Sangkaan Salahku Kali Ini

Geli terasa di punggung tengah tepat di antara tulang belikat. Lebih dari 8 jam tidak terasa duduk menikmati pekerjaan yang kutekuni sejak 2 tahun lalu aku bekerja di perusahaan ini. Hanya punggung yang memberitahuku bahwa aku telah terlalu lama meletakkan tulang dudukku di antara kedua pegangan kursi hitam yang tiap hari menopangku menyusuri rangkaian kegiatan kesukaanku di depan sebuah layar lima belas inchi bertuliskan HP tepat di tengah atas layar itu.

Di ujung sana di tengah dinding sebelah timur ruangan besar ini kulihat benda bulat yang menjadi acuanku untuk memastikan bahwa angka yang ditunjukkan sama persis dengan arloji di tangan kananku. Meski ku harus menoleh seratus delapan puluh derajat karena jam dinding itu berada di sekitar belakang tempat aku duduk, namun benda itu seringkali menjadi obat raguku melihat arlojiku ini pernah menipuku tatkala ku harus bangun sholat shubuh suatu hari, ternyata jarumnya tak bergerak tepat di angka jam 2 malam hari.

Ya, sebentar lagi waktuku menunaikan kewajibanku menghadap Sang Maha Pencipta, karena meski hanya beberapa menit melakukannya, beberapa menit itu adalah milik Allah yang Dia minta kepadaku untuk menghadapnya lima kali sehari. Lima kali yang selalu kurindukan untuk bermunajat meminta ridho agar kubisa kembali kepada Nya suatu saat nanti dalam keadaan khusnul khatimah. Jam lima belas, beberapa menit lagi indahnya panggilan shalat itu akan kudengarkan dari lantai keempat gedung tempatku bekerja ini.

Allah Maha Besar, Subhaanallah, panggilan indah itu membuat kudukku berdiri. Darah serasa berdesir, pembuluh di seluruh badanku serasa hangat. Begitu merdu suaranya hingga tak terasa lutut ini melurus meski belum kuminta untuk berdiri. Dalam pikiranku cuma satu, di dekat mesjid As-Sakinah tempat dikumandangkannya adzan itu, ada air wudhu yang siap untuk membasahi mukaku yang entah sengaja atau tidak telah ditutupi oleh dosa-dosa kecil, mulai dari mata, hidung, mulut dan telinga.

Maaf ya teman, jika aku kadang lupa harus melewati kalian tanpa menyapanya karena ku terburu-buru turun menggunakan lift melewati lobby. Dua menit dari tempatku duduk tadi, aku sudah sampai di tempat di mana aku dan para jamaah shalat ashar yang lain mengambil air wudhu. Pikiranku tetap selalu satu, merasakan bagaimana air wudhu ini membasuh beberapa bagian tubuhku yang seharian telah mungkin membuat dosa-dosa kecil.

Saat membasuh muka, ujung mataku menangkap di sebelah kiriku seorang jamaah seperti terburu-buru membasuh mukanya. Dalam fokusku membasahi kepalaku, sikap berwudhu rekan sebelahku ini sudah pasti kurasakan salah, seperti berjinjit-jinjit terburu ketakutan ketinggalan shalat berjamaah. Ku tidak akan menolehnya karena bagaimanapun hanya dia dan Allah yang akan menilai ibadahnya. Meski dalam hatiku berkata, ya Rabb.. jauhkanlah aku dari sikap berwudhu yang tergesa-gesa dan tidak akan mendapatkan apa-apa dari Mu.

Segera kurapatkan barisanku di barisan sholat ashar itu, dan kembali ujung mataku menangkap gerakan orang itu yang berjinjit-jinjit seperti terburu-buru memasuki barisan shalat, karena lagi-lagi dia berada tepat di sebelah kiriku di barisan shalat. Rakaat pertamapun hampir selesai tanpa, namun memasuki rakaat kedua, orang yang sedari tadi menjadi perhatianku meski hanya di ujung mata ini tidak berdiri di rakaat kedua. Ku tidak akan menolehnya dan tidak akan mengurangi khusukku dalam shalat.

Assalaamualaikum, begitu kuucapkan di bagian akhir shalat di rakaat keempat sambil mengusap wajahku menolehkan muka ke kiri. Astaghfirullah, kulihat ternyata orang yang sedari tadi menarik perhatianku sekarang benar-benar jelas kulihat. Dia hanya punya satu kaki dan memang harus berjinjit-jinjit berwudhu dan shalat. Ya Allah, ampunilah hamba Mu yang penuh dosa ini, yang telah berprasangka buruk kepada orang yang seharusnya aku bantu melaksanakan kewajibannya.

Ya Allah, betapa Engkau telah memberikan aku kesempurnaan sehingga aku bisa melaksanakan shalat tepat waktu tanpa hambatan sedikitpun. Tanpa ada kekurangan sehingga aku harus selalu lebih tepat waktu melaksanakan kewajibanku memenuhi hak Mu menghadap Mu. Ya Rabb, berikanlah kemudahan kepada orang-orang cacat yang meski dalam kekurangan masih tetap berjuang untuk memenuhi kewajibannya menghadap Mu.

Diceritakan kembali dari cerita fakta: Nurhasan Hadi Suwarno, semoga bermanfaat. (abh/042014)

Leave a Reply