disiplin yang jelas?

Jika kelima pertanyaan dijawab iya, maka patut diwaspadai karena jangan-jangan Anda adalah termasuk orang yang akan mendapatkan paket pensiun dini, atau jika perusahaan Anda termasuk kategori bandel dan bisa bertahan hidup, jangan-jangan Anda merupakan salah satu orang potensial namun tidak akan mendapatkan reward yang memadai, sebab biasanya orang-orang yang sempat membaca artikel semacam ini adalah orang kreatif yang selalu ingin membuat hal baru dalam hidupnya namun tidak mendapatkan kesempatan yang lebih baik.

Agar kita tidak menjadi bagian dari skenario hidup terpuruk karena dilenakan kenyamanan, maka beberapa hal di bawah ini dapat menjadi pertimbangan:

  1. Jangan pernah berhenti belajar, karena belajar itu tidak mengenal usia dan belajar itu tidak akan pernah mendatangkan kerugian kecuali belajar untuk mendzalimi orang lain.
  2. Jangan pernah berhenti berinovasi, karena inovasi adalah satu-satunya jalan untuk mendapatkan solusi yang lebih mudah.
  3. Jangan menunggu situasi sulit untuk berperilaku efisien, karena keterpurukan tidak akan mendekati orang/perusahaan yang sudah terbiasa berbelanja bijak.
  4. Jangan pernah berhenti bersyukur karena jika kita bersyukur maka Allah akan menambahkan nikmat (QS Ibrahim : 7)
  5. Jangan putuskan silaturrahim karena silaturrahim dapat melapangkan rejeki dan memperpanjang umur (hadits riwayat Bukhari)
  6. Jangan pernah berhenti berdo’a karena sesungguhnya Allah adalah Maha Penolong.

Semoga bermanfaat (abh/092013)

One thought on “Terpuruk Dilenakan Kenyamanan

Leave a Reply