1 June

Ditulis di Ekspresi, Kisah, Opini | Comments Off on Awarded Power

Awarded Power

Awarded PowerMengingat kembali tulisan tahun lalu “Nobody Can Hurt Me Without My Permission“, kini muncul lagi dan mungkin akan terus bermunculan kejadian serupa disekitar kita. Sebut saja si X sahabat saya yang tiba-tiba datang bercerita bak seperti kakak-beradik, “Kenapa ya Mas, istri saya selalu menghukum saya, memvonis saya setiap saya melakukan kesalahan, meski kesalahan semacam itu amat dapat ditoleransi oleh kebanyakan orang.

“Misalnya saya memindahkan kumpulan alat cukur yang biasa diletakkan tepat di sebelah kanan wastafel ruang tengah, karena buru-buru harus berangkat ke kantor lalu saya geser sedikit ke sebelah kiri. Dia marah besar sore harinya tepat di depan pintu sepulang saya kerja. Dia benar-benar tidak mau saya merubah apa yang ditetapkannya berada di tempat yang dia mau.”

Ini adalah sekelumit kejadian ringan dari apa yang seringkali dia ceritakan kepada saya sebagai sahabat. Banyak kejadian lain yang jauh lebih detil dan kadang miris mendengarnya hingga energi yang dia rasakan menular ke badan saya dan seolah saya ikut merasakan apa yang dia alami, hingga beberapa ceritanya membuat jantung saya ikut berdebar keras, hahaha..

Hidupnya sudah berubah mengikuti cetakan yang dibuat oleh sang istri, sebuah keberhasilan project design yang membuat seorang pria yang seharusnya tegar menjadi seperti terlihat enerjik cerdas dan smart di depan istrinya, namun di belakang layar amat tegas terlihat bahwa garis hidup si X yang awal mudanya inspiratif dominatif, kini menjadi sebentuk wujud yang dibentuk dari kertas yang dihancurkan dengan air lalu dibentuk kembali seperti inginnya sang disainer. Bagus sih, tapi mudah rontok khususnya ketika bertemu dengan air.

Melihat kejadian ini terpikir secara bertahap hubungannya dengan program acara Dog Whisperer di stasiun televisi National Geographic. Cesar Millan yang amat piawai mengendalikan anjing sekeras apapun menjadi amat lunak dan penurut. Satu kunci yang saya ingat adalah ketika pertama kali Cesar berhadapan dengan anjing galak yang baru dikenalnya milik klien, Cesar menjelaskan dan mencontohkan bagaimana gestur yang tepat untuk mengendalikan anjing itu.

“Meskipun kita tidak dapat bicara dengan anjing, gerakan kita dapat dilihat dan diartikan oleh anjing itu bahwa kita tidak suka akan tindakan anjing yang galak.” Cesar mencontohkan, setiap kali anjing hendak menggonggong dan mendominasi lawannya, tepat saat itu pula gestur Cesar yang diwakili gerakan sedikit dari kakinya, membuat anjing mengerti bahwa Cesar tidak suka.

Kembali ke nasib si X, si X yang seharusnya menjadi tauladan pelindung dan pengarah acara dalam hidup pernikahan mereka, harus rontok karena dia tidak tahu atau belum memiliki kompetensi untuk mengarahkan anggota keluarganya di hari pertama pernikahannya. Andai seorang Cesar Millan membiarkan anjing itu menggonggong dan mendominasinya, mungkin bahkan Cesar yang harus berada dalam kandang anjing untuk dikurung dan menjadi tawanan seumur hidup.

AWARDED POWER
Ini adalah kejadian yang saya definisikan sendiri sebagai Awarded Power atau Kekuasaan yang Dihadiahkan. Pasangan hidup atau teman atau siapapun yang harus kita hadapi secara langsung atau tidak langsung, ketika kita segera meletakkan diri dalam posisi paling dasar sebagai abdi alias jongos alias babu atau apapun istilahnya, dengan alasan menjunjung tinggi adat ketimuran dengan segala aksesorisnya, maka pasangan kita akan otomatis menempatkan diri pada posisi setinggi-tingginya.

Kondisi ini dapat menjadi semakin parah ketika sikap lower profile alias rendah diri didukung oleh lingkungan sekitar yang mendukung kerendahan posisinya, misalnya sang ibu sering menyanjungnya karena rendah diri itu amat mulia, bahkan sang korban seperti si X selalu memuji dan memujanya dengan menceritakan kepada orang lain yang ditemuinya bahwa pasangan hidupnya itu amat hebat dengan sikapnya yang dianggap tegas.

Apakah awarded power itu tidak benar? Menurut saya pribadi, awarded power ini harus disikapi dengan analisa keadaan seperti apakah oknum yang dihadiahkan kekuasaan tersebut. Jika si X dan istrinya berada dalam lingkungan yang berada dalam strata lemah lembut yang sama, amatlah tepat karena kita lihat bagaimana sikap santun ramah tamah itu menjadi terasa agung dan mulia terjadi dalam lingkungan keraton.

Namun bagaimana jika sikap santun ramah tamah itu sebagai manisfestasi dari Awarded Power diberikan kepada koloni yang dari pagi hingga siang hari 24 jam sehari 7 hari seminggu selalu harus berteriak untuk menyampaikan pendapat kepada orang lain yang berjarak 20 sentimeter didepannya? Dapat kita rasakan ketidakseimbangan pertarungan yang akan berakhir tragis seperti yang dialami oleh si X.

Dan, apakah ini hanya terjadi pada si X sebagai suami yang “ditindas” oleh istrinya? Tidak, tulisan ini secara khusus saya hadiahkan buat si Y sebagai seorang istri yang memiliki nasib yang sama seperti si X yang barangkali secara tidak sadar telah menghadiahkan kekuasaan kepada suaminya, amat memuliakan tindakan suami di hadapan orang tua kandung yang pada akhirnya si Y tidak mengerti mengapa pasangan hidupnya itu selalu menindasnya.

Semoga bermanfaat. (abharto/062016)

Comments are closed.

Agus Budi Harto - Copyright © 2012 | All rights reserved.