Nobody Can Hurt Me Without My Permission

Sejenak Dhea menatap bentuk persegi empat warna putih tepat di atas tempat tidurnya, plafon yang selalu menjadi teman untuk bicara setiap hendak tidur itu tetap bisu meski kadang dirasakan ikut mendengarkan setiap kalimat yang dia rasakan akhir-akhir ini. “Plafon, kamulah satu-satunya yang bisa mendengarkanku bicara tanpa suara,” begitu gumamnya dalam hati.

Gubraak.. “cie-cie.. ngelamunin siapa kak? yang kemarin atau yang mana nih,” goda si adik tiba-tiba masuk kamarnya tanpa mengetuk pintu. Dhea tetap diam nggak menghiraukan candaan si adik. “Huuu.. gitu.. katanya mo ngomong kalo ada yang mau diceritain,” gerutu si Adik sambil menggaruk jidat yang nggak gatal, menjauh dari kamar, menutup pintunya kembali rapat dan menghilang.

Dhea seorang yang pintar, memiliki ambisi dan semangat untuk bersaing mengalahkan teman-teman di sekolahnya yang pinter. Dia amat ingat ketika masih Esde, nggak ada yang bisa mengejar nilai-nilainya bahkan untuk penilaian kelas paralel. Namun sejak pindah ke Ibu Kota, Dhea belum menemukan jalan bagaimana cara mendapatkan nilai terbaik di kelas.

Tanggal Lima Mei sore beberapa hari lalu Dhea amat gusar menunggu saat-saat pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi melalui jalur undangan. Beberapa kali jam dinding di ruang tengah dilihatnya meski baru beberapa detik bergeser. “Ya Allaah, berikan aku kelulusan ya? permudahkan jalanku untuk mencapai cita-citaku,” pintanya kepada Sang Maha Pengasih.

Tepat jam Lima sore, Dhea membuka netbook dan buru-buru menyalakan theatering di hape-nya. Username dan password-nya sudah nggak perlu lagi dipikir karena sepertinya nggak jauh-jauh dari sebuah tanggal yang entah tanggal apa itu namun ingat betul angka-angka itu. U-er-el situs penyelenggara seleksi nggak perlu diketik lengkap karena sudah tersimpan dalam tembolok browser yang dia gunakan.

“Bismillah,” serunya sesaat setelah mengetikkan nomor peserta seleksi sebelum jemarinya menekan tombol masuk. “Innalillah..,” berikut kalimat yang keluar dari bibirnya tepat sesaat setelah melihat tulisan putih berlatar merah “TIDAK LULUS”. Darahnya serasa berdesir, badannya lemas, bibirnya memutih pucat, tangannya lunglai dan nggak sempat mematikan netbook lalu buru-buru menutup layar dan kemudian tengkurap di tempat tidurnya.

Air matanya menyiratkan rasa kecewa yang amat dalam, menyalahkan dirinya yang merasa kecil, hancur berkeping. Matanya berair menyempit dan beberapa saat berputar, “nggak adil, kenapa yang sudah berjuang masih juga nggak lulus,” katanya dalam hati berekspresi. Lalu tiba-tiba dia ingat sesuatu, berdiri mendekati hape satu-satunya dan kemudian membaca satu persatu status teman-temannya yang lain di facebook.

“Alhamdulillah akhirnya lulus juga,” berikut status dari teman sebangkunya di kelas, Dina. Tanpa pikir panjang, Dhea menelepon Dina. “Din, selamat yaaa.. kamu diterima di universitas mana?,” tanya Dhea amat bersemangat meski tangannya masih lemas merasakan kegagalan dalam seleksi. “Aku lulus universitas yang dan jurusan yang sama denganmu,” teriak Dina di telepon.

Dhea nggak sadar menjatuhkan hapenya, ini tamparan kedua kali yang amat menyakitkan hati pada jam itu. Dina yang selama ini amat dipercaya sebagai sahabat, diberitahu semuanya secara terbuka kemana Dhea hendak memilih Universitas dan jurusan, namun ternyata Dina berbohong. Betapa tidak menyakitkan, Dhea tahu bahwa nilai mata pelajaran Dina lebih baik darinya, jika tahu Dina memilih jurusan yang sama, maka pastilah Dhea akan menghindar untuk memilih jurusan itu..!

Yah, Dina telah mengkhianati kepercayaannya, Dhea kali ini mendapatkan pelajaran bahwa tidak semua sahabat itu bisa dipercaya bahkan teman sebangku pun bisa berkhianat. Namun sayang, bahwa pengalaman ini jika dibiarkan dapat benar-benar merubah nalar sehatnya untuk membentuk karakter negatif yang amat mudah curiga dan sulit membangun trust terhadap siapapun.

Sebagai papanya, kubuat sebuah tulisan lalu menempelkan di dinding kamarnya, “Nobody Can Hurt Me Without My Permission – Mahatma Gandhi.” Pada saat yang tepat, kuajak Dhea bicara berdua sambil menatap tulisan itu, “Apa artinya itu Pah,” ucapnya ingin tahu. “Ini sebuah pepatah tersohor dari seorang tokoh yang penuh arti, mungkin cocok untuk suasana hati Dhea saat ini.

Nobody Can Hurt Me Without My Permission

Tidak seorangpun yang bisa menyakitiku tanpa ijinku, begitu kira-kira artinya. Dhea pasti sakit hati karena telah dikhianati sahabat kepercayaannya yang sudah tiga tahun sebangku di es-em-a. Dengan mengabaikan pepatah tersebut, Dhea pasti akan menaruh dendam dan bahkan merusak karakternya yang sudah baik kemudian menjadi seorang yang penuh rasa curiga, negatif setiap saat.

Seandainya Dhea tahu cerita ini akan terjadi, Dhea pasti akan lebih berhati-hati bercerita kepada sahabatnya itu. Karena Dhea mengabaikan sikap kehati-hatian ini dengan memberikan akses kepada Dina untuk mendapatkan berbagai informasi termasuk yang pribadi dari dirinya, maka peristiwa ini terjadi. Setuju bahwa tidak semua orang memiliki karakter pengkhianat seperti Dina, karena Dina pun merasa bukan sebagai pengkhianat tapi merasa lebih pintar dan cerdik ketimbang Dhea yang terlalu besar membangun trust.

Begitu pula dengan berbagai keadaan hidup yang menyakitkan hati, dengan landasan pepatah ini maka hal itu tidak selalu merupakan kesalahan orang di luar kita, akan tetapi adalah karena kita yang telah memberikan ijin kepada orang tersebut untuk menyakiti hati kita, mari kita tanyakan kepada diri beberapa hal di bawah ini, apakah kita telah pernah disakiti oleh orang lain karena kita memberikan ijin kepada orang itu untuk:

  1. Mendengarkan semua hal-hal pribadi kita tanpa batas?
  2. Mendapatkan hati kita untuk menjadi seorang kekasih hati tanpa batas?
  3. Mencurahkan semua isi hati masalah kerjaan di kantor?
  4. Mengumumkan kepada publik mengenai identitas diri termasuk di media sosial?
  5. Menjawab semua isi survey dengan imbalan sebuah boneka cantik?

dan mungkin masih banyak ijin yang telah pernah kita berikan kepada orang lain sehingga hal-hal menyakitkan itu terjadi.

Seorang hacker berpendapat, “TRUST is Good, but CONTROL is better.” Demikian dan semoga bermanfaat. (abharto/052015)