Kamu Harus Banyak Belajar!

Jujur, kerja keras, konsisten dan selalu belajar, begitu padat melekat rangkaian kata itu mengalun merdu dalam setiap jejak langkahku menyusuri semak kehidupan yang keras, tandus bagai belukar tak bertemu hujan setahun. Belukar yang pasti tak tampak ranting berduri, ular berbisa, perangkap gajah yang ditinggal pemburu, pohon besar tua berisi koloni rayap yang tiap saat bisa roboh.

Keempat kata itu telah didoktrin oleh ayahku kepada ketiga anaknya ketika masih belia, baru mengenal arti kata, salah menyusun huruf bahkan menggunakan kata, belum tahu perbedaan kesopanan, belum pernah merasakan begitu menyakitkannya sebuah kalimat yang diucapkan oleh seorang yang sedang dikendarai emosi. Keempat kata itu seperti empat huruf dalam sebuah halaman koran yang dipenuhi kata dengan font dan warna yang sama, namun dibuat tebal agar aku bisa selalu mengingatnya.

Jujur membuatku menjadi amat berbeda dengan seorang pembohong. Ketika seseorang telah membohongiku atau orang lain, maka sejak saat itulah dimulai babak baru aktivasi sensor kebohongan terhadap apa yang sedang diucapkan oleh orang itu. Setiap kalimatnya harus dipasangi sensor pembanding pembuktian untuk memastikan bahwa apa yang dikatakannya benar adalah sama dengan bukti otentik yang menyandinginya.

Kerja keras, tak lain sebagai penanda bahwa tidak ada waktu untuk membuat diriku menjadi senyaman seperti orang lain, menjadi nyaman adalah bukti bahwa kata kerja keras itu hanyalah isapan jempol belaka, menjadi nyaman adalah suatu ancaman yang tidak terduga, dapat membunuh setiap saat. Kadang pujian dapat menjadi sebuah tombak bermata tajam dari seorang musuh yang akan menghancurkanku ketika kekuatannya sudah tidak sebesar apa yang Allah telah anugerahkan untukku.

Konsisten, kunci utama menjaga kesinambungan kejujuran dan kerja keras, memastikan bahwa tidak ada waktu sedikitpun untuk berhenti dari tidak menggerakkan tangan sebab akan membuatku jatuh ke dasar sungai ketika aku harus bertahan mengapung supaya tetap bisa menghirup udara melihat langit dan keindahan ciptaan-Nya.

Selalu belajar, menjadi cara agar perubahan yang selalu terjadi dalam kehidupan dapat kuhadapi, ancaman dapat kuantisipasi, serangan dapat kulawan dengan strategi. Selalu belajar adalah suatu keniscayaan, seperti seorang petani yang harus selalu tahu bagaimana menggunakan cangkul baru, seorang penjahit dengan menggunakan mesin jahit baru, seorang kimiawan mengolah bahan kimia yang baru dan seterusnya.

Jika ada orang lain yang mengajariku untuk jujur, berarti dia sedang melihatku seperti tidak jujur atau mengajak bersama-sama untuk menghindari berbuat bohong. Jika orang itu mengajakku untuk bekerja keras berarti mungkin aku sedang dalam posisi lemah tidak berdaya, terlihat seperti sedang malas. Namun sedemikian rupa hingga usiaku telah dewasa kini tidak ada satupun kata terucap dari orang lain yang mengajakku untuk jujur dan bekerja keras karena kuyakin aku telah menghindari kebohongan dan kemalasan lebih dari orang lain.

Namun akhir-akhir ini pada tempatku bekerja, aku selalu diingatkan untuk belajar, belajar dan belajar. Meski ini hanyalah salah satu doktrin yang sudah ada dikepalaku bahkan entah sejak tanggal berapa dan hari pasaran apa keempat kalimat itu pertama kali diucapkan oleh ayahku. Ya, ketika pertama kali aku menginjakkan kaki di tempat baruku bekerja, aku yakin bahwa orang itu melihatku tidak memiliki kemampuan sesuai dengan yang diharapkan untuk menunjang target organisasi.

Ketiga kata kunci lainnya makin kutingkatkan, putaran mesin penghasil keringat dibadanku terus menerus kupercepat untuk mengejar ketertinggalan agar kata kunci pengingat untuk selalu belajar itu sudah tidak perlu diingatkan oleh orang lain lagi. Beberapa tahun berjalan, seharusnya orang belajar itu sudah pasti akan lulus pada masanya, SD harus kelar dalam 6 tahun, SLTP dan SLTA masing-masing 3 tahun, S1 4 tahun, S2 1 1/2 tahun dan seterusnya. Namun hingga 7 tahun aku melakukan hal yang sama, berulang-ulang dengan hasil yang selalu bertambah, namun orang itu tetap mengingatkanku ,”kamu harus banyak belajar!”

Mesin kalkulatorku menjadi bekerja, menghitung apa kekuranganku dan apa yang harus kulakukan. Tanpa berdasar dari teori dan referensi manapun, aku menyimpulkan:

  1. Aku tidak memiliki kemampuan untuk melakukan pekerjaan itu.
  2. Orang itu tidak memiliki kosa kata lain seperti mesin robot Android ciptaan negara Jepang yang hanya ditugaskan untuk mengatakan “kamu harus banyak belajar!.”
  3. Orang itu memiliki ilmu tinggi yang …

Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku, “Budiii..budii, sudah.. tarik cepat gerobakmu itu! Pemesan beras sudah menunggu di ujung jalan, jangan sampai mereka marah seperti kemarin. Makanya kamu itu sekolah! jangan cuman terkenal di buku SD, ini budi ini bapak budi ini wati kakak budi, semua orang juga bisa kalau cuman membaca. Pakai otak jangan cuman pakai otot! Kamu itu tidak akan pernah melebihi aku, aku yang punya toko, sudah turun temurun. Kamu aja itu turunan orang gak jelas bekas jajahan Belanda, jangan-jangan juga genetikmu itu juga dicampuri dengan kotoran penjajah!.”

Ah panasnya punggung ini, singletku dipunggung juga bolong koyak diterpa teriknya matahari dan hujan bergantian bercampur kadar asam keringat. Oh ternyata yang dimaksud belajar itu ya itu toh, belajar untuk sadar, untuk tidak berangan-angan jauh melebihi dari apa yang bisa dicapai oleh pemilik toko. Semoga tahun ini bisa lulus gak bekerja di toko itu lagi, lebih tenang beribadah dan lebih banyak lagi beramal. Amin ya Rabb. (abharto/042014)

Leave a Reply