29 May

Ditulis di Kisah | Tidak Ada Komentar

Eksotisme Permanent Residence

Tanggal 20 Mei 2014 saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi Pulau Sebuku. Sebuah pulau di bawah naungan Kabupaten Kotabaru Propinsi Kalimantan Selatan. Pada google maps dengan skala 20 km diwakili 1,72 cm, dan jarak antara Banjarmasin ke Pulau Sebuku diwakili 17,33 cm maka didapat jarak lurus antara Banjarmasin ke Pulau Sebuku adalah sekitar (17,33/1,72) x 20 km = 201 km. Pulau Sebuku dapat dijangkau dengan perjalanan udara menggunakan pesawat tipe ATR 72-500 milik maskapai Wings Air atau Kalstar atau lainnya yang ada.

Perjalanan dari Bandara Sjamsudin Noor Banjarmasin memakan waktu hanya sekitar 30 menit menuju Bandar Udara Gusti Syamsir Alam di Kotabaru. Dari Bandara ini perjalanan kemudian dilanjutkan menggunakan transportasi air, Speedboat atau Jetboat. Menggunakan Jetboat (istilah ini digunakan karena boat yang kami gunakan ternyata dapat memuat lebih dari 20 orang dan hampir 2 kali lebih cepat dibandingkan kecepatan speedboat dengan penumpang maksimal 5 orang). Dengan Jetboat ini perjalanan dapat ditempuh sekitar 90 menit ke Pulau Sebuku.

Apakah Permanent Residence itu? Adalah sekumpulan tempat tinggal karyawan PT. Bahari Cakrawala Sebuku yang terletak di pinggir pantai sebelah timpur dari Sebuku, bersentuhan lansung dengan Selat Makassar dan jika ditarik lurus Barat-Timur, Permanent Residence tepat berhadapan dengan kota Pare-pare Pulau Sulawesi Selatan. Mungkin karena sedang tidak musim ombak besar, ombaknya tidak tampak ganas ditambah juga karena laut disini adalah selat dan bukan samudera.

Kesan pertama pribadi saya ketika melewati residen ini adalah ketenangan, kesunyian, kegelapan, kesepian, suasana magis. Tampak residen-residen berbentuk rumah-rumah namun kata beberapa sumber setiap rumah itu hanya dihuni oleh satu orang saja. Sedangkan jarak antara satu rumah dengan yang lain menurut saya tidak dekat karena masing-masing berada di kontur tanah bergunung-gunung dan di antara rumah-rumah itu ya pohon liar semak belukar. Atap berbahan seng yang sudah berkarat meyakinkan saya bahwa rumah ini telah melewati masa pemasakan yang cukup lama hingga atap seng itu mengandung banyak karat.

Bagaimana bisa tahu bahwa rumah-rumah tua itu masih berpenghuni? Ya, kebetulan pas kami melewati residen itu tepat di hari Minggu siang tanggal 25 Mei sekitar jam 11 WITA. Tepat di depan beberapa residen itu masing-masing parkir mobil berwarna putih tipe Mitsubishi Pajero, atau Mitsubishi Double Cabin Strada Triton. Kode-kode yang menempel di pintu kiri-kanan mobil mengindikasikan bahwa itu adalah mobil-mobil operasional tambang perusahaan. Kumpulan lumpur mengering di langit-langit roda menandakan bahwa mobil itu masih baru dipakai pada hari sebelumnya.

Kami kesana bertujuh yakni: saya, Sukron, Roni, Ajik, Eko, Uya, dan Kukuh. All New Ford Everest mengantarkan kami dari mess tempat saya menginap menuju Permanent Residen. Jalanan tambang penuh lumpur setelah hujan tidak merintangi roda-roda Ford Everest yang dikemudikan Roni. Beberapa menit setelah melalui jalan tambang, kemudian masuk ke Permanent Residen yang disamping kanan kiri jalannya adalah hutan belantara. Tampak beberapa rambu peringatan yang mengingatkan pengemudi untuk tidak menabrak buaya dan ular python jika kebetulan menyebrang jalan.

Tepat dibelakang mobil kami diparkir, tampak horizon laut biru disana. Rasa hati yang semula ngeri dan tertekan magis melewati permanent residence, sontak berubah menjadi rasa hati yang lapang gembira, suka, bebas, ingin teriak menatap luasnya lautan. Sebuah tangga curam berbahan kayu ulin, tampak indah dan kokoh dibuat untuk memudahkan menuruni bukit menuju pinggir pantai. Hampir semua dari kami tampak agresif merogoh saku masing-masing mengambil smartphone yang dimiliki untuk mengabadikan suasana pinggir pantai nan eksotis ini.

Tepat diujung tangga, kami kaget melihat tumpukan botol plastik bekas air mineral dan lain-lain yang sepertinya didorong oleh ombak menuju pinggir pantai. Suasana di pantai itu sepi dan hanya kami bertujuh yang ada disitu, karena area tersebut bukan tempat rekreasi umum. Namun tumpukan sampah plastik telah menodai eksotisme pantai. Entah siapa yang melakukannya namun sepertinya sampah-sampah plastik ini berasal dari laut yang mungkin telah dikirim secara terus-menerus dari sungai-sungai kecil yang ada disekitarnya.

Di atas pasir putih tampak lukisan indah bekas jejak-jejak anak rajungan yang keluar masuk dari dan ke lobang yang dibuatnya sendiri di permukaan pasir. Jejak-jejak mereka menandakan bahwa pantai ini amat jarang didatangi oleh pengunjung. Beberapa teman mengabadikan jejak-jejak anak rajungan berbentuk seperti jaring laba-laba ini. Kami pun segera beranjak menuju sebuah bentuk tonjolan batu di ujung sana yang tampak selalu diterjang ombak, ahhh indahnya terjangan ombak ke batu-batu itu. Cahaya matahari yang memantul dari tiap bintik air yang bermain dengan batu itu terasa amat meredakan semua rasa penat bekerja sekian lama.

Tidak banyak yang kami lakukan, namun bunyi ombak, luasnya hamparan air laut, pasir putih dengan kandungan kehidupan alam yang ada dipermukaannya, membuat kami amat menikmati suasana itu. Foto-foto, narsis sendiri, mengamati narsisnya teman lain, iseng memotret teman lain yang sedang memotret teman lain, membuat kami sering tertawa terbahak-bahak. Mungkin suasana beginilah yang dapat menjadi obat melonggarkan syaraf-syarat, melancarkan aliran darah yang mulai menggumpal. Tidak sampai satu jam, kaki-kaki ini telah diperintahkan oleh otak untuk bisa beranjak karena otak sudah merasa rileks dengan suasana disitu.

Insight dari touring ke pinggir pantai adalah bahwa ternyata masih banyak ciptaan Allah yang indah yang belum kita lihat. Bahwa kita hidup bersosialisasi selama ini merupakan bagian kecil dari banyak kehidupan lain yang sama-sama terus berputar sesuai kehendakNya. Tiap masalah yang telah membuat fisik kita penat hingga berujung kepada penyakit kronis, ternyata dapat diredakan dengan hanya melihat dan merasakan suasana lain yang amat berbeda dari suasana kehidupan sosial kita. Mungkin diantara kita telah juga memilih bersosialisasi menggunakan media sosial online bahkan, namun jika semua itu telah membuat fisik kita memuncak sampai batas kemampuan dan dapat membahayakannya, mari coba lihat suasana lain yang dapat meredakannya sebelum penyakit kronis membentengi kita dari keberlangsungan hidup kita di dunia, agar kita dapat terus menabung amal kebaikan demi mempersiapkan kita kepada kehidupan hakiki di ujung sana.

Semoga bermanfaat (abharto/052014)

Tinggalkan Pesan

Anda harus logged in untuk mengirim pesan.

Agus Budi Harto - Copyright © 2012 | All rights reserved.