12 October

Ditulis di Kisah | Tidak Ada Komentar

Ayo Sayangi Ginjal

Beberapa saat setelah tiba di Jakarta selepas bepergian dinas ke kantor cabang (Site) di kalimantan Tengah pada awal Oktober kemarin, mendadak ada berita bahwa salah satu teman dari Cabang lain sedang berbaring di sebuah rumah sakit di Jakarta Pusat. Beliau terkena disfungsi ginjal alias gagal ginjal dan dirujuk dari rumah sakit Samarinda ke Jakarta karena berharap bisa mendapatkan pengobatan lebih canggih sehingga tidak perlu dilakukan proses cuci darah.

Pada Sabtu sore tanggal 11 Oktober 2014 kemarin, saya menjenguk beliau yang sedang berbaring tidak berdaya di ruang perawatan Paviliun Anggrek Rumah Sakit PGI Cikini. Sudah lama saya tidak bertemu dengan beliau, wajahnya tampak tidak berubah banyak dari sejak saya bertemu dengan beliau sekitar 2 tahun yang lalu. Janggut dan kumisnya yang sudah tidak hitam lagi semerbak tumbuh tidak sempat dicukur sejak dirawat sekitar 3 minggu yang lalu.

Pak Tri panggilan akrabnya, sedang tertidur pulas setelah beberapa menit yang lalu dilakukan proses cuci darah. Pak Eko kakak kandung satu-satunya yang kebetulan tinggal di Bekasi menyapa saya dan menerangkan detil mengenai kondisinya. Pak Eko dan istrinya bertugas menjaga Pak Tri bergantian dengan saudara lainnya selama Pak Tri di rawat di Jakarta. “Biasanya Pak Tri selalu lebih segar setiap setelah dicuci darahnya, namun kali ini tampak pusing dan langsung tertidur setelah dicuci darah barusan,” Pak Eko menerangkan.

“Ketika saya menjemputnya di bandara Balikpapan 2 pekan lalu, Pak Tri amat besar badannya, perutnya begitu besar karena banyak makan, jalannya tegap namun jalannya hampir mirip seperti seorang algojo karena saking berat badannya. Namun kini perutnya sudah kecil ramping. Setiap selesai cuci darah, dia selalu menyempatkan diri berjalan kaki di seputar paviliun ini untuk berolah raga,” Pak Eko menambahkan.

Posisi tidurnya tampak tidak begitu nyaman, tepat di leher sebelah kiri terdapat perban dipasang selang yang digunakan untuk mencuci darah, menurut Pak Eko hal ini dilakukan karena pemasangan di bagian leher ini dirasa lebih efektif untuk dilakukan cuci darah melihat kondisi Pak Tri yang kritis beberapa saat lalu. Sedangkan di lengah sebelah kiri telah pula disiapkan slang diperban yang nanti akan digunakan untuk mencuci darah ketika sudah dirasakan kondisinya sudah normal.

Beberapa saat kemudian Pak Tri tampak sedikit demi sedikit membuka matanya. Saya yang kebetulan sedang berdiri tepat di sebelah kiri tempat tidur disapanya, “Pak Agus? Sudah lama?” kata-kata pertama yang diucapkan Pak Tri agak parau dan lemah. Pak Eko kakak kandungnya itu kemudian dengan sigap mendekati Pak Tri dan menawarkan untuk memakan makanan malam yang sudah disediakan oleh rumah sakit.

“Pak Agus, Pak Tri ini tensinya sudah dibawah normal, dulu ketika belum dibawa kesini, tensinya hingga 280/110. Kadang Pak Tri malah ngeledek saya karena tensinya yang amat rendah itu, sekarang saya sudah boleh makan daging kambing dan kamu yang tidak boleh, kata Pak Tri ngeledekin saya, hahaha..,” begitu cerita dari Pak Eko bersemangat. Beberapa menit kemudian Pak Tri meminta Pak Eko untuk mengatur posisi ranjangnya sehingga dia bisa posisi duduk.

Pak Tri kemudian bercerita bahwa dia telah salah selama ini tidak banyak minum air putih. Tensinya yang sering tinggi dan mengharuskannya meminum obat-obatan anti tensi tinggi, tidak diiringi dengan banyak minum air putih. “Sering saya minum obat dengan menyelipkannya dalam sepotong pisang dan menelannya tanpa minum air, saat di lapangan saya sering lupa bercampur malas meski telah ada sebotol air mineral dibawa di dalam mobil,” begitu Pak Tri bercerita.

“Saat sebelum di bawa ke Jakarta, dada saya sempat sesak sekali dan amat sakit. Saya merasa bahwa itulah hari-hari terakhir saya. Hasil rontgen menunjukkan gambar seperti kabut, yang mengindikasikan bahwa telah begitu banyak air yang menggenangi pembuluh darah di sekitar paru-paru. Saya tidak menyangka bahwa kurang minum air ternyata dapat menjadi seperti ini, ginjal saya disfungsi sehingga setiap apa yang saya minum, tidak dibuang ke saluran kencing dan keringat malah bercampur dalam pembuluh darah,” Pak Tri melanjutkan.

Kini Pak Tri sudah harus dicuci darahnya secara berkala, semakin banyak makanan dan minuman yang diasup, akan semakin sering pula darahnya dicuci. “Sekarang Pak Tri sudah bebas makan apa saja, namun jumlahnya dibatasi hingga seperempat dari biasanya, minumnya juga hanya seujung botol air mineral agar darahnya tidak lekas kotor dan dicuci lebih sering,” tutur Pak Eko.

Ya, ginjal Pak Tri telah tidak dapat berfungsi, Pak Tri kini bergantung dengan alat pencuci darah di rumah sakit. Sebagaimana pesan Pak Tri kepada kita, jangan malas untuk minum air putih setiap hari, ikuti anjuran dokter. Tidaklah sulit untuk secara teratur minum air putih, meski kadang kita dilenakan oleh keasyikan rutinitas kita setiap hari hingga kita lupa untuk memberikan perhatian kepada anggota tubuh kita diantaranya minum air putih.

Buat Pak Tri, tetaplah semangat, sebagaimana pesan yang ditulis dalam Alqur’an bahwa setiap penyakit selalu ada obatnya. Dan di setiap ujian pasti ada nilai-nilai yang akan kita dapat, Allah menjanjikan kebaikan berlipat atas kesabaran dari setiap ujian yang kita lalui, semoga lekas sembuh dan ginjalnya dapat normal kembali, Aamiin. Pembaca yang budiman, melalui media ini saya berpesan kepada diri saya sendiri khususnya, marilah kita meminum air putih secara teratur untuk menjaga agar casing yang dipinjamkan oleh Allah kepada kita ini dapat lebih awet kita gunakan sebagai rasa syukur kepada-Nya.

Semoga bermanfaat. (abharto/102014)

Tinggalkan Pesan

Anda harus logged in untuk mengirim pesan.

Agus Budi Harto - Copyright © 2012 | All rights reserved.