10 December

Ditulis di Ekspresi | Tidak Ada Komentar

Begitukah Kita?

Ketika orangtua mengingatkan untuk sholat,
menjawab bentar atau nanti, masih bagus menjawab iya,
tapi belum beranjak sebelum diingatkan lagi,
begitulah kita ketika masih baru melewati akil baligh.

Ketika orangtua mengingatkan untuk mandi pagi, siang dan sore,
menjawab bentar atau nanti, masih bagus menjawab iya,
tapi belum beranjak sebelum diingatkan lagi,
begitulah kita ketika masih sekolah dasar.

Ketika orangtua mengingatkan untuk keras belajar apalagi hendak ujian,
menjawab bentar atau nanti, masih bagus menjawab iya,
tapi belum beranjak sebelum diingatkan lagi,
begitulah kita ketika masih baru mendekati remaja.

Ketika orangtua mengingatkan kita agar menjauhi zina jangan pacaran,
menjawab iya mengangguk tanpa melihat,
tapi pandangan tetap pada layar sentuh selalu terhubung dengan do’i,
begitulah kita ketika masih remaja.

Ketika orangtua mengingatkan untuk lekas-lekas menikah,
menjawab belum ada yang mau, nggak ada yang dekat,
padahal hati berdebar tertuju mikirin si do’i,
begitulah kita ketika kita beranjak dewasa.

Ketika orangtua mengingatkan untuk selalu bersabar menghadapi pasangan,
menjawab iya, mengangguk-angguk,
tapi masih dendam, marah mengingat-ingat kelakuan pasangan,
begitulah kita ketika kita menjadi pasangan muda pernikahan.

Ketika orangtua meninggalkan kita dipanggil oleh-Nya,
Baru sibuk mencari alasan mengapa belum bisa membahagiakan mereka,
Tapi mendoakan mereka hampir selalu,
Selalu lupa melakukannya, begitulah kita.

Ketika sudah bisa membeli yang diinginkannya,
Lalu sibuk sendiri dengan hobby,
Melupakan tidak merasa menjauhi orang yang kita sayang,
Begitulah kita.

Ketika kuasa panca indera sudah mulai redup,
Tidak sekuat rukuk dan sujud seperti dulu apalagi jalan ke mesjid,
Fasilitas, kenikmatan, kelezatan sudah mulai dicabut satu persatu,
Rambut sudah beruban, kulit keriput, tidak cantik dan seganteng dulu,
Baru sadar bahwa hidup itu tidak lama,
Empat puluh tahun seperti baru saja lewat dari pandangan,
Seperti hanya sebuah mimpi tidak nyata,
Sudah tidak kuat untuk mengejar mengumpulkan amal ibadah segunung,
Mempersiapkan bekal menuju alam berikutnya,
Baru menyesal mengapa ini tidak dari dulu terasa..

Begitukah kita? (abharto/122014)

Tinggalkan Pesan

Anda harus logged in untuk mengirim pesan.

Agus Budi Harto - Copyright © 2012 | All rights reserved.