11 April

Ditulis di Opini | Comments Off on Menerima Kekurangan dan Menghargai Kelebihan

Menerima Kekurangan dan Menghargai Kelebihan

Segelas air putih dan 3 potong singkong goreng menghiasi meja kecil bundar berjalin rotan yang sudah tidak mengkilat lagi. Hari ini Senin jam 6:30 pagi ketika matahari baru terbit, Pak Cecep memilah-milah lembar Harian Kompas seperti biasanya. Matanya mencari-cari pojok halaman berjudul Tajuk favorit. “Semoga hari ini ada berita baik untuk negeri,” gumamnya sendiri.

“Pak, sudah mulai terang, apa ga segera jogging aja,” sapa Bu Neneng sang istri mendekati meja Pak Cecep sembari membawa secangkir susu rendah lemak untuk suaminya. Pak Cecep hanya melirik melalui ujung kacamata plus, menandakan bahwa dia telah mengerti apa yang disampaikan oleh Bu Neneng. “Lima menit lagi ya Bu,” sekalimat meluncur dari bibir yang ditumbuhi kumis memutih Pak Cecep sesaat setelah matanya kembali fokus pada halaman harian kesayangan.

Sudah setengah abad sepasang suami istri ini menikah, banyak sudah asam garam yang dilalui hingga telah terbentuk karakter yang amat berbeda dengan Pak Cecep dan Bu Neneng yang asli. Keutuhan rumah tangganya hingga kini telah menjadi jawaban atas pertanyaan bagaimana mereka berjuang untuk mempertahankannya. Tidak ada yang mengajari namun hanya sepenggal kalimat warisan yang dipegang erat “Perkawinan itu bak mempertemukan dua batu, sama-sama keras,” kata mendiang ibunya semasa hidup.

Dua puluhan tahunan adalah masa di mana seorang pria dan wanita baru saja meninggalkan masa remaja yang enerjik membawa segenggam prinsip-prinsip tertentu bersama dengan cita-cita masa depan yang sukses. Pada masa tersebut Pak Cecep dan Bu Neneng menetapkan hati untuk hidup bersama, tanpa ada kesempatan untuk belajar banyak mengenai karakter pasangan yang sebenarnya.

Satu tahun masa pendekatan sebelum menikah sebenarnya adalah kesempatan untuk mempelajari karakter calon pasangan, namun justru pasangannya itu menunjukkan performa terbaik dari segala sisi agar dapat menjadi sanjungan hingga menjadi idola dan kemudian ditetapkan menjadi pasangan seumur hidup. Sehingga masa ini justru banyak terjadi proses pengelabuan yang membutakan yang kemudian dapat berakhir dengan kesalahan menyimpulkan.

Tepat pagi hari memasuki hari pernikahannya, Pak Cecep merasakan adanya perbedaan signifikan dari Bu Neneng dari karakter sebelum dinikahinya. Sikap lembut dan perhatian sudah berubah menjadi sikap mengatur dan menuntut. Begitu pula pandangan Bu Neneng terhadap Pak Cecep, sikap pejantan sejati saat pacaran kini telah berubah serasa banyak menyalahkan dan akhirnya meredup menjadi pengalah dan pemurung.

Perubahan karakter ini tidak serta merta terjadi dalam sehari. Prosesnya hingga bertahun-tahun disertai dengan perang dingin yang bahkan lebih gawat dari perang panas. Jika perang antar negara hanya berkisar bulanan, perang ini bahkan bertahun-tahun berlangsung 24 jam sehari dan 7 hari sepekan. Dan alhasil, perang ini membuahkan hasil gemilang mempertahankan perkawinan mereka hingga setengah abad, mereka berdua telah menang.

Pertanyaannya kemudian apakah kemenangan ini membawa kebaikan lain selain hanya bisa bertahan? Padahal di luar sana sudah umum jika suatu kemenangan itu identik dengan didapatnya suatu kepuasan atau dimilikinya suatu bentukan konkrit yang kemudian dapat menggantikan perasaan, keringat dan bahkan kadang darah perjuangan?

Kata kemenangan dan kepuasan amat sering disatupadukan, dijodoh-jodohkan. Keduanya terjadi akibat adanya perjuangan dan memberikan rasa yang hampir mirip sama, perasaan abstrak yang tentunya tidak berwujud. Namun terdapat perbedaan yang nyata dari keduanya dimana kepuasan manusia tidak terbatas sedangkan kemenangan itu pasti terjadi tepat setelah mengalahkan sesuatu.

Jika benar bahwa kepuasan itu tidak ada batasnya, maka yang terjadi adalah bahwa kepuasan itu terjadi sesaat untuk kemudian tidak puas lagi setelahnya. Maka tidak akan ada manfaatnya jika kita membicarakan bagaimana kita bisa mencapai tingkat puas. Oleh karenanya kita akan tinggalkan bahasan ini untuk beralih ke kata kemenangan.

Kemenangan menghasilkan pertahanan, dan pertahanan tidak berhubungan dengan kepuasan. Selain menang mendapatkan pertahanan atas pernikahan mereka, Pak Cecep dan Bu Neneng telah memenangkan mengendalikan ego mereka sehingga terwujud apa yang diperintahkan oleh Sang Khalik bahwa setiap manusia diciptakan berpasang-pasangan dan rahmat diberikan atas setiap pernikahan.

Memenangkan Hubungan

Lalu bagaimana menghasilkan kemenangan seperti yang didapat oleh Pak Cecep dan Bu Neneng? Pada paragraf ke enam di atas Pak Cecep berjuang untuk menerima perbedaan karakter signifikan dari pasangannya karena tidak seperti apa yang dibayangkan sebelumnya, begitu juga Bu Neneng. Jika mereka masing-masing tetap bertahan sekeras batu pada karakter awalnya maka mungkin tidak akan ada hubungan perkawinan atau hubungan lain yang dapat bertahan bertahun-tahun.

Menerima perbedaan khususnya kekurangan pasangan adalah kunci suksesnya, sebab kelebihan pasangan sudah dianggap sebagai nilai plus yang sudah diketahui pada saat penjajakan pra pernikahan. Kekurangan yang dirasakan oleh pasangan pada hakekatnya bukanlah merupakan kekurangan, namun itu adalah bagian dari karakter yang harus diterima oleh pasangan. Tinggal bagaimana menatap kekurangan itu sebagai suatu keniscayaan bawaan yang bisa jadi itu adalah merupakan suatu kelebihan jika dilihat dari perspektif berbeda.

Misalnya jika pasangan dirasakan kurang tanggap terhadap keadaan kita, ya itu lah dia yang jika kita lihat dari perspektif lain mungkin dia memiliki fokus dan prioritas untuk dilakukan terlebih dahulu. “Bu Neneng tidak tanggap bahwa saya sedang ingin membahas masalah warna rumah,” curhat Pak Cecep suatu ketika di awal pernikahan. “Pak Cecep terlalu sopan pada orang lain sehingga dia disepelekan,” curhat Bu Neneng pada sahabatnya di lain kesempatan.

Dari perspektif berbeda, sikap Bu Neneng yang sedang tidak ingin membicarakan warna rumah bisa jadi itu bukanlah masalah besar baginya yang lebih penting adalah kebersihannya. Sikap Pak Cecep yang dianggap terlalu sopan dirasakan sebagai suatu kelebihan yang jusru harus ditingkatkan karena disitulah letak nilai jual Pak Cecep, karena hanya dengan bersikap sopan bahkan Pak Cecep telah menjadi seorang karyawan piawai yang luwes dan bisa diterima oleh banyak orang disekitarnya, sedangkan anggapan disepelekan adalah pandangan sekilas Bu Neneng yang karakternya memang selalu dominan dan ingin menang sendiri.

Menerima Kekurangan tidaklah Cukup

Jika hanya fokus kepada kekurangan, maka seolah-olah pasangan hanya dibekali kekurangan. Sudahkah kita melihat lebih banyak kelebihan dan telah menganugerahi dengan rewardning yang tepat. Kenapa rewarding, karena dengan rewarding kelebihan itu menjadi terpupuk. Dapatlah dibayangkan akibatnya jika setiap pertandingan sepakbola itu tidak ada sorak penonton atau bahkan tidak ada piala penghargaan yang didapat?

Mencari-cari kesalahan pasangan bisa jadi sudah mahfum terjadi di setiap hubungan, namun mencari-cari kelebihan kemudian mengingatnya dan memberikan rewarding yang sederhana semisal sebuah senyuman atau ucapan selamat bisa jadi sesuatu yang langka. Jika sikap penghargaan ini seimbang dilakukan dengan menerima kekurangan pasangan, alhasil pasangan akan ikut sering tersenyum manis penuh semangat akan lebih menerima masing-masing pasangannya.

Darimana asal-muasal pendekatan ini? Kita kadang lupa bahwa kita hidup telah dibekali Alquran dan Hadits sebagai pegangan hidup. Jika masing-masing pasangan memegang erat panduan yang diciptakan oleh pencipta kita, insyaallah masalah ini bukanlah menjadi sesuatu yang kritikal dan besar. Sikap sabar, ikhlas dan bersyukur akan membuat kita jauh lebih bahagia sebagai makhluk ciptaan Nya, dan Allah telah menyiapkan pahala yang setimpal dari rasa ikhlas pada setiap keadaan yang di luar keinginan kita, shadaqallaahul adziim.

Semoga sekelumit ini dapat menjadi review bagi kita semua terhadap pasangan kita, baik pasangan hidup, partner dalam bekerja, dan bentuk hubungan lain yang dapat terjadi dalam hidup kita. Menerima kekurangan dan menghargai kelebihan insyaallah dapat melanggengkan hubungan dalam bentuk apapun, dan dengan tambahan imbalan pahala yang setimpal bahkan pada kondisi tertentu bahkan pahala berlipat, Aamiin.

Semoga bermanfaat. (abharto/042015)

Comments are closed.

Agus Budi Harto - Copyright © 2012 | All rights reserved.