13 January

Ditulis di Opini | Comments Off on Mengantar Maut dalam Cumulonimbus

Mengantar Maut dalam Cumulonimbus

Pagi itu terasa dingin, gelap ditemani rintik hujan yang tak enggan pergi sejak matahari belum beranjak dari tidurnya. Pagi itu adalah secuil dari untaian hari musim hujan yang sudah saatnya datang diujung tahun 2014. Beberapa berita telah ramai menyuarakan jeritan para petani tinggal di lereng gunung yang digulung tanah longsor pertanda alam sedang tidak senang dengan kita.

Di sudut Bandar Udara Juanda Surabaya tampak beberapa calon penumpang sedang menunggu saat-saat mereka akan dibawa terbang menuju tempat berlibur yang mereka idamkan, Singapura. Detik-detik yang mereka miliki digunakan dengan sebaik-baiknya untuk berkirim kabar meminta doa demi keselamatan perjalanan hingga sampai di tujuan. Lantunan doa selamat hingga ucapan selamat atas rencana berlibur tiba-tiba menjadi serasa hiruk-pikuk di telinga seolah ingin menutup hari itu dengan haru biru suka cita.

Sejenak dari pengeras suara petugas bandara wanita dengan santun sedang menyampaikan berita bahwa pesawat Air Asia QZ-8501 telah mendarat, menelisik masuk diantara hiruknya percakapan calon penumpang ini. Makin meyakinkan bahwa perjalanan bahagia beberapa detik lagi akan segera terlaksana. Terbayang cerianya kota yang akan segera mereka tinggali meski hanya beberapa hari, namun rencana ini telah ditulis berhari bahkan sejak awal 2014 lalu.

Maskapai Air Asia, seperti tertulis pada hampir setiap badan pesawat putih berbalut merah ini, ingin ikut membuat calon penumpang berbahagia dengan slogan `Everyone Can Fly`. Sudah berapa juta orang yang telah dapat mewujudkan citanya menuju tempat yang bahkan mungkin tidak terbayang akan terwujud hanya dengan merogoh koceh sebagian kecil rejeki yang dimiliki.

Tanpa melihat siapa calon penumpangnya, kemana tujuannya, apa motivasinya, maskapai Air Asia telah banyak menumpuk pahala kebaikan. Semangat positif ini tidak dapat dipungkiri mungkin bahkan membuat maskapai lain tidak dapat melakukannya. Lihat saja bagaimana perbandingan harga penerbangan yang sama pada waktu yang hampir sama dengan maskapai lain.

Orang bahkan membandingkan nilai lebih dari perbedaan fasilitas tempat duduk antara kelas ekonomi dan eksekutif yang hampir dua kali lipat beda harganya dalam pesawat yang sama. Bedanya hanyalah sebatas ada tidaknya selipan makan ringan atau snack, luasnya tempat duduk di kelas eksekutif, perhatian yang lebih ekslusif yang diberikan oleh kru pesawat, dsb. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa itulah tidak seberapa jika diperhatikan bahwa potensi risiko mereka adalah sama karena mereka berada di lantai dan ruang yang sama hanya dibatasi kelambu tipis sebagai pemisah.

Hampir semua dari kita bahkan cenderung akan memilih pesawat dengan harga penerbangan yang lebih murah, lihat saja perbandingan jumlah tempat duduk kelas eksekutif dan ekonomi. Jika calon penumpang didominasi oleh yang memilih harga penerbangan yang lebih mahal, pemilik pesawat tidak akan menempatkan jumlah kursi eksekutif lebih sedikit bukan?

Di benak calon penumpang QZ-8501 ini tidak terbersit apa yang segera akan terjadi di ketinggian 34.000 kaki yang akan segera mereka lalui. Nama awan Cumulonimbus tidak begitu dikenal sebelum beberapa saat mereka harus mencoba menembus awan ini, dan mungkin yang terjadi saat itu adalah teriakan doa dan bahkan teriakan May-day dari pilot yang ternyata tidak terdengar di ujung menara kendali lalulintas penerbangan (ATC) karena bahkan mungkin saat itu semua fungsi telah lumpuh termasuk media komunikasinya. Wallaahua`lam bissawab.

Nama awan Cumulonimbus tiba-tiba menjadi amat terkenal setelahnya. Untung awan ciptaan Allah ini tidak bisa bicara kepada kita, mungkin jika bisa dia akan mengatakan “Kenapa kalian menyalahkan aku? Aku berada di tempat kejadian juga karena perintah dari Sang Maha Pencipta, aku juga makhluk ciptaan seperti kalian. Sudahlah kalian jangan ribut, bukannya kalian memohon doa, berikhtiar agar terhindar dari bencana berbuat baik agar kalian mati dalam keadaan khusnul khotimah. Kalian sudah tahu kan bahwa kematian itu sudah ditentukan waktunya, bukan karena aku.”

Dalam Alqur`an Surat Luqman Ayat 34 `Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.` Sehingga rasanya kita tidak patut untuk untuk menulis kalimat seperti pada judul Mengantar Maut yang berarti seolah-olah sudah tahu bahwa saat itu maut akan datang.

Pembaca yang budiman, apa dan siapapun yang terkait dengan insiden ini selayaknya tidak mendapat tudingan sebagai penyebab, karena jika kita beriman kepada Alqur`an dan Hadits, sudah jelas bahwa hal ini merupakan takdir dari Allah SWT. Adapun upaya investigasi adalah sebagai bentuk ikhtiar melihat faktor utama yang dikemudian hari dapat menjadi pertimbangan untuk memitigasi potensi risiko berulang karena faktor kelalaian manusiawi, kerusakan prematur peralatan maupun tata laksana yang kurang memadai semata.

Semoga bermanfaat. (abharto/012015)

Comments are closed.

Agus Budi Harto - Copyright © 2012 | All rights reserved.