20 September

Ditulis di Opini | Tidak Ada Komentar

25 x 1 Tidak Sama dengan 1 x 25

Judul ini memang aneh, bukan hanya Anda yang membacanya namun saya juga merasa hal yang sama ketika menulis ini. Bahkan mungkin ketika judul ini dibaca oleh para Bapak dan Ibu guru Sekolah Dasar yang ketika mengajari kita saat kita belia dulu, dengan teguh dan sabar ingin agar kita pintar termasuk hafalan perkalian semacam ini. Terbayang bagaimana perasaan mereka ketika kita yang dulu sudah tahu bahwa 25 x 1 = 1 x 25 ternyata kita bantah saat kita sudah berumur seperti hari ini.

Judul ini sebenarnya sama sekali bukan merupakan bantahan dari hukum komutatif, namun muncul terpikir tiba-tiba dalam benak membayangkan bagaimana seorang pria tua tukang becak yang telah 25 tahun menggeluti profesinya, sejak dia berusia 25 tahun ketika otot kakinya telah mampu mengayuh pedal dengan muatan 2 orang di atas becaknya. Tangannya yang mulai kokoh bisa mengendalikan kestabilan arah becak membuatnya yakin bahwa mengayuh becak adalah pilihan terakhir yang harus dijalani sebagai makhluk ciptaan-Nya.

Setiap pagi sebelum berangkat ke tempat biasa dia mangkal tepat di pertigaan jalan masuk perumahan, Mang Deden sapaan akrab warga perumahan kepada tukang becak ini, di depan rumahnya yang relatif sederhana, selalu membersihkan setiap debu yang menempel di seluruh permukaan batang besi rangka becak dan kursi empuk berbahan kulit sintetis, karena dia tahu bahwa kebersihan becaknya menjadi salah satu faktor calon penumpang lebih tertarik untuk memilih becaknya daripada becak teman seprofesinya.

Di tempat dia mangkal, dia tahu cara bersikap kepada calon penumpang yang sedang akan menggunakan jasanya. Mulai berdiri disamping becak, sembari tersenyum tulus untuk menyapa dan menawarkan jasanya, hingga agak merunduk sebagai rasa hormat penyedia jasa terhadap calon konsumen. Ungkapan pembeli adalah raja, sudah pun di ketahui dan diamalkannya karena memang harus demikian adanya sebagai profesional penyedia jasa.

Jika Anda pernah mencoba mengendarai becak, coba saja membawanya tanpa penumpang, mengayuh becak pasti lebih berat daripada mengayuh sepeda. Memegang kendali juga jauh lebih sulit daripada memegang kendali sepeda. Namun Mang Deden sudah ahli di bidang ini. Mempercepat mengayuh di sebelum tanjakan, menginjak pedal rem, menekan tombol bel, mengarahkan kedua roda depan dengan muatan, menutup tempat penumpang dengan penutup yang ada agar penumpang tidak kepanasan, menambahi penutup plastik transparan agar ketika hujan penumpang tidak kebasahan.

Pekerjaan berulang ini seperti runtunan pekerjaan berulang yang diulang-ulang saja selama 25 tahun. Kini Mang Deden sudah berusia tepat setengah abad, apa yang didapatkannya adalah hasil pekerjaannya yang diulang-ulang untuk mencukupi kebutuhan hidup, dan label sebagai tukang becak senior tanpa tanda jasa dari setiap penumpang yang pernah menjadi konsumennya serta semua penghuni perumahan.

Mungkin ilustrasi profesi Mang Deden ini hampir mirip dengan sebagian dari keseharian hidup masyarakat kita yang bekerja secara loyal di sebuah perusahaan, khususnya perusahaan yang bisa bertahan lama berpuluh tahun hingga berabad-abad, di mana pekerjanya bekerja dari mulai lulus sekolah hingga masa pensiun tiba. Pada sebuah perusahaan seperti ini, jenjang karir karyawan cenderung statis kecuali beberapa posisi yang mengharuskan berbeda.

Apa yang dikerjakan oleh karyawan seperti ini hanyalah pekerjaan berulang dan yang menjadikannya dia beruntung naik posisi seringkali adalah karena masa jabatannya dan kemampuannya tentang beberapa hal yang dikerjakannya berulang. Dan bukan karena suatu prestasi yang karena ide dan kreatifitasnya sehingga perusahaan bisa lebih untung. Yang menjadi masalah kemudian adalah senioritas yang diembannya membuatnya merasa jauh lebih unggul dan bahkan kadang merasa lebih benar, sehingga bawahan-bawahan yang kreatif akhirnya berpotensi dikebiri kreativitasnya.

Orang-orang semacam ini bahkan kadang harus menunjukkan masa kerjanya yang sudah amat sangat lama untuk menekan para pekerja baru yang seolah hanya ingin menyangkal teori-teori yang sudah dikerjakannya secara berulang bertahun-tahun dibandingkan dengan teori-teori baru meski lebih efisien dan menguntungkan. Kadang jika pekerja baru yang inovatif harus mendengar untaian kalimat yang amat merdu seperti “memang dia siapa? sudah berapa tahun memang pengalaman dia?” dan seterusnya.

Saya tidak bisa membayangkan jika the world fast growing company 2014¬†memiliki karyawan-karyawan dengan kebiasaan mengagungkan senioritas bahkan menjadikannya budaya (core value) perusahaan meski hanya sebatas implisit. Saya tidak yakin bahwa perusahaan dengan budaya semacam ini dapat berkembang pesat. “Buktinya dengan senioritas ini perusahaan ini berkembang?” mungkin justru karena budaya senioritas yang terjadi harusnya perusahaan jauh lebih pesat dari sekarang?

Mari kita bayangkan bersama bagaimana nasib sebuah perusahaan jika memiliki budaya seperti di bawah ini:

  1. Setiap kalimat senior adalah hukum perusahaan tidak tertulis.
  2. Merundukkan kepala kepada setiap senior di manapun kita berada.
  3. Senioritas menentukan lebih tingginya hak untuk mendapatkan yang lebih baik.
  4. Inovasi tidak lebih penting daripada keputusan para senior.
  5. Senior berhak untuk menolak segala macam ide perbaikan tanpa alasan.

Jika Anda merasa bahwa budaya di atas adalah tepat dan nyaman untuk Anda, berhati-hatilah jangan-jangan Anda termasuk bagian dari pelaku senioritas yang selama ini hanya para junior Anda yang merasakannya, hehe.

Sebenarnya saya amat setuju bahwa kita harus menghormati para senior, karena bagaimanapun pengalaman mereka jauh melebihi dari para junior yang hanya memiliki landasan teori-teori dari sekolah. Namun demikian, para senior juga harus paham bahwa pengalaman mereka juga bisa jadi sudah tidak relevan dengan perkembangan masalah yang terjadi saat ini. Jadi jangan kemudian menjadikan senioritas sebagai landasan hukum dan harus menghardik-hardik para junior hingga dapat meruntuhkan semangatnya untuk menyumbangkan ide, kreativitas dan inovasinya termasuk untuk menunjang kesuksesan para senior di atasnya.

25 x 1 saya artikan sebagai 25 kali perulangan dari pengalaman 1 tahun di depan masa kerja, 1 tahun pengalaman Mang Deden diusia awal menjalani profesi sebagai tukang becak diulang-ulang hingga masa pensiunnya. Akan amat berbeda dengan 1 x 25 yang saya artikan sebagai masa kerja 1 tahun di depan digunakan untuk 25 buah kegiatan inovasi berbeda-beda, dan dapat kita bayangkan bagaimana hasilnya ketika sosok semacam ini bekerja hingga 25 tahun ke depan? 25 x 1 tidak sama dengan 1 x 25!

Semoga bermanfaat. (abharto/092014)

Tinggalkan Pesan

Anda harus logged in untuk mengirim pesan.

Agus Budi Harto - Copyright © 2012 | All rights reserved.