20 February

Ditulis di Kisah | Comments Off on Akhirnya, Penyangga Itu Dicabut

Akhirnya, Penyangga Itu Dicabut

Mengingat kembali kejadian pada tahun 2011 silam, tepatnya pada hari kesepuluh puasa Ramadhan pada tahun itu, jam kantor berakhir pada jam 16:00, setengah jam lebih cepat dari selain bulan Ramadhan. Perjalanan dari Kawasan Industri Pulogadung tidak berbeda seperti biasanya, tidak ada tempat untuk menambah kecepatan kendaraan selain hanya bisa mengikuti aliran lalu-lintas di Jalan Raya Cakung menuju Bekasi.

Tepat beberapa puluh meter sebelum underpass tol Cakung dari arah Pulogadung, antrian kendaraan amat sesak karena volume kendaraan yang melintas di lampu merah lebih besar dari volume normal sehingga antrian kendaraan mengular hingga beberapa ratus meter. Namun kondisi ini tidak menyurutkan niat sopir bis yang hendak memutar bis dari arah Pulogadung kembali ke arah barat.

Sekitar pukul 16:30 tepat setelah bis itu berputar, kendaraan kembali merambat berdesakan termasuk motor (ala) sport yang kukendarai, namun pada saat yang tepat pula kondisi bis memutar ini dimanfaatkan oleh seorang pejalan kaki yang tiba-tiba berlari menyeberang memotong jalan. Braaak, detik-detik itu hingga kini amat kuingat karena tanpa kusadari lengan penyeberang itu menyambar stang kiri motor.

Kejadian begitu cepat, mataku terasa gelap beberapa detik dan terasa bahu kananku membentur jalan namun masih dalam kondisi sadar. Kepala kuangkat perlahan bahu kanan serasa kaku dan para pemotor lain sudah berhenti tepat dibelakangku tanda memberikan peringatan kepada pemotor lain agar tidak menabrakku. Belum sempat berfikir banyak, dan Plakk! helmku dipukul oleh penyebrang itu dan dengan ditambahi sumpah serapah termasuk permintaan ganti rugi biaya pengobatan lengannya yang sedikit lecet.

Agar tidak semakin macet, kucoba buru-buru menegakkan motorku yang jatuh, namun serasa badanku ini tak berdaya, badanku seolah ada yang kurang sehingga tidak dapat menarik badan motor itu kembali berdiri. Beberapa tukang ojek yang ada segera memberikan bantuan untuk membawa motorku ke pinggir jalan. Beberapa saat duduk di pinggir jalan, kurasakan ada yang aneh pada tulang selangkaku (Clavicula).

Agak jika kuingat, jari-jari tangan kiriku mencoba mengukur membandingkan antara tulang selangka kiri dan kanan, beberapa kali kurasakan bahwa ayunan patahan tulang selangka kanan dan akhirnya kumakin yakin bahwa tulang selangka kananku sudah patah, innalillah. Akhir cerita, operasi penyambungan kembali tulang selangka yang patah langsung dilakukan pada malam itu juga sekitar jam 22:00 WIB.

Dokter spesialis orthopedi yang menangani menyarankan untuk banyak beristirahat dan mengikuti saran pengobatan teratur yang diberikan. Penyangga (sering disebut pen) dengan 8 mur sepanjang sekitar 2 sentimeter direncanakan akan dilakukan pelepasan kembali setelah 6 bulan. Namun 6 bulan setelah kejadian itu, trauma bedah dan aktivitas kantor membuatku memutuskan untuk menunda eksekusinya.

Namun rasa nyeri tiba-tiba yang kurasakan di bagian sekitar mur, membuatku harus segera berkonsultasi kembali dengan dokter spesialis orthopedi. Pada saat konsultasi Senin, 15 Pebruari 2016, Dokter menyarankan untuk segera mencabut pen ini, dan ketika kutanya hari apa bisa dilakukan, dokter bilang hari ini jam 18:00, 1 jam dari sekarang! Bismillah, dan operasi pencabutan pen itu berhasil dilakukan dan akhirnya penyangga itupun di cabut, Alhamdulillah.

Bagi para pengguna penyangga yang hingga saat ini masih ragu apakah akan dicabut atau tidak, sebelum berkonsultasi ke dokter, kulihat tulisan testimoni pengguna pen yang akhirnya dicabut, dan beberapa yang terlambat dicabut dan berakibat tubuh bereaksi termasuk yang setelah 17 tahun dipaksa cabut karena pen yang ada ditulang kering membuat reaksi penolakan tubuh dan terjadi infeksi.

Demikian, pastikan selalu keamanan berkendara dan semoga tulisan ini bermanfaat. (abharto/022016)

Comments are closed.

Agus Budi Harto - Copyright © 2012 | All rights reserved.