13 August

Ditulis di Kisah | Tidak Ada Komentar

Ketinggalan HP di Bandara Soetta

Handphone (HP) kini telah menjadi bagian kelengkapan kegiatan hidup yang cenderung dianggap amat penting bagi kehidupan kita. Bahkan pada sebagian orang, HP dianggap merupakan bagian dari tubuh dan tidak boleh tertinggal dimanapun. Sebagai contoh, kadang seorang pekerja akan membiarkan dokumen penting pekerjaannya tertinggal di rumah, namun jika HP yang tertinggal maka kudu balik ke rumah untuk mengambilnya.

Berbagai alasan mengapa HP ini menjadi lebih penting daripada aksesori apapun, adalah karena HP yang kini mulai telah dilengkapi banyak fitur, semakin hari semakin menjadi pelengkap kekurangan manusia yang memilikinya. Fitur Calendar akan membantu seorang yang sering lupa akan agenda kegiatan, fitur corporate email akan membantu karyawan untuk selalu intouch dengan informasi terkait pekerjaannya, portal berita akan membantu setiap insan yang ingin selalu tahu update mengenai update berita terbaru.

Pada hari Minggu tanggal 10 Agustus 2014 yang baru lalu, saya berangkat dari rumah sekitar jam 09:30 untuk menuju tempat tugas di Kalimantan Timur dengan penerbangan jam 13:40 di terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta. Sampai di bandara sekitar jam 11:30. 1 tas berisi pakaian dan 1 ransel berisi perangkat penting termasuk notebook saya masukkan ke mesin scanner bandara, serta tak lupa hp samsung saya letakkan pada sebuah baki warna biru yang disediakan agar pada saat diperiksa, petugas tidak cerewet meminta agar HP nya dikeluarkan dari saku.

Sibuk untuk membuka jaket setelah melewati scanner tubuh, lalu kedua tas dan ransel buru-buru saya bawa untuk mencari pengikat tas yang biasa disediakan di bandara untuk memperkuat proteksi tas yang dimasukkan ke bagasi. Pengikat tas dimaksud ternyata sudah tidak disediakan dan saya langsung menuju loket General Check-in Garuda Indonesia. Proses check-in amat cepat karena antrian kali ini tidak panjang.

Tepat setelah mendapatkan boarding pass dan menyimpan KTP, GFF Card serta kertas tiket, otomatis tangan saya menggerayangi saku kanan tempat HP biasa disimpan. Kaget, cemas, sedih, khawatir dan perasaan tidak enak lain menyelimuti kepala hingga sedikit keringat dingin mulai menembus kulit jidat yang mulai pelontos. Ya, saya baru ingat bahwa saya belum mengambil HP yang saya masukkan ke mesin scanner bandara tersebut.

Kaki melangkah cepat hingga seperti melompat-lompat mengajak badan ini menuju mesin scanner. Tanpa basa-basi saya katakan kepada petugas bahwa smartphone saya ketinggalan di mesin scanner ini. Bebeberapa pertanyaan dilontarkan petugas diantaranya, “Apakah bapak yakin bahwa tadi melewati mesin scanner ini atau mesin yang lain?”, “Jam berapakah kira-kira bapak melewati scanner ini”, “Apakah sudah diperiksa jangan2 HP nya ada di dalam tas atau ditinggalkan di tempat lain?”, “Apakah HP nya ditempatkan di baki yang disediakan atau tidak?”

Sepuluh menit yang lalu paling lama saya melewati mesin scanner tersebut, bergegas membawa kedua tas tanpa mengambil HP menuju loket check-in yang ada disitu (sambil menunjuk loket), setelahnya saya langsung bergegas kemari untuk mengambil HP yang ketinggalan, begitu saya terangkan kepada petugas bandara yang berseragam coklat tua dengan atribut pangkat kuning emas. Petugas segera memerintahkan untuk memblokir aliran penumpang yang melewati scanner tersebut, memeriksa bagian dalam mesin dan men-scanning ulang tas ransel yang saya bawa.

Petugas lalu melihat video yang merekam perjalanan tas saya, dan mengontek petugas lain (ke sentral keamananan sepertinya) melalui radio bahwa ada laporan seorang calon penumpang kehilangan HP di mesin scanner 4 di bandara Soekarno Hatta terminal 2F pada sekitar 10 menit yang lalu dan penumpang tersebut (saya) ada di sampingnya. Saya bertanya kepada petugas wanita yang terlihat seperti sebagai koordinator petugas disitu, apakah perjalanan saya dan kemungkinan HP dicuri orang bisa dilacak melalui CCTV? Dia menjelaskan semua CCTV yang ada disekitar itu, 1 berada di luar sebelum scanner, 5 ada di bagian dalam dan termasuk mesin scanner sendiri untuk kepastian identitas tas dan pemiliknya. Berkali-kali petugas menelpon nomor HP yang saya berikan namun saya jelaskan bahwa HP saya dalam kondisi silent dan terkunci.

Beberapa saat kemudian petugas wanita bertubuh tinggi tegap menyuruh saya untuk tetap duduk disekitar mesin scanner 4 dan selalu menjaga tas ransel yang saya bawa. Saya lihat dia sambil berkomunikasi via radio menjauhi saya dan menuju salah satu loket check-in garuda. Beberapa saat samar-samar dia berbincang dengan pemuda yang saya ingat sekilas berada di belakang saya bersama satu orang lainnya.

Petugas wanita tersebut dari jauh melihat saya dan membawa penumpang tersebut mendekati saya sambil membawa sebuah benda mirip HP. Berjarak sekitar 5 meter dari saya, petugas wanita memberi kode bahwa orang tersebut yang mengambil HP. Saya kemudian mendekati orang tersebut yang tetap didampingi oleh petugas. Seorang laki-laki berperawakan kecil, matanya melotot takut melihat saya yang terus mendekatinya.

“Kenapa Anda membawa HP itu?” saya bertanya kepadanya. “Saya pikir itu adalah HP teman saya yang ketinggalan di baki biru keluar dari mesin scanner nggak ada yang ambil Pak,” begitu dia menjelaskan. “Anda tidak boleh begitu, sudah jelas bukan hak mengapa Anda ambil juga, kemana Anda akan kembalikan HP itu jika teman Anda tidak merasa memilikinya, dan kenapa tidak langsung Anda serahkan kepada petugas sebelum petugas mencari Anda?” sergah saya menangapi jawabannya yang tidak berdasar. Mukanya memerah dan terbata-bata “Saya minta maaf Pak….” kalimatnya saya potong dan saya peringatkan “Jangan mengulangi lagi, jika CCTV tidak menangkap Anda, sesungguhnya Yang Maha Melihat akan selalu melihat perbuatan kita.”

Berdasar pengalaman ini, beberapa pelajaran yang bisa saya dapat adalah:

  1. Secara umum, pastikan selalu semua barang yang kita bawa dimana saja sepanjang perjalanan.
  2. Pastikan bahwa HP tidak silent selama perjalanan, selain untuk memastikan bahwa keluarga dan teman bisa menghubungi kita dimanapun dan kapanpun, juga untuk memudahkan petugas mencari HP tersebut dengan memanggilnya.
  3. Tidak semua orang berniat buruk untuk mencuri, namun orang baikpun belum tentu punya kesempatan mengembalikan kepada petugas jika kita ketinggalan HP di suatu tempat.
  4. CCTV amat membantu melacak suatu kejadian, namun CCTV jumlahnya amat terbatas kepada view point tertentu. Namun percayalah bahwa Yang Maha Melihat akan selalu melihat aktivitas kita, jika Dia mengijinkan pencuri mengambil barang kita, maka kitas sedang diuji akan kesabaran dan keikhlasan terhadap apa-apa yang dititipkan kepada kita.

Saya mengucapkan terima kasih kepada petugas bandara yang secara profesional telah menunjukkan layanan terbaiknya khususnya para petugas Bandara Soekarno Hatta Terminal 2F yang berjaga di Mesin Scanner 4 pada tanggal 10 Agustus 2014 jam 11:30 WIB. Berikut adalah nomor-nomor HP petugas yang secara pribadi menelepon ke nomer saya: 081281817xxx (6 missed call), 083893543xxx (1 missed call), siapapun Anda dan apapun jabatan Anda, semoga budi baik ini dibalas dengan berlipat kebaikan di masa mendatang, Aamiin. Semoga cerita ini membawa manfaat. (abharto/082014)

Tinggalkan Pesan

Anda harus logged in untuk mengirim pesan.

Agus Budi Harto - Copyright © 2012 | All rights reserved.