11 December

Ditulis di Ekspresi, Kisah, Opini | Tidak Ada Komentar

Dear Problems, My God is Bigger than You!

Wati adalah seorang wanita mandiri yang ditinggalkan oleh suaminya karena suaminya memutuskan memilih wanita lain yang dirasakan lebih nyaman dihati. Wati bukan ditinggali bekal untuk melanjutkan hidup namun justru diwarisi dua orang anak yang sedang membutuhkan biaya untuk melanjutkan sekolah. Warisan berikutnya adalah cicilan mobil yang seharusnya menjadi beban suami, namun harus dilanjutkan oleh wati karena suami membawa pergi mobil kesayangan mereka dengan alamat tagihan ke rumah Wati yang ditinggali bersama dengan kedua anaknya.

Wati harus terus bertahan hidup, serpihan-serpihan suku cadang berserakan di dalam rumahnya adalah bekas-bekas usaha Wati dan suaminya ketika mereka masih bersama. Usaha layanan perawatan dan perbaikan pendingin ruangan hampir saja runtuh ketika suaminya pergi juga dengan membawa uang setoran para pelanggan setia mereka. Ditambah lagi ketika Wati harus berjuang untuk melanjutkan usaha ini, suaminya juga membawa kabur para pelanggan setia mereka yang besar-besar dan mendirikan usaha yang sama bersama keluarga barunya.

Amat nahas bagi Wati, suaminya pergi, modalnya habis, hutangnya menumpuk, yang tersisa hanyalah setitik harapan berharap agar Wati tetap bisa melanjutkan bertahan hidup demi anak-anaknya. Hari-hari dirasakannya amat redup, seperti mimpi buruk di sore hari yang mendung hendak hujan. Yang sering muncul di hatinya adalah hujatan kepada para lelaki yang begitu bejat, hujatan kepada dirinya yang dirasakan sebagai kutukan penuh dengan kekurangan dan peran sebagai korban dalam hidup.

Lain lagi dengan Burhan, seorang lelaki ganteng dengan kelebihan fisik yang lebih dari para pria lain, harus ditinggalkan oleh istrinya ketika kedua anaknya masih kecil. Burhan kemudian harus mengurus anak-anaknya seorang diri pada malam hari, dan harus bekerja pada siang hari. Upah yang diterima dirasakan tidak cukup untuk membahagiakan anak-anaknya. Sebagai pengajar pada institusi pendidikan swasta di Jakarta, Burhan seringkali merasakan kekurangan, kehilangan kepercayaan diri hanya dengan berbekal ganteng semata.

Keinginan untuk hidup lebih sejahtera amatlah diinginkannya, Burhan kemudian harus memutuskan untuk pindah pada institusi lain dengan target menjadi seorang manajer institusi pendidikan. Namun usahanya tetap tidak berbuah, ketidakpercayaannya pada diri membuatnya sering mengeluh pada setiap masalah yang dihadapinya sebagai seorang manajer. Yang terjadi kemudian adalah kegagalannya menjadi seorang manajer dan harus digeser oleh orang lain yang lebih percaya diri. Burhan akhirnya harus menerima nasib menjadi seorang pengajar yang gajinya ditunda hingga siswanya menyelesaikan pembayarannya.

Pembaca yang budiman, ini hanyalah dua dari berjuta kondisi hidup yang harus kita hadapi sebagai manusia. Jika kita menghadapinya sendiri, rasanya masalah itu teramat besar. Kita sering lupa bahwa kita ada karena ada yang menciptakan. HR Bukhari mengatakan: Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya. maka dia diuji dengan suatu musibah. Ketika kita sudah lupa bahwa kita hanyalah makhluk, rasanya sudah terlalu sombong merasa bisa menghadapi semuanya sendiri. Ketika musibah datang, rasa hancur menyelimuti pikiran, dan jika kesuksesan tiba maka rasa sombong muncul bahwa kesuksesannya semata-mata hanyalah karena kerja kerasnya sendiri.

Jika kita sedang mengalami banyak cobaan, hilangkanlah pikiran bahwa kita bisa menghadapinya sendiri, agar rasa hancur dan hujatan kepada diri sendiri segera lari. Mari bersyukur bahwa yang datang belumlah suatu cobaan kenikmatan yang hanya akan mengantar kita kepada kesombongan dan Sang Pencipta membiarkan kita terjerumus pada jurang kegelapan yang pasti suatu saat entah cepat atau lambat akan kita alami, ketidaksiapan pada akhir setelah hidup.

Semoga bermanfaat. (abharto/122014)

Tinggalkan Pesan

Anda harus logged in untuk mengirim pesan.

Agus Budi Harto - Copyright © 2012 | All rights reserved.