7 June

Ditulis di Ekspresi, Opini | Comments Off on 10 Menjelang 55

10 Menjelang 55

Apakah Anda termasuk orang yang lahir pada tahun 1970? Apakah Anda bekerja di suatu perusahaan? Apakah Perusahaan Anda menetapkan usia pensiun adalah 55 tahun? Jika iya, maka Anda termasuk kelompok orang yang saat ini sedang dalam masa “10 tahun menjelang masa pensiun”. Orang yang tidak semuanya berpikir sama ketika sedang berada dalam comfort zone untuk mengamati, meneropong, masa-masa di mana pada saat itu penghasilan kita langsung terhenti tanpa peduli.

Kalau kita perhatikan, beberapa orang senior kita yang berada dalam masa satu hingga dua tahun setelah masa pensiun, tampak perubahan fisik secara drastis. Pria yang biasa berpakaian rapi dengan rambut klimis kemudian tiba-tiba berpakaian lusuh dan rambut serentak memutih. Pria yang biasanya gagah dengan senyum wibawa, tiba-tiba sakit dan selalu terserang penyakit. Pria yang biasa selalu bicara tegas tiba-tiba suaranya lirih pelan disertai batuk berdahak.

Perubahan drastis itu bukan tidak mungkin adalah karena situasi sekeliling yang biasanya penuh dengan tekanan pekerjaan penuh target mendesak di tempat kerja, kemudian tiba-tiba tidak ada tantangan, bebas tanpa batas apapun yang akan kita lakukan. Kondisi ini bukan menjadikan kita terbebas namun bahkan menjadi hopeless merasa tidak berguna. Tidak ada lagi tuntutan untuk berangkat pagi, bekerja keras mengejar target, tampil mempesona dihadapan para stakeholder untuk meyakinkan mereka.

Sepuluh tahun lagi masa-masa itu akan kita lewati bersama. Semua orang yang memiliki kondisi yang sama dengan paragraf pertama di atas akan serentak menghadapi hal yang sama. Namun sepuluh tahun itu bukan waktu yang lama, jika kita perhatikan pada jaman orde baru dulu, sepuluh tahun hanyalah dua kali masa pelita (pembangunan lima tahun), atau jika kita ingat masa pemerintahan presiden esbeye, yang terasa baru saja dilantik menjadi presiden dan lalu tiba-tiba sudah sekarang sudah diganti dengan presiden yang baru.

Jika masa itu harus kita lewati bersama, sudahkah kita mempersiapkannya agar situasi “mencekam” itu tidak sedemikian menakutkan? Apakah yang sudah kita lakukan? Apakah kita fokus untuk mempersiapkan dari segi finansial, segi kestabilan mental jiwa, segi kesehatan raga, dan lain sebagainya. Ataukah kita tidak perlu perduli dan cukup membiarkan saja semuanya terjadi? Tapi mengapa tidak sedikit dari senior kita yang mengalami degradasi kesehatan, mental?

Jika kita kembalikan bagaimana diciptakan, sudah barang tentu kita akan dibekali dengan berbagai perangkat sehingga kita tidak perlu khawatir bagaimana kita bisa hidup. Namun demikian jika kita melihat sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim, “Sesungguhnya seseorang di antara kamu yang berpagi-pagi dalam mencari rejeki,memikul kayu kemudian bersedekah sebagian darinya dan mencukupkan diri dari (meminta-minta) kepada orang lain, adalah lebih baik ketimbang meminta-minta kepada seseorang, yang mungkin diberi atau ditolak.” Hal ini berarti bahwa setelah pensiunpun tidak ada alasan bagi kita untuk kemudian berdiam diri.

Kalau kita perhatikan, rekan seusia kita tidak sedikit yang tetap memiliki ambisi yang dapat melupakan kondisi 10 tahun mendatang. Lupa untuk mempersiapkan diri bahkan tidak segan untuk berbuat hal-hal yang dapat menyakitkan rekan kerja lainnya. Lupa bahwa ketika mendadak dihadapkan pada kondisi tidak bekerja, rekan sekerja yang telah dijalin tali silaturrahimmya dengan baik, bisa jadi dapat saling menjadi penyokong keberlangsungan kehidupan ekonominya. Setidaknya misalnya memberikan informasi mengenai adanya kesempatan kerja dan sebagainya.

Oleh karenanya, saya mengajak khususnya kepada diri saya sendiri dan kepada pembaca yag budiman semua, untuk kembali mengintrospeksi diri, sejauh mana kesiapan kita menghadapi hal tersebut. Hal-hal di bawah ini dapat menjadi tambahan pertimbangan:

  1. Mari kita tingkatkan kualitas keharmonisan antar personal di dalam lingkungan kerja sehari-hari. Menurut pengalaman saya keluar masuk perusahaan, ternyata tali silaturrahim dapat membuat kita jauh lebih siap.
  2. Memulai membiasakan diri untuk merasakan seolah-olah kita berada dalam kondisi finansial 10 tahun mendatang. Barangkali ada ide-ide yang dapat membuat kita bergerak bukan hanya berfikir untuk berusaha mandiri.
  3. Menjaga kesehatan raga dengan berolahraga secara teratur.
  4. Bersyukur dengan kondisi finansial yang ada saat ini, sebab dalam QS Ibrahim: وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ 7 “Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan;  “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. Insyaallah Allah akan menambahkan nikmat jika kita selalu bersyukur.

Semoga kita semua selalu ditetapkan iman, dipanjangkan umur agar bisa menabung pahala lebih banyak, dan berakhir dalam keadaan khusnul khotimah, Aamin. Semoga bermanfaat. (abharto/062015)

Comments are closed.

Agus Budi Harto - Copyright © 2012 | All rights reserved.