Kerapihan Infrastruktur Menunjukkan Keseriusan Pengelolaan

Mudik merupakan acara tahunan yang sudah tidak asing lagi terutama bagi penduduk Indonesia yang berada di Pulau Jawa. Tidak seperti di sebagian pulau lain, eforia mudik begitu terasa di pulau ini. Mudik merupakan istilah yang amat kental digunakan untuk menggambarkan kegiatan pulang ke daerah asal oleh sebagian besar penduduk yang kesehariannya beraktifitas di pusat-pusat kota di Pulau Jawa khususnya DKI Jakarta.

Jika Anda pernah melakukan driving sendiri dari arah Jakarta menuju bagian timur Pulau Jawa, dimulai dengan melintasi tol Cikampek yang membujur dari Jakarta lurus ke arah timur hingga Cikampek. Kondisi jalan tol Cikampek tidak begitu mulus, masih dapat dirasakan bedanya dengan kondisi jalan tol Jagorawi, melintasi tol Jagorawi dapat membuat pengendara tertidur pulas karena kemulusan permukaan jalan dari simpang Cawang hingga Ciawi.

Keluar dari tol Cikampek, terasa sekali ketidakmulusan permukaan jalan yang ada, mulai dari bekas tambalan aspal di banyak bagian, permukaan jalan yang bergelombang seperti permukaan jenang/dodol yang ditekan-tekan, perbedaan kualitas aspal yang bervariasi mulai dari yang amat halus hingga kasar yang membuat roda kendaraan menderu ketika melintasinya, sambungan jembatan yang tidak rata dengan permukaan jalan, marka jalan yang tidak semuanya terang dan bahkan sebagian hanya merupakan koreksi dari marka jalan yang lama hingga tampak tumpang tindih, dan lain-lain.

Dari Cikampek hingga Cirebon, lebih mencolok lagi pada ruas di sepanjang jalan di Brebes. Tambalan aspal begitu mengharukan, kendaraan dibuat pelan tapi malah membuat macet, namun jika dibuat kencang rasa was-was akan keselamatan pun timbul, karena getaran akibat benturan ban dengan tambalan aspal membuat seluruh badan kendaraan bergetar, serasa beberapa kaki-kaki kendaraan tidak akan lama bertahan. Ya, tambalan aspal di Brebes adalah paling parah dari keseluruhan ruas jalan bekas pekerjaan jalan Daendels, Anyer – Panarukan.

Tibalah kemudian lintasan jalan di tol Kanci, tol ini amat terkenal dengan tol yang dahsyat karena sambungan beton yang tidak rata, seolah petakan beton satu dengan yang lain tidak bekerja sama dengan kemiringan berbeda-beda. Tol yang katanya dibuat oleh perusahaan milik grup Bakri ini selain amat tidak rata dan dapat membuat kendaraan terbang-terbang, tarif tolnya adalah paling tinggi, silahkan hitung sendiri tarif tol per meter jalannya.

Di daerah sebelum gresik, terdapat 2 pilihan jalan setelah Tuban, pilihan sebelah utara melewati daerah Paciran, lalu-lintas lebih sepi karena tidak ada bus-bus besar yang melintas, namun jalannya amat bergelombang. Gelombang jalan amat terasa karena permukaan jalan yang hampir semuanya bergelombang. Aspalnya memang halus tapi gelombangnya tinggi. Berbeda dengan pilihan sebelah selatan melewati Lamongan, lalu-lintas amat padat namun jalannya lurus dan kokoh.

Jika Anda terus melanjutkan perjalanan ke Denpasar, dimulai dari setelah menyeberang di Gilimanuk, jalan sudah amat sangat rapih, dilengkapi dengan marka jalan yang terang serta aspal yang berwarna hitam pekat. Bukan hanya di awal jalan saja yang begitu namun hingga Denpasar kualitas infrastruktur jalan amat baik. Bahkan dari Denpasar menuju Nusa Dua sudah dibangun jalan layang tol melintas di atas permukaan laut nan indah.

Apa yang dapat disimpulkan oleh seorang pengendara yang tidak tahu-menahu tentang urusan pengelolaan anggaran pembangunan, beberapa penumpang bersama saya sempat bergumam, jika Bali tidak memiliki sumber daya alam seperti minyak dan batubara seperti daerah lain, namun mengapa infrastruktur jalannya amat bagus? Jauh lebih bagus daripada ruas jalan di daerah yang memiliki sumberdaya alam? Apakah karena kultur budaya yang jauh dari sifat-sifat koruptif, ataukah pemda Bali bisa meyakinkan pemerintah pusat bahwa Bali adalah obyek wisata internasional, ataukah memang pengelolaan keuangannya memiliki kontrol yang kuat?

Silahkan berfikir (abharto/082014)

Leave a Reply