22 November

Ditulis di Kisah | Tidak Ada Komentar

[bukan] Golput

Pagi itu Paijo berangkat kerja lebih pagi dari biasanya. Diumumkan oleh perusahaan tempatnya bekerja bahwa hari itu pawai kampanye pemilu berpotensi dapat membuat perjalanannya ke kantor menjadi terhambat. Selain lebih pagi, Paijo berpikir akan melewati jalan-jalan tikus yang biasa digunakan oleh para pemakai sepeda motor lain untuk menghindari jalanan jakarta yang semakin hari semakin ruwet. “Jalanan Jakarta benar-benar sempurna macetnya,” pikir Paijo.

Dugaan Paijo ternyata benar, banyak karyawan lain yang berangkat lebih pagi, dan sudah banyak pula yang melewati jalan tikus. Pas di perempatan jalan tikus, jumlah pemotor ternyata membuat sesak jalanan karena persimpangan itu harus dilalui bergantian. Paijo membuka kancing jaket hitam agak lusuh yang digunakannya sambil berhenti menunggu gerakan sepeda motor lain satu-persatu maju untuk menembus perempatan itu. Hampir lima belas menit rodanya tidak bergerak, “jika begini terus, aku harus keluar dari jalan tikus ini di pertigaan setelah perempatan ini,” ujarnya dalam hati.

Benar, setelah berhasil berjuang menembus perempatan itu, Paijo banting stir ke arah kanan untuk keluar dari jalan tikus kembali ke jalan besar. Apapun yang terjadi nanti, lebih baik di jalan yang benar daripada lewat jalan tikus yang makin siang makin buntu. Paijo melihat pawai barisan simpatisan berseragam merah, “nggak apa-apalah, semoga jas hitamku ini tidak menjadi perhatian para pendemo untuk jadi obyek penghadangan,” pikirnya cerdas.

Tidak seperti apa yang dipikirkan, dilihat di depannya tiap orang yang berwarna selain merah selalu di berhentikan tidak diberikan sedikitpun jalan untuk melewati barisan pawai itu. Tiba-tiba Paijo jadi cerdas, dibaliknya jaketnya yang hitam dan ternyata jaket bagian dalamnya berwarna merah. Meski tidak ada embel-embel nama partai, Paijo pun tembus mendahului barisan panjang seragam merah itu.

Namanya hari kampanye ya tetap kampanye, Paijo kembali diuji kecerdasannya ketika di ujung bundaran depan ternyata banyak warna dari berbagai partai yang harus dilalui. Warna merah dan hitam jaketnya sepertinya tidak akan mempan, masih banyak warna lain disana dimana dia harus bisa tembus melewatinya. Hijau, kuning, biru, putih, oranye, banyak sekali. “Warnaku ga ada disitu, tapi aku harus bisa sampai ke kantor sebelum terlambat,” pikirnya.

“Itu.. yang itu bukan warna simpatisan partai kita,” teriak orang-orang menunjuk ke wajah Paijo. “Siram pake aiiir.. usiiir… pukuli..,” teriak salah satu dari sekian banyak orang yang tengah mengerubunginya. Paijo kali ini menghadapi massa yang sudah tidak dapat terbendung emosinya, benar-benar beringas. Satu dari mereka berhasil memegang kerah Paijo dari belakang “Hei!! kamu ini parti apaaan?? Kamu mau mati lewat sini?,” ujar orang bertubuh kekar bertato dengan suara lantang paling lantang diantara mereka semua.

Tubuh Paijo serasa lemas, dia ingat anak istrinya menunggu di rumah, ingat cicilan hutangnya yang hingga kini dan entah kapan akan bisa lunas. Perjuangannya mengais rejeki di Jakarta benar-benar membuatnya letih, lelah tak kunjung henti. Di sela kegundahan hatinya itu, dia kemudian ingat psan orang tua, Allah senantiasa akan mengabulkan doa dari makhluknya. Jikapun harus mati ditengah orang-orang beringas ini, Allah akan menjadikannya sahid karena perjuangannya mengais rejeki, dia ingat janji Allah.

Sekejab setelah berdoa memohon dikuatkan, keberanian Paijo tiba-tiba muncul. Dia berteriak keras sekeras-kerasnya, “Akuuu goooolllllpuuuuttttt,” hingga serasa putus urat lehernya. Orang bertubuh besar yang sedari tari menarik kerahnya, kemudian menarik jaketnya hingga robek sambil membentak “Semua orang yang ada disini, pasti orang partai! Setiap orang partai pasti ada seragamnya. Kalau kamu tidak ada lambang partainya, kamu pasti penyusup!!”.

Paijo pun pasrah, setelah jaket satu-satunya robek, disela keringatnya yang menempel di alis matanya, matanya membuka pelan melihat orang-orang yang kemudian terdiam, ada apa gerangan? Tulisan di belakang kaos yang dipakainya rupanya menjadi perhatian orang-orang. Kaos itu pemberian perusahaannya pada suatu acara. Kaos itu bertuliskan “SAYA PILIH SELAMAT!.” Meski tidak ada hubungan antara teriakan pengakuannya bahwa dia golput dan tulisan itu, namun orang-orang beringas yang sedang dikendalikan emosi sekejap berpikir bahwa Paijo memang golput dan pengen selamat. Selamat ya Jo!(abharto/112013)

Tags:

Tinggalkan Pesan

Anda harus logged in untuk mengirim pesan.

Agus Budi Harto - Copyright © 2012 | All rights reserved.