24 June

Ditulis di Opini | Tidak Ada Komentar

Pengultusan Uang

Contoh Kasus 1, Kisah Malinkundang

Kisah Malinkundang menjadi amat tersohor sebagai sosok durhaka terhadap ibu kandungnya. Contoh durhaka yang harus dihindari ini tertuang dalam buku-buku pelajaran sekolah ketika kita masih duduk di Sekolah Dasar. Sekilas kita mengingat bahwa Malinkundang durhaka karena diawali dari keinginannya untuk menjadi kaya raya, mendapatkan uang sebanyak-banyaknya agar apa yang diinginkannya dapat diperoleh dengan mudah. Namun uang yang telah diperolehnya kemudian menutup matanya dari hal-hal yang seharusnya lebih prioritas, kemudian disisihkan hingga terjungkal dikalahkan oleh uang, termasuk ibu kandungnya.

Contoh Kasus 2, Kisah Terpaksa Demi Anak

Lily adalah seorang wanita yang dilihat dari hentakan suaranya ketika berbicara, menyiratkan bahwa dia adalah benar seperti apa yang diceritakannya kepada saya waktu itu. Mantan istri seorang pengusaha kaya ini kini tinggal semangatnya untuk berusaha mandiri, mengejar ketertinggalan kondisi finansialnya agar bisa senikmat seperti ketika suaminya Koko masih mau berbagi pakai (sharing) uang melimpah yang mereka miliki. Namun Lily tidak sama kuat dengan Koko, sehingga harapan Lily untuk kembali kaya seperti ketika masih bersama Koko, tidak dapat diraihnya. Apa yang kemudian dilakukannya? Satu-satunya harta Lily yang masih dapat dijual adalah keelokan casing yang diciptakan yang Maha Kuasa. Dia terpaksa harus mau dibagi-pakai dengan pengusaha lain yang memerlukan jasanya, untuk mendapatkan uang.

Contoh Kasus 3, Kisah Terpaksa Demi Politik

Tidak sedikit kisah artis wanita yang menjadi politikus kemudian bercerai dengan suaminya. Adalah manusiawi jika seseorang menjadi politikus kemudian tidak seutuhnya berjuang untuk rakyat, kalau tidak percaya coba saja semua politikus taruh dibarisan depan saat berperang demi membela rakyat. Yah, lagi-lagi uang menjadi incaran di media politik ini. Seorang artis wanita yang menjadi politikus memiliki tantangan berbeda dengan bukan artis. Melancong sebagai kegiatan yang dimasukkan dalam agenda perjalanan dinas, menyeret mereka ke dalam alunan nada perselingkuhan dan berakhir dengan perceraian dengan suaminya yang syah. Uang telah kembali menjadi topik utama dibalik kisah-kisah selebritis politikus.

Uang untuk Membeli Keinginan

Uang pada dasarnya hanyalah sebuah obyek yang dapat dijadikan alat untuk mendapatkan apa yang diinginkan oleh pemiliknya. Semakin banyak uang maka akan semakin banyak pula keinginan-keinginan yang dapat diwujudkan. Keinginan amatlah berbeda dengan kebutuhan. Kebutuhan hidup manusia di suatu daerah dapat disimpulkan nilai rata-ratanya. Karena untuk menunjang kelangsungan hidup sebenarnya manusia tidak memerlukan banyak hal. Bayangkan jika kita berada di sebuah pulau dan kita harus bertahan hidup, setidaknya kita hanya perlu senjata untuk berburu, alat untuk memasak, media untuk beristirahat, dan hal-hal lain yang amat sederhana. Keinginan cenderung lebih abstrak, gantungkan cita-citamu setinggi Sutet, ucap seorang penyiar di GenFM pada sebuah sore. Keinginan amat sangat beragam dan kadang hampir tidak terbatas.

Risiko Mendewakan Keinginan

Kita sepakat bahwa orang dengan kemampuan menjangkau keinginan lebih banyak, akan lebih dipercaya oleh orang-orang di bawahnya. Mereka bilang untuk menggantungkan cita-cita setinggi langit agar keinginan terwujud, bahwa hanya orang-orang yang dapat bermimpi dan kemudian bekerja keras mewujudkannya yang akan menjadi orang sukses. Namun ternyata kemudian bahwa orang yang memiliki mimpi besar lebih banyak dari pada orang yang bekerja keras mewujudkannya. Sisanya adalah orang-orang yang keinginannya lebih besar dari pada kemampuannya, dan selebihnya adalah orang-orang yang tidak memiliki keinginan.

Adalah wajar jika orang-orang yang tidak memiliki keinginan lalu kemudian tidak memiliki apa-apa, namun bagi sebagian orang yang memiliki keinginan lebih tinggi dari keinginannya kemudian cenderung akan mengambil jalan pintas dengan berbagai cara. Sebenarnya orang-orang ini tahu akan potensi risiko atas ketidak berhasilannya, namun mereka tetap yakin bahwa celah keberhasilan selalu ada. Jika gagal, mereka sudah tahu misalnya akan masuk penjara, gagal dalam rumah tangga, rusaknya citra baik, dsb. Dan jika berhasilpun masih akan muncul rasa sombong seperti yang terjadi pada kisah Malinkundang.

Rencana Sesaat atau Persiapan Akhir Masa

Begitulah hidup, benda-benda yang tampak nyata akan lebih banyak berpengaruh terhadap sikap memilih mendewakan uang daripada menyiapkan diri pada sesuatu yang kekal di masa nanti. Banyak bagian dari kita yang kemudian dibutakan oleh kesilauan materi, dan lupa bahwa kita tidak tahu kapan kita akan dipanggil oleh Sang Maha Pencipta karena kontrak hidup yang sudah kita tandatangani berakhir. Banyak dari kita lupa untuk kembali kepada apa tugas dan kewajiban kita diciptakan hidup di dunia, bahkan hingga tidak percaya kepada apa yang telah dituliskan oleh Rasul yang ditugaskan untuk menyampaikan kepada kita.

Pembaca yang budiman, di luar kerja keras banting tulang meraih rejeki, ternyata masih ada tugas mulia kita hidup di dunia. Mari kembali kepada fitrah. Sebentar lagi insyaallah kita akan bertemu dengan bulan Ramadhan, adalah kesempatan kita untuk mengejar ketertinggalan ini sebelum kita benar-benar habis kontrak untuk menjalankan hidup di dunia ini. Uang memang penting, sebatas sebagai alat tukar-menukar barang, namun pengendalian diri atas perwujudan keinginan-keinginan yang akhirnya kita tinggalkan semuanya di dunia nanti, adalah jauh lebih penting. Sudah siapkah kita ditanya tentang tugas-tugas kita sebagai makhluk?

Semoga bermanfaat. (abh/062014)

Tinggalkan Pesan

Anda harus logged in untuk mengirim pesan.

Agus Budi Harto - Copyright © 2012 | All rights reserved.