1 May

Ditulis di Cerpen | Comments Off on Hukuman Toli-toli

Hukuman Toli-toli

Kini tiada lagi syurga bagi para peminum arak, para pecandu obat-obatan terlarang, para pelaku seks bebas, para begal penjarah harta milik pengguna jalan, para koruptor kekayaan negeri, dan aksi bebas lain mirip masa jahiliyah semasa sebelum iman ditegakkan. Kini Raja Bingar berkuasa menggantikan kakak kandungnya yang meninggal akibat serangan jantung sore hari tepat setelah rapat bahasan pajak negeri sebulan lalu.

Raja Bingar memiliki karakter amat berbeda, dirasakan amat tegas oleh seluruh penduduk negeri. Para pelaku kejahatan mulai gelisah dengan berbagai aturan yang ditetapkan. Media televisi dan koran nasional makin santer memberitakan hilangnya beberapa penjahat kelas kakap yang selama ini amat sulit ditangkap dan terkesan amat licin. Akibatnya, berita-berita populer semacam perampokan, penjarahan, pemerkosaan, kasus korupsi amat cepat hilang dari peredaran.

Kasak-kusuk mulai terdengar meski tidak santer, bahwa Raja Bingar membuat sebuah terobosan berupa hukuman baru yang beberapa kali disebut sebagai Hukuman Toli-toli oleh para hakim dan jaksa di pusat kota. Namun tidak ada satupun yang dapat menjelaskan hukuman seperti apakah Hukuman Toli-toli ini. Sang Raja juga tidak menuliskan secara eksplisit mengenai definisi dan juklak alias petunjuk pelaksanaan dari Hukuman Toli-toli.

“Pagi ini seorang gembong koruptor lagi-lagi tiba-tiba hilang dari rumahnya, beberapa saksi mata yang tinggal di kawasan yang sama menyatakan bahwa semalam sebuah mobil mendekati rumah itu dan kemudian tampak empat orang bersenjata lengkap membawa paksa pejabat yang korup itu ke dalam mobil tertutup lalu secepat kilat hilang dari pandangan,” begitu sepetik berita televisi nasional pagi.

Rakyat seluruh negeri mulai tahu akibat dari kebijakan Raja baru mereka. Semakin hari suasana negeri tampak makin lengang, dirasakannya makin amat mencekam, namun bagi para korban tindakan masa jahiliyah, hal ini amat sangat membahagiakan mereka karena bagaimana tidak, kini tidak ada lagi rasa tidak aman, kemana-mana tidak perlu lagi merasa takut karena tindakan-tindakan kejahatan sudah mulai sirna.

Mungkin karena tidak jelasnya informasi mengenai seperti apa Hukuman Toli-toli itu, istilah ini menjadi terasa amat angker bahkan sedikit mendekati sakral. Seluruh negeri amat membicarakannya namun tidak ada satu bagian elemen kerajaan yang tahu detil mengenai hukuman itu. Hingga kemudian rahasia negeri ini mulai tercium oleh negeri-negeri tetangga, karena hukuman ini dirasakan amat sangat efektif untuk meredakan berbagai masalah politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan negeri.

Negeri Malasa sebagai negeri terdekat dengan negeri Hingar yang dipimpin oleh Raja Bingar ini misalkan, mencoba mengirimkan utusannya demi untuk mendapatkan informasi seputar solusi terobosan baru ini. Namun jangankan para utusan yang dikirimkan, bahkan keluarga kerajaanpun bahkan tidak seorangpun yang tahu jelas mengenai seperti apa Hukuman Toli-toli yang amat mashur ini.

Persekutuan negeri-negeri tetangga kemudian melakukan rapat untuk mencari tahu cara mendapatkan informasi dari Raja Bingar mengenai hal ini. Sebuah strategi lalu ditetapkan, di mana seorang mantan pasukan katak yang handal kemudian ditugaskan untuk menyusup menjadi seorang rakyat yang seolah melakukan pencurian direkayasa. Tidak mudah memang untuk mewujudkan rencana ini karena kini untuk memasuki negeri Hingar sudah amat sulit karena para penjaga perbatasan sudah amat faham mengenai hukuman yang akan mereka dapat jika melanggar, Hukuman Toli-toli pastinya.

Bukan Kapten Tolesi namanya jika takut dengan sesama manusia, begitulah prinsipnya. Dia sudah terbiasa dengan peralatan canggih dari mulai menggunakan hingga memperbaiki dalam kondisi darurat. Namun dalam tugas ini Kapten Tolesi hanya dibekali dengan sebuah perekam suara mikro yang dapat mengirimkan suara secara langsung ke negeri Malasa, alat inilah satu-satunya yang paling mungkin dipergunakan untuk menerobos masuk Kerajaan Hingar. Bukan Kapten Tolesi namanya jika mudah mengeluh dan pulang dengan tangan hampa.

Para ahli badan intelijen persekutuan negeri tetangga sudah bersiap-siap untuk merekam suara kiriman dari peralatan Kapten Tolesi. Sehari, dua hari, sepekan, namun belum ada juga sinyal suara yang ditangkap dari peralatan Kapten Tolesi. Suasana amat mencekam di ruang pusat pantauan amat rahasia itu ketika belum ada sinyal suara sedikitpun yang mereka terima bahkan dua puluh empat jam lebih dari waktu paling lambat yang seharusnya.

Dugaan sementara adalah bahwa Kapten Tolesi telah tinggal nama, dan para ahli strategi yang berkumpul di ruang pemantauan juga harus menyiapkan rencana berikutnya, di mana jangan-jangan Kapten Tolesi telah membocorkan rahasia mereka dan mereka harus segera menyiapkan kondisi perang jika tiba-tiba Raja Bingar memutuskan untuk men-Toli-toli negara mereka, jangan-jangan negara mereka juga bahkan satu-persatu hilang lenyap akibat Hukuman Toli-toli.

“Kita semua tidak tahu seperti apa dan untuk siapa Hukuman Toli-toli itu dijalankan. Yang kita tahu hanyalah akibat dari hukuman itu. Jika hukuman ini juga berlaku bagi kita pelaku kedzaliman untuk mencuri informasi rahasia mereka, lalu jangan-jangan kita tiba-tiba lenyap sebelum mempersiapkan peralatan tempur yang semestinya.” Begitu arahan pesimis dari pimpinan persekutuan negeri-negeri tetangga dalam proyek rahasia mereka.

Krek..krek…saaaaaaaa…krek..saaaaa, tiba-tiba terdengar dari peralatan pantau. “Ssssstt… diam..diam, ini ada suara masuk,” bisik pimpinan proyek dan serentak telinga-telinga mereka sedikit memanjang seolah sedang khusuk menangkap sinyal transmisi. Sinyalnya makin kuat dan makin jelas, lalu tertangkap suara percakapan:

Algojo: “Siapa namamu?”
Tolesi: “To..to..to” (plak.. terdengar kemudian, sepertinya Kapten Tolesi sedang ditempeleng Algojo)
Algojo: “Sekali lagi gugup kupenggal kepalamu! Siapa namamu?”
Tolesi: “Tolesi”
Algojo: “Aku tidak perduli dari mana asalmu, berapa tinggi pangkatmu, keturunan mana, jelas bahwa kamu telah melakukan pencurian di negeri ini. Kamu hanya bisa menjawab satu kali dan tidak dapat diulang. Kamu memilih hukuman mati atau Toli-toli?”
Tolesi bergumam menceritakan kondisinya melalui mikropon rahasia dan berharap Algojo tidak mendengar:
“Pilihan hanya dua, pilihan bodoh untuk memilih hukuman mati, barusan di depan saya seorang terdakwa memilih hukuman mati dan  kepalanya langsung menggelinding tepat di kaki kananku setelah dipenggal.. krek..saaaa..”
Algojo: “Kamu tidak disuruh berdoa, kamu hanya disuruh milih, jawab sekarang atau kupenggal sekarang??? Pilih hukuman mati atau Hukuman Toli-toli???!” (Algojo berteriak dengan nada tinggi)
Tolesi: “Toli-toli!” (suara Kapten Tolesi tegas)
Algojo: “Petugas, siapkan peralatannya karena dia sudah memilih. Kamu pasti belum tahu Hukuman Toli-toli, karena hukuman ini hanya dapat diberitahu kepada tersangka yang benar-benar memilih hukuman ini, atau saya sendiri yang akan dihukum Toli-toli!. Hukuman mati adalah hukuman dengan memenggal kepala langsung, sedangkan Hukuman Toli-toli adalah hukuman dengan menyiramkan air gula keseluruh badan yang terikat, lalu menyiramkan semut merah dan membiarkan terdakwa hingga mati, ha..ha..ha..” (demikian algojo menerangkan)

Seluruh petugas yang hadir dalam ruang pemantaupun lemas seketika, suasana amat hening dan hal ini menjadi membuat amat gentar akan wibawa Raja Bingar. Keesokan hari-nya kembali terpapar berita bahwa telah hilang lagi seorang penyelundup negara lain, sedangkan televisi negeri Malasa memberitakan bahwa telah gugur seorang pahlawan negara “Kapten Tolesial Kalini demi menjalankan tugas negara.” Sementara itu Raja Bingar sendiri sedang menyiapkan perangkat-perangkat yang diperlukan untuk men-toli-tolikan negara Malasa yang tentunya masih amat rahasia bentuk hukumannya seperti apa.

Cerpen bebas ditulis tangan dan nama-nama yang ada di sini hanya rekayasa untuk tujuan hiburan semata. Semoga menghibur.(abharto/052015)

Comments are closed.

Agus Budi Harto - Copyright © 2012 | All rights reserved.