13 September

Ditulis di Opini | Tidak Ada Komentar

Nilai Efisiensi dan Optimisme dalam Redenominasi Rupiah

Pernahkah kita membayangkan tinggal dalam suatu wilayah atau negara di mana ketika seorang anak kecil hendak membeli 2 potong roti untuk makan siang harus membawa serangkul uang dari rumah menuju toko roti, atau seorang Bapak yang akan menuju pasar harus membawa uang yang jauh lebih banyak untuk belanja atau harus membawa gerobak dorong untuk membayar belanjaannya? Hal ini terjadi di negara Zimbabwe pada tahun 2008 dimana nilai 1 dolar Amerika Serikat setara dengan angka 642.371.437.695.221.000 dolar Zimbabwe. Saya tidak bisa membayangkan apalagi harus menghitung berapa upah minimum regional (UMR) yang harus diterima oleh seorang buruh pekerja pada saat gajian dengan cash dan bagaimana cara membawanya pulang ke rumah.

Tentulah kondisi itu tidak serta merta terjadi tanpa suatu proses panjang dan besar sehingga kondisinya amat begitu rumit dan semua penduduk suatu negara tiba-tiba memiliki amat banyak uang namun nilainya amat rendah dibanding mata uang negara tetangga sebelah. Saya tidak akan membahas bagaimana hal ini terjadi karena selain hal-hal ini sudah banyak di tulis di berbagai media online juga tidak tepat rasanya jika hal ini ditulis lagi oleh seorang yang bukan ahli tata negara seperti saya, haha. Namun barangkali relevan jika kita bandingkan kondisi ekstrim tersebut dengan contoh kondisi miniatur yang terjadi dengan nilai mata uang Rupiah kita terhadap Dolar Amerika Serikat (USD).

Nilai Rupiah sudah lama tidak beranjak dari kisaran 10.000 hingga 13.000 per Dolar Amerika Serikat. Mudahnya kita bayangkan saja nilainya rata-rata 10.000 Rupiah agar mudah menghitungnya. Ketika kita hendak membeli beras seharga 12.500 Rupiah per kilo sebanyak 8 kilogram, kita harus menyediakan uang sebanyak 100.000 Rupiah, sedangkan orang yang menggunakan USD hanya cukup membayarnya dengan USD 10. Seorang pekerja dengan gaji 10.000.000 Rupiah terkesan memiliki banyak uang namun hanya bernilai USD 1,000 bagi pemilik USD. Dari sini muncul masalah keyakinan bahwa harga barang termasuk gaji orang Indonesia terkesan amat rendah dan berpotensi merusak optimisme kompetitif antar negara.

Sebenarnya sistem konversi mata uang sudah amat membantu kita untuk bertransaksi antar negara, masalahnya adalah jumlah 4 angka ‘0’ (nol) di belakang nilai Rupiah dianggap tidak berarti bagi nilai USD. 10.000 sama dengan 1. Pemerintah sudah berencana untuk melakukan redominasi Rupiah dengan memotong 3 angka nol dalam rupiah sehingga 1.000 berarti 1 Rupiah dan kesepakatannya tidak mengurangi nilai apapun di dalamnya. Jadi jika seorang karyawan bergaji 10.000.000 Rupiah akhirnya akan terbiasa mengatakan 10.000 Rupiah (baru) dan tidak berdampak apa-apa karena harga beras pun menjadi 12,5 Rupiah per kilogram. Simpel kan?

Selain peningkatan optimisme kesetaraan kompetitif dengan negara lain, terdapat sisi efisiensi dari redenominasi Rupiah ini. Mungkin pemerintah sebagai penentu kebijakan publik belum jauh meneliti bahwa menyimpan angka nol di banyak komputer sebagai media transaksi elektronik tidak menimbulkan biaya penyimpanan yang signifikan sehingga dapat diabaikan dan bahkan sama sekali tidak terpikirkan. Namun bagi orang-orang yang amat dekat dengan dunia digital amat paham mengenai biaya penyimpanan (storage cost) seperti contoh yang tertulis di answers.com di mana 1GB setara dengan AUD 20. Juga, biaya pencetakan angka nol di lembar kertas uang Rupiah tentunya dapat diturunkan jika angka nol yang harusnya tertulis 1.000 menjadi 1 saja. Biaya pencetakan bukan tidak dapat dihitung bahkan computershopper.com memberikan contoh cara menghitung dimana 1 lembar kertas memerlukan biaya sekitar 7.3 sen (USD) untuk cetakan berwarna.

Namun demikian, upaya perbaikan demi menuju kehidupan yang lebih baik kadang dibenturkan dengan berbagai masalah politik sehingga upaya-upaya tersebut dilihat dari sisi negatifnya, misalnya apa yang ditulis oleh seorang tokoh negarawan kita di mana beliau menyebutkan bahwa upaya redenominasi Rupiah ini sebagai sesuatu yang dapat membuat negara menjadi kacau. Jika sebagian dari saudara-saudara kita berada di bawah garis kemiskinan dan hanya berkutat pada transaksi uang di bawah 1.000 Rupiah, rasanya hal ini dapat mudah diselesaikan dengan mengeluarkan uang di bawah 1 Rupiah (baru) misalnya dalam bentuk Sen.

Banyak dari kita yang sudah terbiasa memaparkan data bisnis yang jika dihitung menggunakan Rupiah menjadi amat fantastis sehingga jika dihitung menggunakan kalkulator kawe bikinan negara tetangga hanya akan menghasilkan angka ‘Error’ karena angkanya tidak muat, bahkan kita sering menulis di atas grafik dengan keterangan ‘dihitung dalam jutaan Rupiah’ yang berarti kita sebenarnya sudah amat tidak nyaman dengan angka nol yang terlalu banyak namun tidak sebanding dengan nilai yang kita dapat. Kita kadang berkelakar dengan teman foreigner “Elu enak hasilnya sebanding dengan usaha, lah gua nol nya doang yang banyak, haha.”

Menurut saya, lakukan saja redominasi Rupiah, jika mungkin 4 angka nol sekalian:

  1. Agar Storage Cost bisa ditekan.
  2. Agar biaya pencetakan bisa ditekan.
  3. Agar pelaku bisnis dapat membuang kata ‘ditulis dalam jutaan’.
  4. Agar kalkulator murah dapat kita gunakan.
  5. Agar optimisme kita meningkat dalam kompetisi dengan negara lain.
  6. Agar nilai Rupiah tidak jauh berbeda dengan Dolar Amerika Serikat.
  7. Buat mata uang baru seperti Sen untuk nilai di bawah Rupiah baru.
  8. Lupakan sejenak masalah politik demi kita dan khususnya anak cucu kita di masa depan.

Redenominasi Rupiah bukanlah upaya akhir tentunya, masih banyak hal yang harus dipikirkan oleh anak bangsa ini agar bisa menuju kesejahteraan yang jauh lebih baik. Banyak celah usaha yang dapat kita pikirkan bersama, tinggalkan kebiasaan memboroskan waktu jika hanya untuk kepentingan segolongan orang atau bahkan tidak bermanfaat. Contoh yang baik sudah ditunjukkan oleh negara tetangga kita yang di bom pada bulan Agustus 1945, sama dengan lahirnya bangsa ini, namun mereka dengan tekad semangat untuk negaranya bahkan menjadi sebuah negara maju yang diperhitungkan. Kita seharusnya bisa, asal bersama-sama.

Semoga bermanfaat. (abharto/092014)

Tinggalkan Pesan

Anda harus logged in untuk mengirim pesan.

Agus Budi Harto - Copyright © 2012 | All rights reserved.