9 April

Ditulis di Opini | Comments Off on Lantunan Ghibah

Lantunan Ghibah

Seorang bayi mungil hari itu lahir ke dunia, bentuk badannya lucu mungil pipinya tembem kemerahan bak tomat yang baru dipetik. Bulu matanya lentik hitam tegas dan matanya bening kebiruan seperti boneka-boneka dalam cerita dongeng. Kulitnya putih lembut kaki dan tangannya bergerak-gerak seolah minta digendong kepada setiap orang yang memandangnya. Begitu lucunya si anak bungsu ini.

Tepat pada hari ketujuh setelah kelahirannya, orang tuanya harus memutuskan nama yang tepat untuk si anak perempuan ini. Ghibahurr Rajihah nama lengkapnya agar si anak perempuan ini suka berbicara dan mendengar dan menjadi utama karenanya. Alasan ini dipilih karena kedua orang tuanya selama ini merasa kurang banyak didengar apabila sedang berbicara dan tidak bisa banyak mendengar karena pendapat orang lain serasa aneh bagi mereka. Maklum orang tua mereka adalah keturunan-keturunan syaiton yang bagi manusia beriman telah digusur dari dalam hati agar tidak merugi kelak di akhirat nanti.

“Ghibah, dengarkan setiap kata orang, sampaikan kepada orang lain, agar kamu lekas pintar,” begitu ajaran yang hampir setiap hari ditegaskan oleh ibu si “Ghibah”, panggilan ringkas untuk Ghibahurr Rajihah, hingga ajaran ini begitu amat dihapal oleh Si Ghibah. Ayahnya acap kali mengingatkan si Ghibah untuk selalu mendengarkan kata ibunya dan agar menceritakan kembali kepada ayahnya setiap sore ketika ayahnya pulang dari beraktivitas.

Ghibah kemudian tumbuh besar dan dewasa, keahliannya amat menonjol bahkan berkembang. Mendengarkan-Menyampaikan-Menambahkan hingga setiap kalimat hasil dari olahannya seperti lantunan sebuah sajak bagi orang lain yang mendengarkan. Contohnya adalah ketika Pak ErTe bilang ke Pak Lurah bahwa air selokan di erte-nya nggak bisa dialirkan karena banyak orang yang membuang sampah sembarangan, Ghibah kemudian mencetak sebuah untaian kalimat “Pak Erte melaporkan kebiasaan buruk para tetangganya membuang sampah sembarangan ke Pak Lurah.”

Ghibah juga ahli memilih orang mana yang pasti akan tertarik untuk mendengarkan dan bahkan dianggap berpotensi untuk mengembangkan lain hasil pengembangan kalimatnya. Dalam hal ini Ghibah melontarkan untaian kalimat-kalimat tadi kepada para tetangga Pak Erte yang tentunya pasti akan merasa menjadi korban dari fitnah yang seolah-olah dibuat oleh Pak Erte. Target empuk paling mudah adalah kumpulan ibu-ibu yang setiap pagi harus berkumpul di pinggir jalan untuk membeli sayuran dari tukang sayur langganan kampung itu, pas sudah.

Lain dulu lain sekarang, kini Ghibah telah menjadi ahli alias master alias suhu di bidangnya. Bak seorang ahli peretas alias hacker, hacker pemula hanya ahli meretas dan terlihat hasil retasannya dan meninggalkan jejak dengan menuliskannya di situs “Hacked by Me”. Tapi suhu peretas justru tidak terlihat apa yang dilakukannya namun dia berhasil mencuri data nasabah bank untuk kemudian digunakan sesuai dengan motivasinya.

Ghibah yang kini menjadi master, telah menitipkan telur-telur ghibah ini dalam hampir setiap orang yang mudah untuk ditempeli telur-telurnya. Tanpa campur tangan ghibah, orang-orang ini secara otomatis telah menjadikan kegiatan ghibah berulang-ulang, dan kemudian menjadi budaya. Ghibah hanya memantau sekilas orang-orang mana yang telah berkurang melakukan pergunjingan menjauh dari ghibah dan jarang keluar rumah, udah menjauhi teman-temannya di kantor yang sering melakukan ghibah. Ghibah telah membuat jurus baru dengan membuat produk-produk yang seolah halal dan disuguhkan kepada ibu-ibu yang menjauhkan dari bergunjing di luar rumah dengan acara-acara televisi yang amat menarik dan tentunya bahkan hampir terlihat tipis bedanya dengan Ghibah, apa itu?

Di perkantoran, telur-telur Ghibah ini juga telah beranak-pinak menjadi kerajaan Ghibah yang hampir amat mustahil untuk ditinggalkan, bahkan tanpa meng-Ghibah, seorang karyawan bisa jadi akan terhambat karirnya karena dianggap tidak bisa menilai keburukan rekan kerjanya. Orang pendiam dianggap sebagai junk-mail yang tidak perlu dilihat bahkan harus disaring agar tidak masuk area operasional dan menunggu waktu untuk dibuang.

Di tempat ibadah tidak ada Ghibah? Jangan dikira, bahkan karena keahlian si Ghibah, seorang ulama pun kadang terpeleset terpancing untuk membicarakan ulama lainnya demi menegaskan kelebihannya sendiri, dan kemudian memilih hadits-hadits lain yang seolah-olah mendukung dibolehkannya Ghibah, misalnya bahwa manusia adalah tempatnya salah, yang penting segera bertobat. Ya, Ghibah telah menjadi suatu ajaran, sistem, metodologi, framework yang hampir amat sedikit orang menyadari akibatnya. Fantastis!

Ghibah adalah perbuatan HARAM karena tegas dilarang dalam QS: 49:12 “Dan janganlah kamu mencari keburukan orang dan janganlah sebahagian kamu meng-ghibah atas sebahagian yang lain; Adakah diantara kamu suka memakan daging saudaranya yang mati? Maka kamu membenci ( memakannya).” Dan dalam sebuah hadits Rasullullah saw pernah menasihati Abu Dzar r.a. , berkata: “Ya Abu Dzar! Berhati-hatilah dengan bergibah. Bergibah dosanya lebih berat dari berzina.” Abu Dzar RA berkata : “Mengapa demikian, Ya Rasulullah ?” Beliau saw menjawab: “Ini karena ketika seseorang berbuat maksiat dan kemudian bertobat pada Allah maka Allah menerima tobatnya, tetapi bergunjing adalah sesuatu yang tak terampuni sampai korban yang digunjing itu memaafkannya.” (Al-Hurr al-`Amili, Wasai’l al-Syi`ah, jil. 8, hadis no. 18312) (http://www.al-islam.org/nutshell/files/gheebah-id.pdf)

Bagaimana menghindarinya, banyak literatur telah membahasnya seperti Al-Islam.org atau Alkhoirot.net, dsb. Namun aplikasi yang paling mudah dan efektif menurut saya adalah dapat dimulai dari tindakan kecil menyaring apa yang akan kita dengarkan dan ucapkan, jika:

  1. Mendengar ada orang yang menceritakan orang lain, maka menjauhlah sebelum memberikan tanggapan sedikitpun.
  2. Terbersit mengatakan sesuatu dan mengenai orang lain, maka batalkanlah. Karena jikapun informasi itu benar maka itulah Ghibah, dan apalagi jika itu salah maka itulah fitnah.

Demikian semoga bermanfaat. (abharto/042015)

Comments are closed.

Agus Budi Harto - Copyright © 2012 | All rights reserved.