Kuadran Miskin Kaya

Kata guru ngajiku jangan melihat ke atas, ya sudah aku coba palingkan pandangan ku ke arah jendela bus yang kutumpangi. Betapa terkejutnya saat ku melihat seorang anak penjaja sapu lidi yang sedang duduk di pinggir jalan trotoar, menunggu lampu merah, dia menggenggam gadget Samsung S4 4,5. Woow hebatnyaa. Jadi bingung, melihat ke atas terlalu tinggi ku raih, lihat ke bawah pun begitu hebatnya anak jalanan itu, lalu aku harus lihat kemana ya? Apa lebih baik aku berkaca diri aja?

Begitulah tulisan dari seorang penulis kreatif pada sebuah blog. Tulisan ini menginspirasi kita bahwa banyak terdapat kondisi dimana sebagian golongan dari kita dipandang sebagai golongan orang-orang bawah, terpinggirkan, di bawah garis kemiskinan, kurang beruntung, miskin, jelata, dan istilah lainnya. Namun ternyata setelah kita lihat lebih dalam, ternyata tidak semua dari mereka benar-benar menderita seperti penderitaan yang terlukis di wajahnya ketika mereka meminta belas kasihan saat berada di lampu merah. Mari coba lihat kisah lainnya di sini.

Untuk membahas masalah tentang si miskin yang ternyata kaya, atau si kaya yang ternyata miskin, kita dapat memilah kondisi ini menjadi 2 faktor, yakni: kondisi finansial (financial) dan gaya hidup (style). Kedua faktor tersebut jika dikombinasikan akan menghasilkan semacam kuadran miskin kaya sehingga akan terdapat 4 kombinasi kondisi, yakni:

Kaya dan Bergaya

Adalah suatu keniscayaan jika seorang yang memiliki kelebihan uang akan dapat membeli apa yang dia butuhkan bahkan apa yang sekedar dia inginkan. Sebuah mobil mewah katakan Lamborghini, meski si pemilik telah banyak memiliki mobil lain yang diperlukan untuk operasional keseharian, namun dia masih dapat membeli mobil lain yang tidak diperlukan namun diinginkannya.

Miskin dan Rendah Diri

Sudah banyak kita lihat bahkan negara kita menyampaikan angka tingkat kemiskinan secara berkala sebagai bagian indikator keberhasilan pengelolaan pemerintahan. Suatu keniscayaan pula bahwa orang yang tidak memiliki uang yang bahkan untuk biaya makan hari itupun masih bingung harus di dapat dari mana, akhirnya akan merasa rendah diri karena dilihatnya tidak sama dengan orang yang berada. Membanding-bandingkan adalah barangkali agenda rutin tidak tercatat yang otomatis akan timbul bahkan sejak keluar dari pintu rumah melihat rumah tetangga yang jauh berbeda dari rumah yang ditinggalinya. Membanding-bandingkan inilah awal dari munculnya sikap rendah diri.

Kaya tapi Rendah Diri

Orang kaya tapi rendah diri? Hampir tidak mungkin terjadi. Meskipun ada, barangkali ada faktor lain yang menyebabkannya, misalnya kekayaan yang dimilikinya adalah hasil dari perbuatan jahatnya terhadap negara lain, terhadap sesama bangsanya sendiri, tetangganya sendiri bahkan terhadap saudaranya sendiri. Dan tentunya karena sensor rasa malunya masih setia menempel mengontrol dirinya. Jumlah yang lebih banyak adalah kondisi dimana terdapat orang yang kaya dengan hasil kekayaan berasal dari kejahatannya terhadap orang lain misalnya korupsi dan merasa bahwa korupsi itu keniscayaan, lumrah dan biasa, maka yang terjadi adalah orang-orang ini masuk dalam kuadran Kaya dan Bergaya 🙂

Miskin tapi Bergaya

Disinilah letak bahasan paragraf pertama itu terjadi. Orang miskin tapi bergaya dapat terjadi karena beberapa hal yang tidak terbatas kepada:

  1. Lingkungan, seperti yang terjadi pada anak penjaja sapu lidi tadi, sebenarnya untuk mengentaskan dirinya dari kemiskinan adalah prioritas terakhir. Pakaiannya yang lusuh karena debu jalanan yang menempel, kering oleh sengatan matahari setelah diguyur gerimis. Sekolahnya pun tidak terurus, apalagi untuk membeli rumah atau membuat usaha. Style menggunakan gadget mahal bisa didapat dari orang-orang yang melintas, di iklan televisi, spanduk terjuntai di ujung perempatan, dsb.
  2. Sejarah, orang-orang yang dulunya pernah kaya dan kemudian tiba-tiba mendadak miskin karena berbagai kondisi misalnya usahanya bangkrut, pemecatan sepihak oleh perusahaan atau dinas tempatnya bekerja, dicerai oleh suami atau istri yang kaya, diusir oleh orangtuanya yang kaya, dsb. Seringkali orang yang memiliki nasib seperti ini meski finansialnya sudah berubah drastis, namun karakter yang sudah tercetak dalam dirinya tidak serta merta mengikutinya. Kecuali orang-orang yang sering melakukan introspeksi diri, bermuhasabah, berkaca, bahwa apa yang diberikannya di dunia ini hanyalah titipan Allah semata yang harus dijaga agar tugas kita untuk menjalankan ibadah kepadanya dapat kita lakukan dengan lebih baik.

Dampak dari kuadran keempat Miskin tapi Bergaya ini adalah bahwa orang-orang ini kemudian akan mengalami depresi berat, tidak percaya pada lingkungan, pada dirinya sendiri bahkan bisa terjadi tidak percaya akan Sang Maha Pencipta yang selama ini telah menyayanginya. Orang-orang ini yang masih tetap ingin bertahan dengan gayanya, akan berusaha keras dengan berbagai cara misalnya: mencuri, merampok, memeras, menipu, dsb. Dan sebagian yang lain yang sudah putus asa akan mendekatkan dirinya kepada cara-cara mudah yang dianggap menghilangkan sakit kepalanya termasuk misalnya menyalahgunakan Napza.

Banyak Bersyukur

Pembaca yang budiman, termasuk dibagian manakah Anda saat ini. Saya yakin seorang pembaca adalah orang yang memiliki waktu untuk membaca dan sudah tidak perlu banyak memikirkan finansial karena mungkin finansial Anda sudah stabil dan hanya tinggal menambah ilmu pengetahuan dengan membaca. Alhamdulillah, mari kita banyak bersyukur dimanapun kuadran kita berada, karena Allah sudah berjanji akan meningkatkan nikmat kepada makhluknya yang bersyukur.

Semoga bermanfaat. (abharto/062014)

Leave a Reply