Kelakar Sang Profesor

Beberapa waktu lalu saya mengikuti sebuah pelatihan terkait tata kelola bidang teknologi informasi di daerah Jalan Sudirman Jakarta Pusat. Yang menarik dari pelatihan ini adalah pengajarnya yang luar biasa, bukan pengajar biasa namun cenderung seorang ahli dan bahkan terkenal seperti layaknya artis, beliau adalah seorang Profesor.

Bagi kalangan akademisi mungkin gelar profesor adalah sesuatu yang mahfum, namun bagi saya yang berpendidikan tidak lebih dari sarjana biasa, gelar profesor amat mengagumkan, pasti orangnya pinter, cerdas. Dan, profesor yang satu ini bukan hanya pinter tapi juga amat pandai menyenangkan para peserta pelatihan yang diajarnya.

Beberapa hal yang sempat saya ingat dan membuat peserta pelatihan tertawa lebar adalah:

Mengapa lambang negara kita adalah Burung Garuda

Pada beberapa detik tepat saat peserta pelatihan mulai ada yang menguap, Profesor bertanya kepada kami semua, “Apakah kalian tahu mengapa lambang negara kita adalah burung garuda?”. Pertanyaan dadakan ini pastinya tidak bisa dijawab oleh peserta pelatihan yang sedang fokus pada materi pelatihan. “Presiden pertama kita amatlah cerdas sehingga dapat memilih tanggal kemerdekaan, sehingga angka tujuh belas menjadi jumlah helai sayap, delapan sebagai jumlah helai bulu ekor, sembilan belas sebagai jumlah helai bulu dibawah perisai, dan empat puluh lima di bulu leher. Coba bayangkan jika tanggal lahirnya satu April, bisa jadi lambangnya adalah Capung dengan sayap berjumpah empat dan satu ekor, atau dua juni menjadi lambang kecoak dengan sayap dua lembar dan empat enam kaki, hahaha..” kata Sang Professor berkelakar.

Wanita itu hebat dalam menawar harga

Pada kesempatan lain profesor menyatakan, “Wanita itu memang hebat ya, Ibu saya contohnya, pada saat sedang ke pasar sedang menawar harga seikat wortel, si penjual menawarkan dengan harga Dua Belas Ribu Rupiah. Ibu saya menawar dengan harga Lima Ribu yang tentunya ditolak. Penjual mau menurunkan menjadi Sebelas Ribu, Ibu saya menawarnya menjadi Lima Ribu Lima Ratus. Begitu tawar menawar ini terjadi hingga satu setengah jam, berakhir dengan harga sepakat Delapan Ribu Dua Ratus Lima Puluh Rupiah. Ibu saya menyerahkan uang sepuluh ribuan dan penjual menyatakan tidak memiliki uang kembalian. Ibu saya dengan singkat bilang, ambil saja kembaliannya.” Gerrr lagi dalam ruangan, hahaha.

Manusia katanya makhluk paling sempurna

“Kita sering mendengar bahwa manusia itu adalah makhluk paling sempurna, kata siapa? Kata manusia kan? Kata tumbuhan ya pasti tumbuhan, karena tumbuhan tidak pernah bicara kepada kita dan kita tidak peduli apa yang dikatakan tumbuhan. Jika tumbuhan itu bisa bicara, pastilah mereka akan bilang bahwa usia manusia itu rata-rata hanya enam puluh tahun karena kelemahan mereka, sedangkan tumbuhan bisa ratusan tahun. Itupun tumbuhan hanya diam berdiri, apalagi bergerak, hahaha..” Kembali sang profesor berkelakar.

Rhenald Kasali Pernah tidak naik kelas

“Eh tahu nggak tentang sosok Rhenald Kasali? Seorang guru besar ilmu manajemen Universitas Indonesia yang terkenal cerdas dan seringkali mengisi acara live di TVRI berjudul Rumah Perubahan. Namun apakah kalian tahu bahwa sebenarnya orang secerdas beliau pernah tidak naik kelas? Beliau dulu tidak pernah menceritakannya kepada siapapun kecuali hanya teman sekelasnya yang tahu, hahaha..” Sang Professor mengakhiri kelakarnya. Benar ternyata, bahwa Rhenald Kasali pernah tinggal kelas.

Andi Malarangeng sebagai juru bicara

“Bagaimanapun fungsi seorang juru bicara itu dapat menjadi kekuatan sisi marketing sebuah organisasi. Bahkan ketika Andi Malarangeng diangkat menjadi juru bicara kepresidenan, kinerja pemerintahan esbeye selalu menjadi pujian seluruh masyarakat kita. Karena ternyata Andi Malarangeng amat disukai oleh hampir semua ibu-ibu di Indonesia karena kumisnya. Namun setelah juru bicaranya diganti orang lain, kinerjanya tampak seperti tidak sebaik sebelumnya, karena ibu-ibu sudah tidak memuji esbeye lagi. Mengapa ibu-ibu? Karena bagaimanapun ibu-ibu dapat mempengaruhi keputusan bapak-bapak, hahaha..” Demikian Sang Profesor berkelakar.

Gosip itu benar

“Mengapa ibu-ibu amat suka menggosip? Bahkan beberapa stasiun televisi kita terlihat amat dominan menayangkan program-program gosip dalam berbagai bentuk, infotainmen, silet, atau bahkan gosip itu sendiri. Gosip paling disukai karena gosip itu ternyata benar, hahaha. Misalnya ketika seorang istri menanyakan suaminya akan pergi kemana, pertanyaan yang ditanyakan dengan dasar perhatian penuh khawatir ini lalu dijawab oleh suaminya dengan nada curiga, jangan-jangan istrinya berpikiran macem-macem, lalu istrinya bercerita kepada teman gosipnya, dan ternyata teman-temannya pernah melihat suaminya itu bertingkah aneh, kesimpulannya gosipnya benar, hahaha..” kelakar Sang Profesor.

Perkawinan Bulldog dan Shih Tzu

“Bulldog terkenal sebagai anjing yang besar dan galak, sedangkan Shih Tzu dikenal sebagai anjing kecil nan lucu seperti boneka. Tapi antara mereka tidak boleh dikawinkan karena akan lahir ras anjing baru bernama Bullshit. Hahaha..” Kelakar penutup dari Sang Profesor.

Demikian tulisan ini dibuat semata-mata sebagai media hiburan kita disela stress berkepanjangan. Tidak bermaksud menyinggung pihak manapun bahkan nama sang Profesorpun tidak disebutkan, bisa karena sudah lupa namanya, bisa karena rumit untuk menyamarkan namanya, atau bahkan bisa karena sebenarnya cerita ini hanya fiktif semata? So, berharap agar kelakar ini dapat menambah semangat kita beraktivitas. Semoga bermanfaat. (abharto/062015)