28 November

Ditulis di Opini | Tidak Ada Komentar

Telur Elang Dibesarkan Induk Ayam

Burung Elang dikenal sebagai burung perkasa, telurnya bercangkang keras dijaga oleh induknya hingga anak elang mampu terbang. Sebagai hewan pemangsa, elang memakan hewan lain seperti tikus, tupai, kadal, ikan, ayam dan berbagai serangga. Paruhnya yang kuat menggambarkan bagaimana Elang harus bisa mengoyak daging mangsanya, didukung dengan kukunya yang tajam dan kakinya yang kekar. Elang memiliki penglihatan yang tajam hingga dapat memburu mangsanya dari jarak amat jauh.

Sosok elang kemudian menjadi beberapa simbol keperkasaan, misalnya pada nama pesawat jet tempur, merek sepatu olah raga, logo stasiun televisi dan masih banyak yang lainnya. Setidaknya karakter elang telah menjadi bagian dari harapan sebagian orang untuk menjadi tangguh dan kuat bagi dunia yang digelutinya.

Telur elang bentuknya hampir sama dengan telur-telur unggas, seperti telur ayam, telur bebek dll. Karena ukuran dan bentuknya yang hampir sama, kadang kita perhatikan bahwa telur bebek dititipkan bersama dengan telur ayam lain untuk diasuh oleh induk ayam. Namun karena memang karakter ayam hampir sama dengan karakter bebek, sehingga meski anak bebek yang telah menetas memiliki bentuk berbeda dengan anak ayam, maka tidak perlu upaya adaptasi oleh induk ayam terhadap anak bebek maupun sebaliknya.

Bagaimana jika telur Elang dibesarkan oleh induk ayam? Saya belum menemukan literatur ilmiah yang menerangkan percobaan mengenai hal ini, hanya cerita fiksi yang dapat kita baca jika mencari di google. Jika ditemukan cara sehingga telur Elang dapat ditetaskan dan dibesarkan oleh induk ayam, maka secara logika induk ayam akan lebih dominan setidaknya karena sang induk memiliki ukuran tubuh lebih besar sedangkan anak Elang masih lemah.

Logika kita akan terbawa kepada kondisi dimana karakter ayam akan membentuk sifat-sifat anak Elang. Mulai dari jenis makanan yang dimakan, posisi tidur, cara berekspresi mengungkapkan rasa lapar, dll. Kebiasaan yang terus menerus ini makin lama akan membentuk anak Elang menjadi Ayam. Anak Elang mungkin tidak tahu bahwa dia dianugerahi sayap untuk bisa terbang serta kelengkapan lain yang tidak dimiliki ayam. Bentuk tubuh anak Elang pasti berbeda dengan pengasuhnya seekor ayam, namun kebiasaan ayam yang diikutinya maka makin lama akan menjadi karakter sang anak elang.

Pembaca yang budiman, hal di atas dapat menjadi sebuah ilustrasi bagi kehidupan kita. Bukan mengenai siapa ibu dan bapak kandung kita, namun lingkungan kita dapat menjadi tokoh induk ayam pada cerita itu. Seperti telur Elang, mungkin kita telah tidak tahu tentang potensi yang dianugerahkan kepada kita oleh Sang Pencipta, dan ternyata lingkungan telah membentuk kita sehingga kita juga tidak sadar bahwa potensi-potensi itu tidak lagi digunakan dan bahkan sebaliknya, karakter negatif kita muncul sebagai hasil dari adaptasi dari komponen-komponen lingkungan yang dominan negatif.

Saya kadang berasumsi bahwa penjajahan selama 350 tahun sebelum merdeka, telah membentuk kebiasaan kita menjadi kebiasaan penjajah, antara lain namun tidak terbatas kepada:

  1. Sifat ingin menguasai, penjajah tentunya memiliki kekuasaan sehingga bisa melakukan apa saja kepada pihak yang dijajah. Hal ini barangkali dapat menjadi salah satu penyebab munculnya tokoh-tokoh koruptor di negeri ini.
  2. Sifat ingin menggulingkan, penjajah amat berkepentingan untuk menggulingkan kerajaan-kerajaan kecil yang ada. Hal ini barangkali dapat menjadi salah satu penyebab munculnya oknum-oknum politikus yang dengan segala cara menggulingkan lawan partainya.
  3. Sifat mengadu-domba, penjajah memiliki cara mempermudah memperluas kekuasaan dengan cara `devide et-impera`. Hal ini barangkali telah menjadi salah satu sebab munculnya oknum-oknum pendulang kekuasaan dengan cara gerakan `bawah tanah`.
  4. Sifat memuji untuk menjatuhkan, penjajah seringkali mengagungkan para raja-raja target yang akan digulingkan dengan diberikan kekuasaan lebih tinggi, namun tanpa sadar disaat yang sama kekuasaannya yang lebih kecil namun strategi dirampas, atau kemudian hari kekuasaan raja digulingkan.
  5. Sifat berfoya-foya, penjajah dengan kekuasaannya memiliki hasil material yang berlimpah dan sebagiannya digunakan untuk bersenang-senang. Hal ini barangkali menjadi sebab munculnya banyak aktivitas yang menarik perhatian kaum muda kita terutama yang berhubungan dengan entertainment, sedangkan kegiatan lain yang lebih penting untuk majunya negeri ini tidak laku untuk ditayangkan.

Rasanya masih banyak sifat-sifat negatif lain dari lingkungan kita yang pasti dapat mempengaruhi karakter kita sebagai bangsa yang bermartabat. Dengan tulisan ini semoga hal ini dapat menyadarkan kita bahwa mungkin kita telah dianugerahi banyak kelebihan salah satunya adalah kekayaan alam yang melimpah namun ternyata masih banyak masyarakat kita yang masih miskin. Mari kita banyak berintrospeksi, melihat ke dalam, adakah kita memiliki sayap untuk terbang, cakar yang kuat, kuku yang tajam, penglihatan yang tajam, tapi kita hanya banyak berdiam diri mengais-ngais padi di tanah, lebih memilih hal-hal yang lebih mudah.

Jika paragraf di atas membuat kita masih merasa kecil karena kita hanya rakyat kecil yang jauh tidak memiliki wewenang apa-apa untuk berbuat demi martabat negeri ini, mungkin kita bisa melihat dan mulai dari hal-hal kecil. Coba perhatikan disekitar kita, apakah lingkungan kita telah membuat kita tidak bisa melihat potensi kekuatan pribadi kita, di lingkungan keluarga atau pekerjaan misalnya?

Selamat berintrospeksi dan semoga bermanfaat. (abharto/112013)

Tags:

Tinggalkan Pesan

Anda harus logged in untuk mengirim pesan.

Agus Budi Harto - Copyright © 2012 | All rights reserved.