Cakung – Cuaca Mendukung

Melihat banyaknya nama jalan di Jakarta, tidaklah banyak yang kenal baik dengan nama Jalan Bekasi Timur Raya. Potongan jalannya berada di antara terminal Pulogadung dan simpang Tol Lingkar Luar Timur. Namun akan berbeda jika orang menyebut kata Cakung, terbayang betapa hebatnya keruwetan lalu lintas di sana.

Pada pagi hari, mulai dari pertigaan depan Pasar Cakung, kendaraan sudah diijinkan untuk melawan arus. Jalur di sebelah kanan sudah dipasangi marka-marka yang mengindikasikan bahwa jalan itu dapat dilalui oleh kendaraan dari arah berlawanan. Sejenak ketika hendak melewati jalan itu, petugas sudah mengabaikan tangannya untuk mempercepat laju kendaraan dan mengarahkan sebagiannya melewati jalur kanan itu.

Kondisi ini amat membantu para pengendara yang harus terburu-buru sampai di tempat tujuan, karena jalur kanan cenderung lebih longgar. Kecepatan kendaraan bisa lebih tinggi dan kemudian akan menumpuk kembali di ujung pembatas dekat dengan lampu merah pupar, karena semua kendaraan yang telah memilih jalur kanan harus kembali memaksa untuk masuk kembali ke jalur yang benar, di sebelah kiri.

Kondisi ini membuat para pengendara yang setia untuk memilih jalur kiri harus mengalah dengan masuknya kendaraan dari sebelah kanan. Biasanya kendaraan yang agak galak adalah kendaraan dengan warna mobil oranye, barisan angkot dan lebih galak lagi bis tanggung yang terkenal banyak masuk berita TV karena aksi ugal-ugalannya. Pengendara yang sabar hanya bisa mendecak melihat keberanian sopir metromini memaksa busnya masuk dari jalur kanan langsung memotong jalan menuju lajur kiri paling kiri.

Setelah pertigaan pupar, kendaraan kembali dipaksa melambat akibat adanya tembok penanda sungai yang memotong jalan agak ke tengah. Maju sedikit kemudian akan tampak beberapa angkot kembali beraksi dengan berhenti di lajur kanan untuk menurunkan penumpang tepat disekitar pertigaan jalan Pegangsaan Dua, karena banyak karyawan pabrik yang harus transit menuju arah utara.

Pada sore hari akan makin terasa lebih ribet. Kendaraan dari berbagai arah barat Pulogadung berduyun-duyun masuk ke jalan tersebut ditambah dengan pulangnya karyawan dari berbagai pabrik di kawasan industri pulogadung. Satu pemandangan yang tidak dapat kita lupakan adalah adanya beberapa anak jalanan membawa karung yang mengincar truk-truk besar. Tangki bahan bakar menjadi incaran anak-anak ini untuk disedot menggunakan slang yang sudah disiapkan. Atau truk pembawa besi tua dinaikin untuk diambil sebagian barangnya, atau jika tidak mereka mendekati sopir truk untuk meminta rokok.

Tepat di depan pintu keluar PT. Cakratunggal Steel, truk-truk besar seringkali dipaksa melintas memotong jalan berputar arah ke arah Pulogadung. Hal ini menambah beratnya kemacetan yang ada. Angkot dan metromini sudah menyiasatinya dengan memilih lajur kiri mulai dari pertigaan jalan Pegangsaan Dua. Sampai di pintu keluar United Tractors, seringkali truk dipaksa melintas agak sedikit melawan arus menuju jalan Inspeksi Cakung Drain.

Itulah Cakung yang sesungguhnya, hiruk-pikuk kendaraan dengan arah yang semrawut ditambah dengan kehidupan yang dapat membuat pengendara truk agak risih dibuatnya. Namun kehidupan seperti ini sudah lama terjadi dan menjadi roda kehidupan normal yang harus bergulir. Apa sebaiknya yang harus kita lakukan untuk membantu mengurangi keruwetan di Cakung ini?

Pemerintah tampaknya sedang mencoba mengambil hati para pemakai jalan dengan mengadakan bus TransJakarta. Di awal-awal bus hanya berisi sedikit saja karena pengendara belum yakin akan ketersediaan bus setiap saat jika mereka hendak pergi dan pulang kerja. Halte busway yang sudah dibuat telah menjadi tambahan masalah keruwetan ini. Sekitar 2 meter tepat di tengah pembatas jalan Cakung, memakan jalan dan membuat kondisi makin parah.

Beberapa penyebab dasar dari masalah keruwetan di Cakung adalah:

  1. Banyaknya pengguna kendaraan yang berasal dari karyawan pabrik dari kawasan industri Pulogadung, dan tinggal di daerah perumahan di Bekasi yang tergolong masih terjangkau harga belinya.
  2. Beberapa sekolah berada di sekitar jalan ini membuat beberapa angkutan umum seringkali ngetem di pinggir jalan untuk menunggu penumpang pelajar naik.
  3. Tidak ada jalan alternatif bagi pengendara yang akan melintas dari Bekasi Barat menuju arah Kelapa Gading dan arah setelahnya termasuk kawasan Senin dan Gunung Sahari.

Akibat yang sering dirasakan oleh pengendara adalah menurunnya keyakinan akan waktu tempuh yang diperlukan untuk melewati jalan Cakung. Jika dalam kondisi kosong misalnya dari Pulogadung Trade Center menuju kawasan Harapan Indah, perjanan dapat ditempuh hanya sekitar 15 menit saja, namun dalam kondisi macet bisa sampai 3 jam. Tidak semua karyawan golongan bawah saja yang melintas disini, namun bagian-bagian perusahaan yang lebih tinggi juga melintasi jalan ini sehingga potensi kerugian tidak dapat dikatakan sepele.

Solusi yang dapat menjadi pertimbangan adalah:
Jangka Pendek:

  1. Hindari jalan cakung sedapat mungkin dan/atau hindari melintas pada jam-jam macet melalui jalur selatan misalnya di jalan Buaran.
  2. Maksimalkan fungsi busway yang sudah ada dengan penambahan yang signifikan sekaligus dan pengadaan parkir luar gratis di sekitar harapan indah sehingga orang akan cenderung memilih menggunakan layanan busway daripada harus berdesak-desakan. Pastikan bahwa lajur busway sudah benar-benar steril.

Jangka Panjang:

  1. Perketat ijin penambahan pabrik di kawasan industri Pulogadung, atau pemindahan pabrik ke area lain yang lebih lega.
  2. Buat jalan layang di setiap persimpangan seperti yang sudah ada di jalan Jatinegara – Casablanca – Kuningan.
  3. Larangan bagi angkot untuk menaikkan atau menurunkan penumpang kecuali pada halte-halte yang sudah disediakan dan dibuat agak menjorok keluar jalan agar tidak mengganggu jalan. Sekaligus larangan bagi calon penumpang untuk memberhentikan angkot di tengah jalan.

Semoga bermanfaat. (abharto/072014)

Leave a Reply