4 April

Ditulis di Kisah, Opini | Comments Off on Mungkin Perlu Diketahui oleh Calon Jamaah Umroh

Mungkin Perlu Diketahui oleh Calon Jamaah Umroh

Umroh merupakan pilihan ketika umat muslim khususnya di Indonesia hendak melaksanakan ibadah haji sebagai rukun Islam ke lima, harus menahan diri karena keterbatasan kuota visa kunjungan ke negara Arab Saudi. Sedangkan berdasarkan “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah.” (QS. Al Baqarah: 196) tanpa mengurangi rasa hormat kita pada pendapat lain maka Umroh adalah wajib sebagaimana Haji.

Bagi jamaah yang baru pertama kali melaksanakan umroh, sebelum berangkat mungkin telah banyak bertanya kepada jamaah lain yang telah pernah melaksanakannya, atau mungkin dengan mencari berbagai tulisan terkait persiapan-persiapan apa saja yang harus dilakukan. Yang jelas perasaan was-was dapat saja terjadi agar segala kekurangan atau kesalahan dapat dihindari untuk mendapatkan hasil ibadah yang paling maksimal, berharap menjadi umroh yang mabrur.

Beberapa hal berikut saya catat setelah menjadi jamaah umroh perdana, karena memang sebelumnya belum pernah terbayang dan mungkin dapat menjadi tambahan referensi bagi jamaah yang baru pertama kali hendak melaksanakan umroh:

  1. Penanda koper. Jamaah yang kebetulan menggunakan jasa Traveling Provider biasanya dibagikan koper yang bentuk dan warnanya sama untuk semua jamaah yang berangkat. Kebetulan yang berangkat bersama saya jumlahnya adalah lebih kurang 400 orang sehingga tanpa penanda khusus yang mencolok, koper-koper akan amat sulit untuk dicari ketika sedang disatukan oleh porter bandara. Saya memilih untuk menandainya dengan kain bekas warna hijau mencolok yang diikat mati di bawah handle. Silahkan pilih metode paling tepat untuk menandai koper Anda.
  2. Miqot di Jeddah. Miqot adalah tempat dimana jamaah umroh harus mulai memakai baju ihrom dan tentunya mematuhi segala perbuatan yang dapat membatalkan ihrom-nya. Pesawat udara dari Jakarta yang saya tumpangi kebetulan langsung menuju Jeddah tanpa transit. Beberapa anggota kloter ada yang lebih memilih untuk mengambil miqot di Jeddah karena dirasa lebih nyaman dan dapat menjamin keberlangsungan ibadah ihrom-nya. Saya memilih untuk mengambil miqot di Yalamlam dan mengganti baju ihrom di dalam pesawat. Oleh karenanya silahkan baca dulu hukum yang tepat sebelum memilih tempat miqot.
  3. Madzhab yang berlaku di Saudi Arabia. Jika di sebagian besar wilayah Indonesia berlaku madzhab dimana wudhu dapat batal karena sentuhan dengan bukan muhrim, maka di Saudi Arabia berlaku madzhab sebelah. Terbukti ketika disyaratkan bahwa tawaf itu harus dengan suci dari hadats besar dan kecil, sentuhan kaki dan lengan dapat terjadi kapan saja saat tawaf berdesakan dengan jamaah bukan muhrim. Silahkan pelajari lebih lanjut mengenai hal ini agar bisa lebih yakin dalam pelaksanaan tawafnya.
  4. Jamaah wanita harus meninggalkan lingkaran tawaf ketika waktu shalat fardhu tiba. Tawaf merupakan rukun kedua umroh setelah ihrom dan sebelum sa`i dan tahallul. Tawaf tidak dibatasi waktu sehingga jamaah dapat melakukannya kapan saja namun harus terpotong dengan waktu sholat fardhu jika bertepatan. Jamaah wanita diharuskan meninggalkan lingkaran tawaf segera meski dan harus berada di barisan jauh di belakang terpisah dari barisan pria. Jika Anda kebetulan umroh bersama mahrom, pilihlah waktu tawaf secara bijak agar hal ini tidak menjadi masalah, karena relatif tidak mudah untuk mencari jamaah lain.
  5. Berwudhu di Masjidil Haram. Beberapa dari kita barangkali merasa lebih afdhol dengan memilih berwudhu di area Masjidil Haram ketika hendak shalat. Namun perlu diingat bahwa meski jarak itu adalah relatif apalagi sedang berada di dalam Masjidil Haram, namun jumlah jamaah yang ada setiap waktu amatlah banyak dan mencari tempat berwudhu dapat memakan waktu hingga bisa ketinggalan waktu shalat, silahkan pilih tempat wudhu secara bijak yang terbaik menurut Anda.
  6. Persiapan gunting tahallul. Perjalanan yang jauh dengan berbagai urusan kadang membuat kita lupa hal-hal kecil seperti membawa gunting. Saya mengalami kesulitan ketika akan bertahallul bersama rombongan, karena ternyata hampir semuanya saling mengandalkan. Alhamdulillah masih ada seorang jamaah yang membawa gunting namun tentunya antrian tahallul menjadi panjang. Silahkan pastikan mempersiapkan gunting dengan bijak.
  7. Membawa tas penyimpan sandal. Perjalanan dari tempat menginap menuju Masjidil Haram tentulah mengunakan alas kaki seperti sandal. Namun ketika hendak memasuki masjidil haram, sendal harus dibuka. Terdapat tempat penitipan sandal/sepatu, namun ketika kita keluar melalui pintu lain setelah umroh atau sholat yang jaraknya dapat berbeda jauh dari pintu masuk. Silahkan pilih metoda menyimpan sendal/sepatu paling bijak misalnya dengan membawa tas tenteng yang tepat untuk menyimpan sendal/sepatu.
  8. Mengingat pintu masuk. Masjidil Haram amatlah luas dengan pintu yang amat banyak. Keluar dari pintu yang berbeda dengan pintu masuk dapat membuat kita mencari-cari jalan semula dan menghabiskan waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk dzikir. Mutowwif mengingatkan kami untuk mengingat pintu nomer 90 yang kebetulan paling dekat dengan jalan dari dan menuju tempat menginap. Adalah lebih bijak untuk mengingat setiap jalan mulai dari pintu masuk menuju Ka`bah agar lebih mudah mencari jalan keluar nanti.
  9. Berdoa di Raudhah. Ziarah ke Mesjid Nabawi di Madinah salah satunya untuk berdoa di dalam Raudhah. Setelah sholat sunnah sebelum memasuki garis Raudhah, jamaah dari berbagai penjuru dunia berdesakan untuk berdoa sebanyak-banyak di tempat yang mustajab ini. Kunjungan pertama kali, saya terbawa oleh desakan-desakan ini sedangkan saya belum tahu batas mana wilayah Raudhah dan mana yang bukan, sehingga saya baru sadar bahwa saya telah melewatinya setelah sampai tepat di depan Makan Rasulullah Muhammad SAW, dan khirnya saya harus mengulanginya di waktu setelahnya. Pastikan Anda tahu mana batas Raudhah sebelum melintasinya.

Beberapa hal lain yang baru saya ketahui setelah benar-benar bisa hadir di Saudi Arabia adalah:

  1. Mutowwif sebutan untuk seorang ustadz yang membimbing rombongan melaksanakan semua kegiatan, tidak ada yang saya temui dalam ibadah umroh kali ini yang bukan dari Bangkalan Madura. Sebelumnya saya pikir mutowwif itu adalah orang Arab yang bisa berbahasa Indonesia.
  2. Kontur tanah di sekitar luar Mesjidil Haram ternyata adalah berbukit sehingga banyak terowongan yang dibuat oleh pemerintah Arab Saudi untuk jalan transportasi. Sebelumnya saya pikir adalah padang pasir yang cenderung rata amat luas.
  3. Beberapa petunjuk di beberapa tempat di sekitar Mekkah dan Madinah ditulis dalam Bahasa Indonesia selain Bahasa Arab dan Inggris, bukan bahasa lain. Mengindikasikan bahwa jamaah banyak berasal dari Indonesia (Banyak jumlahnya yang berkunjung atau tersesat ya?)
  4. Merk kendaraan yang paling banyak saya temui di jalam adalah Toyota, Hyundai dan KIA. Sebelumnya saya pikir pastilah kendaraan didominasi oleh pabrikan sekitar Jazirah Arab. Namun demikian selama 3 hari di Mekkah saya menjumpai sekitar 5 buah kendaraan merk Toyota yang di derek di jalan depan hotel yang terjal.
  5. Suhu udara di siang hari 40-41 derajat celcius di area Masjidil Haram di siang hari, sedangkan pemberhentian di perjalanan dari Mekkah dan Madinah adalah 23 derajat celcius pada pagi hari.
  6. Dapat dibayangkan betapa besar perjuangan Rasulullah Muhammad SAW. dan sahabat-sahabat beliau pada jaman dahulu kala ketika semua fasilitas tidak semudah saat ini, saat ini dimana-mana sudah dingin ber-AC, perjalanan menggunakan alat transportasi modern, alat komunikasi canggih, Subhanallah.

Demikian semoga tulisan ini bermanfaat. (abharto/042015)

Comments are closed.

Agus Budi Harto - Copyright © 2012 | All rights reserved.