6 May

Ditulis di Kisah | 2 Komentar

Vespaku Nostalgiaku

Vespa, begitu terkenal nama itu pada jamannya. Sebuah kendaraan roda dua dengan bentuknya yang khas. Terbayang sebuah kaca bulat agak kekuningan karena sudah tidak baru lagi diterpa hujan dan panas, harus memancarkan cahaya redup dari sebuah aki tua yang airnyapun tidak tahu tinggal seberapa. Barangkali sinar kunang-kunang itu lebih terang dari sinar vespa ini ketika harus melewati persawaha di malam hari. Lekukan khas bodi belakang kanan kiri, menempel kokoh menantang berbahan besi, tidak seperti seng yang mudah penyok ketika hanya ditekan oleh jari manis.

Suara knalpotnya yang garang, menggambarkan daya dorong mesinnya yang begitu kuat, bahkan ketika pistonnya sudah mulai longgar, suaranya lebih kencang dari larinya. Knalpot yang bukan disengaja ingin membuat suaranya melengking, namun karena asap keluaran mesin itu telah memenuhi saringan suara dalam knalpot dan membuatnya bahkan menghambat letupan mesinnya bekerja, knalpot wajib dibobok. Asap pekat di ujung knalpot menandakan bahwa si empunya tidak lupa mencampurkan olie ke bensin sebagai pelumas piston.

Teringat ketika pas di suatu tanjakan, rasa ragu mengganggu pikiran jernih, membuat was-was ketika terasa ada yang tidak nyaman di telapak tangan kiri yang sedang menarik kopling untuk menurunkan giginya. Kuturutkan laju vespa agar bisa sampai di ujung tanjakan. Namun apalah daya, tali kopling putus sebelum giginya berpindah dari dua ke satu. Preng..bbrrbrbrbrbrp, matilah mesinnya. Rem di tangan kanan menjadi tumpuan sebab kaki ini tidak sempat menginjak pedal rem tepat di tengah punggungnya.

Pada suatu ketika entah di tahun berapa, saat itu aku sedang dalam masa pendekatan dengan seorang gadis yang sekarang sudah menjadi ibu dari anak-anakku. Tak seorangpun tahu akan misiku, termasuk kedua orang tuaku, bahwa aku ada hati dengannya. Kuajak dia nonton panggung musik di Ancol, tentu, pasti dengan kubonceng dengan vespaku. Di sekitar pintu masuk Ancol dari arah timur, tiba-tiba melintas cepat di depanku motor ojek dengan tumpangan seorang marinir. Rem tangan yang kutarik bersamaan dengan rem kaki, tidak mampu mengimbangi beratnya kami berdua untuk berhenti. Braaak.. Si marinir dan tukang ojek terpelanting, kulihat lampu sain depannya patah.

Dalam sekejab kulihat kasihku terlempar jauh ke kiri, vespaku melayang jauh ke depan, dan aku sendiri ke arah kanan. Sang marinir memperingatkanku, hanya memperingatkan, Alhamdulillah. “Kalau pakai motor mbok ya hati2!,” begitu saja dan langsung pergi menjauh. Kulihat stang setir tidak searah dengan ban depan. Namun rasanya caranya mirip dengan cara meluruskan sepeda bandelku ketika ku jatuh. Himpit ban depan dengan kaki dan arahkan stangnya. Kecelakaan ini tetap tak menyurutkanku memanjakan kekasihku, nonton panggung lanjut terus. Tetap indah meski kakiku linu dan makin lama makin nyeri dimana-mana.

Malampun mulai pekat, acarapun sudah berakhir, kini tinggal acaraku mengantarkannya pulang. Vespaku menjadi saksi keindahan perjalanan menuju rumahnya. Begitu masuk ke dalam gang, kudapati jalan yang sedang akan dikeraskan, kerikil berpasir membuat vespaku terseok jalannya. Rasa linu dan perih di kaki dan tangan kini makin terasa ketika seluruh badan harus menyeimbangkan vespaku menyusuri jalan terseok ini. Alhamdulillah, akhirnya perjalananpun usai, hanya tinggal mendeko bodi vespa dengan sedikit polesan, cling.. jadilah.

Esok malamnya kupanggil mbok-mbok tukang urut langgananku, sambil mengurut kakiku dia bercerita bahwa dia juga baru mengurut seorang gadis di desa sebelah yang juga sama-sama jatuh. Hmmm.. rupanya tukang urut gadisku juga sama denganku. Ku hanya tersenyum malu ketika mengingat saat-saat ku jatuh bersama dengannya. “Koq bisa sama ya nak, kalian sama-sama habis jatuh, pasti kalian tidak saling kenal, hehehe..” begitu mbok urut menyimpulkan dengan senyumnya.

Setelah mbok urut pulang, ku ditegur ama ibuku, “kamu habis jatuh dengan gadis itu ya?, koq kamu gak ngenalin ke ibu?” Hmmm.. mampus aku.. akhirnya ketahuan juga. Otakku sejenak berputar, tapi ibuku tahu darimana ya? Gak mungkin. Pasti ibu hanya bercanda, hanya menebak. Sampai akhirnya ibuku menutup tegurannya dengan senyum kecut menjauhiku “NENEKNYA YANG MEMBERITAHU IBU!..” wussh, darahku berdesir, rahasia negara akhirnya bocor! Sekali lagi Ibuku menoleh ke arahku. “Makanya hati-hati kalau mau ngajak anak gadis orang, jangan coba pakai vespa kalau masih belajar!”.

Diceritakan ulang dari pencerita aslinya: nn (abharto/052014)

2 Responses to “Vespaku Nostalgiaku”

  1. mashuri says:

    Vespa nya masih kah pak hehehehe,….nostalgia banget tuch

    • agus says:

      Vespanya yg dulu sdh ga ada lagi Pak. Vespa yg ada disini cerita ulang dari kisah seorang sahabat.

      Terima kasih atas komentarnya, semoga sukses ya Pak:)

Tinggalkan Pesan

Anda harus logged in untuk mengirim pesan.

Agus Budi Harto - Copyright © 2012 | All rights reserved.