Pemimpi, Pekerja dan Pendongeng

Pada suatu kunjungan kerja, saya bertemu dengan seorang kepala proyek yang di dalamnya mempekerjakan sekitar 500 orang karyawan di mana proyek tersebut harus mengubah ban bekas alat-alat berat yang sudah tidak layak pakai menjadi mirip dan sekuat ban baru sehingga keberadaan proyek tersebut dapat memberikan kontribusi profit tidak sedikit terhadap keseluruhan proses bisnis perusahaan.

Sebut saja Pak Syuman, seorang yang memulai karir dari bawah dengan latar pendidikan teknik mesin pada kisaran tahun 2000-an, kini telah menjadi seorang yang dipercaya untuk memimpin sebuah proyek besar. Hanya dalam waktu tidak lebih dari 10 tahun karirnya melejit menjadi seorang yang dapat menjabat posisi yang tidak dapat dijamah oleh orang biasa yang berpikiran biasa dengan kemampuan biasa dan menganggap bahwa semua orang itu hanya biasa-biasa saja.

Bagaimana Dia Memanjat?

Dalam sebuah perjalanan menuju kantor, Pak Syuman kebetulan berkesempatan mengajak saya untuk berangkat bareng menggunakan mobil dinas. Dari caranya berbicara, Pak Syuman amat bersahaja, kalimat ynag diucapkannya tampak tertata rapi per kalimat bahkan dari ujung dia bercerita hingga akhir. Saya menyimpulkan bahwa Pak Syuman memang tidak sembarang berbicara sehingga menghasilkan untaian cerita yang cerdas dan menarik.

Di awal kalimat dia menceritakan bagaimana ketika dahulu dia memiliki cita-cita untuk bagaimana hidup yang diberikan oleh Nya dapat menjadi manfaat untuk sebanyak mungkin orang-orang di sekitarnya. “Menjadi kaya bagi diri sendiri amatlah tidak cukup karena kekayaan itu hanyalah akan menjerumuskan manusia menjadi seorang yang sombong dan angkuh, namun membuat orang banyak sejahtera akan membuat kita sejahtera lebih dari hanya sekedar kaya,” tuturnya menjelaskan.

Apa yang dilakukannya kemudian adalah dengan memberi contoh berperilaku efektif dan efisien kepada rekan sekerjanya sehingga dia menjadi menonjol berbeda dan kemudian atasannya menghadiahi sebuah posisi sebagai pemimpin kelompok kerja. Tidak hanya sampai disitu, Pak Syuman kemudian mempromosikan para bawahan yang mengikuti jejaknya berperilaku efektif dan efisien sehingga secara otomatis kinerja kelompok kerja yang dipimpinnya jauh lebih produktif.

Dalam waktu tidak lebih dari 5 tahun, Pak Syuman dapat menduduki posisi sebagai kepala bagian di sebuah proyek dalam perusahaan. Keberhasilannya memimpin departemen ditularkannya kepada proyek-proyek lain pada setiap acara rapat tahunan kinerja proyek. Hal ini dilakukannya tanpa ada perasaan sombong sedikitpun melainkan agar cara yang ditemukannya ini dapat membantu bisnis agar lebih untung dan kemudian menjadi pensejahtera seluruh karyawan dalam perusahaan.

3 Karakter dalam Satu Paket

Dari fakta di atas, saya berkesimpulan bahwa Pak Syuman adalah seorang pemimpi, kemudian mewujudkannya dalam tindakan-tindakan dan kemudian memasarkan ide-nya kepada orang lain. Dapat kita bayangkan apa yang terjadi ketika jika Pak Syuman hanya memiliki salah satu dari 3 karakter tersebut. Jika Pak Syuman hanyalah seorang pemimpi, Pak Syuman hanya memimpikan untuk mensejahterakan orang-orang namun tidak berbuat apa-apa. Pak Syuman muda adalah sama dengan Pak Syuman tua, bermimpi-mimpi saja dan mengerjakan itu-itu saja.

Jika Pak Syuman hanyalah seorang pekerja, Pak Syuman tidak pernah bermimpi dan hanya melaksanakan saja apa yang tuliskan dalam prosedur. Pak Syuman hanyalah akan menjadi seorang pekerja yang loyal dari awal karirnya hingga di ujung masa pensiun dengan beberapa penghargaan masa kerja, entah itu dapat berupa kertas piagam dengan tulisan indah hingga mungkin perunggu-perak-emas yang nilainya tak cukup untuk menghidupi keluarganya ketika pensiun kelak.

Dan jika Pak Syuman hanyalah seorang yang banyak bicara, Pak Syuman tidak pernah memikirkan hal-hal baru kreatif yang lebih menguntungkan bisnis, merasa disuruh-suruh dan enggan berbuat lebih karena merasa sudah senior dibandingkan dengan karyawan sejawat, maka Pak Syuman hanya akan dikenal sebagai orang yang bermulut besar banyak bacot. Di akhir masa pensiunnya hanyalah menjadi seorang yang terkenal dengan ocehan yang menurutnya menarik tanpa dia tahu bahwa orang-orang yang mendengarkan hanyalah karena merasa terintimidasi, harus menghormati seorang yang lebih lama bekerja. Setelah masa pensiun bisa jadi mantan rekan sekerjanya hanya akan menundukkan kepala sebagai tanda hormat ketika bertemu di halaman rumah, namun ketika jauh para teman sejawat akan saling berbisik “jangan dekati dia, dia tidak punya ide, gak mau bekerja sama dan mengintimidasi.”

Pembaca yang budiman, semoga kisah Pak Syuman ini dapat menginspirasi kita semua agar bisa menjadi pribadi-pribadi yang dapat memberikan jalan menuju keuntungan lebih bagi perusahaan yang menaungi dengan berupaya memiliki 3 karakter dalam satu paket yang telah dibuktikan oleh tokoh Pak Syuman dalam fakta ini.

Semoga bermanfaat. (abharto/102014)

Leave a Reply