Nilai Tukar Sebuah Posisi

Adi adalah seorang karyawan perusahaan swasta yang telah memulai karir sejak dia lulus kuliah ketika usianya baru masuk ke 23 tahun. Ilmu yang didapat di tempat kuliah masih amat segar dikepalanya ketika suatu hari dia diterima untuk bekerja sebagai karyawan. Harapan besarnya adalah agar ilmu yang didapat bisa disumbangkan maksimal di tempat di mana dia diterima bekerja.

Beberapa bulan berselang, kepekaannya terhadap sekitar mulai dirasakan. Ternyata ilmu-ilmu yang didapat di sekolah tidak banyak dipakai. Justu yang harus dihadapi adalah belajar hal-hal baru termasuk menyesuaikan diri dengan karakter orang-orang yang baru ditemuinya. Hukum Phytagoras, Hukum Pascal, Teori Darwin dan segudang ilmunya hampir tidak satupun yang digunakan.

Kesetiaannya pada keilmuan mulai luntur ketika dia tahu bahwa ilmu-ilmu itu dirasakan tidak terkait langsung dengan masalah-masalah yang dihadapi di lingkungan pekerjaan. Dia kemudian berbalik semakin menelisik mencari tahu bagaimana teman-teman seangkatannya bisa lebih cepat mengentaskan tingkat kesejahteraannya dari posisi prasejahtera.

Kesimpulan sementara adalah karena teman-temannya itu memang mengamalkan ilmu marketing selain hanya memiliki ide dan bekerja keras (lihat Pemimpi, Pekerja dan Pendongeng). Namun Adi tetap belum menemukan jawaban mengapa posisi yang diemban tidak kunjung membuahkan kesejahteraan yang lebih baik. Saking tidak sabar ingin mengetahui alasannya, dia kemudian bertanya kepada atasan langsung, namun lagi-lagi tidak didapat jawaban yang memuaskan. Atasannya seperti biasa hanya menyarankan untuk bersyukur dan ikhlas atas rejeki yang diterima.

Pembaca yang budiman, mungkin diantara kita menghadapi kasus yang sama dengan tokoh Adi pada keempat paragraf di atas. Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah bahasan namun saya lupa entah dimana sehingga mohon maaf saya belum bisa menuliskan disini tautannya. Bahwa nilai tukar sebuah posisi yang Anda emban itu ditentukan oleh 3 faktor.

Faktor-faktor Penentu Nilai Tukar Posisi Pekerjaan yang Diemban

Kemampuan Anda. Faktor penentu pertama adalah seberapa besar kemampuan Anda dapat menjalankan posisi tersebut. Penilaian perusahaan dapat berbeda-beda, salah satunya adalah dengan menggunakan semacam tool seperti Key Performance Indicator untuk menilai seberapa besar Anda menetapkan target yang hendak dicapai, bagaimana progress pencapaian day-to-day, dan sejauh mana hasil yang didapat tepat pada duedate yang ditetapkan.

Jika selama ini Anda tidak naik kelas pada posisi tersebut, pastilah Anda sudah dapat menilai sejauh mana seharusnya akan menerima umpan balik kesejahteraannya. Jika kesejahteran melebihi dari target pencapaian KPI, berarti Anda memiliki hutang untuk menggantinya pada periode kerja setahun ke depan. Jika lebih kecil, faktor penentu lain harus dipertimbangkan untuk diperhatikan.

Harga Posisi dalam Perusahaan. Adalah manusiawi jika seorang karyawan ingin selalu diperbaiki kesejahteraannya, meski tidak semuanya dengan motivasi ingin kaya, namun harga kebutuhan yang terus naik cenderung menjadi item tersendiri yang harus dikejar ketika penghasilannya sebulan tidak cukup untuk menghidupi keluarganya. Namun demikian ketika sebuah perusahaan berdiri, tidaklah mungkin bahwa setiap posisi tidak ditetapkan berapa harus dibayar. Karena tanpa penetapan ini perusahaan tidak akan tahu kapan bisa profit atau loss.

Oleh karenanya, jika Anda sudah menjabat suatu posisi sangat lama dan telah berada pada posisi gaji paling tinggi, janganlah sekali-sekali berusaha untuk menuntut gaji lebih tinggi lagi meski penghasilannya tidak cukup untuk biaya hidup sebulan. Segeralah berintrospeksi untuk melihat apakah kemampuan Anda hanya sebatas posisi yang Anda emban ataukah bisa menduduki posisi yang lebih tinggi dan dengan posisi yang lowong. Diskusikan keinginan Anda dengan atasan untuk menantang diri Anda menduduki posisi tersebut.

Harga Posisi di Pasaran. Pada suatu waktu, harga suatu posisi dalam sebuah organisasi dapat berubah karena suatu nilai yang dihasilkan oleh posisi itu. Misalnya posisi tukang gergaji mesin pada perusahaan pemotongan kayu. Karena permintaan kayu meningkat dan perusahaan ingin memberikan reward pada posisi ini, maka gaji maksimal tukang gergaji mesin ini dapat disesuaikan.

Namun demikian, bagaimanapun kemampuan perusahaan untuk mengotak-atik harga sebuah posisi, tetap akan bergantung kepada seberapa besar nilai posisi ini yang berlaku di pasaran. Jika harganya jauh di atas harga dasar, maka tukang gergaji dari perusahaan lain akan berbondong-bondong untuk pindah sehingga jumlah tukang gergaji melebihi jumlah kebutuhan. Oleh karenanya, harga posisi yang berlaku di pasaran tetap menentukan harga maksimal harga posisi di dalam organisasi.

Kesimpulannya, 3 faktor penentu di atas dapat kita timbang-timbang jika ternyata penghasilan yang Anda dapat masih di bawah ambang batas kebutuhan hidup sebulan Anda. Namun jika sudah lebih, lupakan ketiga faktor di atas, perbanyaklah bersyukur dengan tidak lupa meningkatkan sedekah untuk kaum yang membutuhkannya, mulailah terhadap kaum yang paling dekat dengan Anda.

Demikian dan semoga bermanfaat. (abharto/112014)

Leave a Reply