6 May

Ditulis di Opini | Comments Off on Tawaran Meretas Akun

Tawaran Meretas Akun

“Seseorang telah menyalahgunakan beberapa akunku,” begitu Ratih (nama samaran) menerangkan dalam akun Twitternya. Ratih adalah seorang politikus yang sedang berada di atas daun. Kemengannya dalam kancah politik secara turun temurun membuatnya relatif mudah mendapatkan kembali kejayaan kakek neneknya. Betapa tidak, sekali sang Kakek berhasil bertengger di atas daun, sudah barang tentu jabatannya menjadi mesin penghasil uang seperti mesin ATM, tinggal memencet tombol lalu keluar uang tanpa harus memikirkan siapa lagi giliran nanti yang akan mengisinya.

Ratih kini menjabat sebagai seorang pejabat setingkat Kepala Kabupaten di suatu daerah. Usia menjabatnya hampir menjadi usia termuda seorang Bupatiwati senegeri ini. Usianya yang belia ini jika dikategorikan termasuk dalam generasi X, di mana pada masa setelah usia remajanya telah berkembang pesat berbagai teknologi komunikasi termasuk media sosial.

Ratih yang tahu betul bagaimana menggunakan media sosial sebagai media publikasi guna mendongkrak perolehan suara menjelang kampanye pemilihan kepala daerah, merasa amat merugi memiliki sedikit akun media sosial yang untuk mendapatkannya tidak serumit mendapatkan sekeping kartu identitas penduduk di daerahnya yang kaya akan sumber alam, juga tidak semahal membeli villa yang ketika sedang letih tinggal hanya menyuruh ajudannya untuk mengantarkan ke ruangan dingin tanpa penyejuk udara di daerah dataran tinggi.

Ratih hapal betul bahwa Twitter telah amat banyak membantu berkomunikasi dengan para penggemarnya yang memberikan suara dalam pilkada. Facebook amat bermanfaat untuk menyebarkan ayat-ayat suci hasil karyanya sehingga para penggemar calon pengikut itu terbius. Sisa-sisa kecantikan paras dan kemolekan tubuhnya menjadi salah satu daya tarik penikmat media grafis dunia maya di Path. Dan seiring berjalannya masa tugas sebagai abdi negara, Ratih sudah tidak memiliki waktu lagi untuk memelihara akun-akun kesayangannya.

Sayangnya, akun berbeda dengan makhluk bernyawa yang setiapnya pasti akan mati. Akun-akun ini kemudian seperti rumah yang ditinggal lama penghuninya, terlihat kosong tidak terawat. Namun sayang sekali bahwa akun terlantar milik tokoh publik amat sayang jika tidak diusili. Peretas pemula pun amat demen dengan permainan meretas yang satu ini, karena sudah pasti akun adalah media produk teknologi yang tersimpan di pinggir jalan yang jika pencuri mau, tinggal mencungkil kunci jendelanya saja.

Kelimpungan dengan akun yang mulai dihuni oleh sejenis `makhluk halus`, Ratih kemudian mengeluarkan jurus amat biasa yang biasa dilakukannya dalam menghadapi setiap masalah dalam birokrasi pemerintahannya. UUD alias ujung-ujungnya duit amat fasih terlontar dikalangan para oknum birokrat. Ratih dalam satu-satunya akun kesayangannya di Twitter kemudian merilis semacam sayembara bagi para pemberani yang suka tantangan untuk membantunya menyelesaikan masalah ini.

Kita tidak perlu berpanjang lebar untuk membahas hal ini karena sudah barang tentu akhirnya akan berujung kepada Ghibah. Apa yang bisa diambil insight-nya adalah bahwa upaya semacam ini dapat berarti merupakan upaya ikhlas serius dari seorang Ratih yang benar-benar membutuhkan pertolongan, namun kita harusnya tahu bahwa semua tulisan yang muncul di dunia maya dapat merupakan ungkapan otentik maupun kawe-kawe buatan yang penuh makna bersayap. Kemungkinan-kemungkinan untuk dapat kita waspadai adalah:

1. Sayembara Serius
Jika tweet ini merupakan sayembara serius, amatlah terlalu mahal untuk menyelesaikan masalah ini hingga harus membuang uang yang bukan mustahil bercampur dengan uang rakyat. Karena meretas akun bagi seorang peretas amatlah tantangan yang tidak besar seperti tantangan membongkar etalase berisi sepucuk amplop berisi pesan rahasia pribadi. Tidak perlu melumpuhkan seorang Satpam karena etalase tidak dijaga secara dedicated, tidak perlu membongkar pintu jeruji berbahan keras karena etalase hanyalah berbahan kaca, tidak perlu meraba-raba di kegelapan karena etalase selalu diterangi dengan lampu penerang. Amatlah umum meretas akun menggunakan teknik social engineering, teknik fake mail, teknik fake url hingga yang agak memerlukan kesabaran adalah teknik brute force attack. Setelah masuk, tinggal ganti password sesukanya dan pasang tongkat bendera tanda pemilik baru, horee.
2. Sayembara Palsu
Tweet ini jarang dianggap sebagai teknik memancing pelaku peretas untuk keluar dari persembunyiannya, karena pikiran manusia lebih condong untuk fokus kepada nilai rupiah yang ditawarkan lalu berlanjut untuk berlomba-lomba memenangkannya. Namun bagaimana jika kita adalah salah satu peretas profesional yang serius untuk membantu lalu mengajukan diri untuk berkomunikasi dengan seseorang bernama Ratih yang ternyata adalah umpan dari profesional hukum yang sewaktu-waktu dapat menangkap kita karena berniat meretas?
3. Sayembara Olokan
Bahkan mungkin sayembara ini keluar dari seorang yang benar-benar seorang Ratih yang memiliki duit namun sama sekali nggak percaya dunia perdukunan teknologi. Ratih mencoba memasang password sepanjang mungkin, meletakkan pemancing jawaban password yang amat tidak berhubungan dengan dirinya, yang makhluk halus sekalipun merasa malas untuk mencoba bermain-main dengannya. Ratih hanya ingin tahu sejauh mana orang-orang yang mengaku peretas kemudian muncul berpakaian lengkap menyerupai peretas profesional lalu memanggilnya di depan para birokrat untuk kemudian mem-bully-nya lalu mengumumkan kepada rakyat yang dipimpin akan keberhasilannya menangkap seekor curut kecil yang nakal.

Kesimpulannya, angka 50 juta terasa amat menggiurkan dan membuat sebagian besar orang menelan ludah tanda berharap. Namun mari lihat kembali tujuan sebenarnya dari dibuatnya Tweet ini, benarkah sebuah sayembara serius, sayembara palsu atau semata-mata hanya upaya mem-bully curut kecil yang mengaku canggih. Jika sayembara ini serius, seharusnyalah Ratih tidak membuatnya menjadi sebuah sayembara, tinggal melaporkannya kepada pihak yang berwenang yang tentunya sudah memiliki para profesional. Jika sayembara ini tidak serius, lupakanlah karena Allah amat tidak suka dengan tindakan-tindakan yang mubadzir.

So, apa yang membuat Ratih tergelitik untuk membuat sayembara? Apakah karena dia tidak tahu prosedur pelaporan kejahatan maya yang benar, ataukah tidak berani terlalu serius menanganinya karena mungkin isi dari inbox Twitter-nya mengandung informasi-informasi yang `jauh lebih penting` dari urusan negara? Hahaha.. Jika Anda merasa tahu siapa si Ratih ini, kirimkan email ke saya, nanti kita bisa diskusi apakah kita perlu membantu dia, kasihan amat dia.

Semoga bermanfaat. (abharto/052015)

Comments are closed.

Agus Budi Harto - Copyright © 2012 | All rights reserved.