Pengalaman Membuat SIM A Baru di Bekasi

Suatu kejadian di jalan tol TMII-Pondok Pinang pada hari Sabtu 7 Januari 2017 sekitar jam 7:30 WIB pagi, sehingga saya diperlihatkan oleh Polisi Jalan Tol yang bertugas daftar denda yang harus dibayar oleh pengemudi yang tidak dapat menunjukkan SIM A-nya adalah sebesar satu juta rupiah, sesuai UU no. 22 tahun 2009. Hal ini tentunya membuat kita was-was setiap mengemudikan mobil dengan membawa SIM yang sudah kadaluarsa masa berlakunya.

SIM A yang saya miliki kelupaan diperpanjang dimana seharusnya diperpanjang pada akhir Desember kemarin, sehingga menurut Surat Telegram Kapolri Nomor: ST/985/IV/2016 SIM A yang sudah melewati tepat tanggal kadaluarsanya tidak dapat diperpanjang melainkan harus membuat baru. Pagi ini Rabu 11 Januari 2017 saya mencoba bergerak ke Samsat Bekasi berangkat sekitar pukul 6.00 WIB dengan harapan mendapat urutan terdepan.

Pembuatan SIM A baru saya niatkan melalui proses normal sesuai dengan slogan-slogan yang terpajang di beberapa sudut kantor Samsat “Hindari CALO”. Benar sekali saat tiba disana masih ada 2 orang yang sudah meletakkan fotokopi KTP sebagai tanda mendaftar ujian kesehatan. Prosesnya amat ringkas dimana pemohon diuji dengan alat buta warna dan dituliskan catatan fisik dasar seperti tinggi badan dan berat badan. Pada proses ini, biaya resmi yang terpampang adalah sebesar dua puluh lima ribu rupiah.

Pemohon yang dinyatakan lulus kesehatan diminta untuk naik ke lantai 2 untuk mendaftar asuransi jiwa dengan membayar premi sebesar tiga puluh ribu rupiah. Bergerak ke ruangan sebelahnya dimana sesuai dengan tabel resmi, pemohon diminta membayar biaya pembuatan SIM A sebesar seratus dua puluh ribu rupiah, dan dilanjutkan dengan mengambil formulir pendaftaran pembuatan SIM A yang setelah diisi dan dikembalikan, dilanjutkan dengan ujian teori menggunakan komputer.

Petugas ramah yang melayani pemohon amat jelas memberikan instruksi cara login dan memilih jawaban pilihan dari setiap pertanyaan yang terdiri dari 7 pertanyaan survei dan 30 pertanyaan yang diujikan. Jika benar-benar memahami, teliti dan tidak terburu-buru insyaalah lolos dalam ujian ini, dan Alhamdulillah saya mendapatkan nilai benar sebanyak 27 dari 30 pertanyaan.

Pemohon yang lolos diminta untuk bergerak ke tempat ujian praktek yang berlokasi di Asrama Haji Bekasi. Disinilah pengalaman lebih menarik saya dapatkan. Lokasi ujian praktek roda 4 yang bersebelahan dengan ujian praktek roda 2, tampak semarak dengan sorakan untuk peserta ujian yang melanggar batang-batang kayu pembatas yang disediakan. Khususnya suara teriakan dan sorakan dari para peserta lain yang menonton ujian praktek roda 2.

Di tempat ujian praktek ini disediakan 2 macam kendaraan pilihan, jenis kendaraan transmisi manual dan otomatis. Hari ini yang tersedia adalah 2 buah mobil transmisi manual Daihatsu Grandmax dan sebuah Daihatsu Terios transmisi otomatis yang tampak lebih baru. Juga diberikan toleransi kepada calon peserta ujian jika hendak menggunakan mobilnya sendiri jika merasa lebih nyaman dan mengenal mobilnya sendiri.

Menonton peserta lain yang sedang ujian praktek sambil menunggu giliran maju sungguh mengasyikkan. Hampir semua calon peserta ujian tampak tegang saat melihat peserta lain yang ternyata mayoritas gagal dalam ujian. Ada yang bilang berbisik “Ini sengaja dibuat sulit mengarahkan kita untuk melibatkan calo,” peserta lain mengatakan “Kenapa dia terlalu maju, kenapa terlalu pelan, kenapa terlalu menikung, makanya gagal dia,” peserta lain mengatakan “ujian prakteknya sulit, kalo gak diurus nanti ditangkap di jalan, tapi saat ujian amat sulit,” demikian sekelumit papar mereka.

Benar saja, dari hampir 20 orang sebelum saya maju, hanya 1 orang yang lolos, itupun yang menggunakan transmisi manual. Sedangkan petugas penilai memberikan contoh berkali-kali sambil menempatkan mobil yang sudah digunakan ketempat start semula, dan tampak sekilas bahwa bagi yang sudah biasa ujian praktek ini amat mudah, hmmm.. bikin makin deg-degan.

Sebelum saya maju, kelompok ujian SIM A baru bukan perpanjangan diberikan arahan oleh petugas beberapa hal:

  1. Gerakan mobil yang harus dilakukan adalah maju dan belok kanan hingga batas tanpa diulang alias harus langsung sekali jalan.
  2. Gerakan mundur dari kanan ke kiri ke tempat semula tanpa ada gerakan maju mundur sedikitpun.
  3. Gerakan 1 dan 2 di atas namun ke arah kiri.
  4. Untuk transmisi manual tidak boleh terjadi mati mesin hingga 3 kali.
  5. Sekali menyentuh dan merobohkan balok kayu maka langsung diskualifikasi.
  6. Kepala tidak boleh keluar jendelan dan hanya diperbolehkan menggunakan instrumen spion kanan-kiri dan senter.
  7. Peserta yang diskualifikasi dapat mengulang paling cepat dalam waktu sepekan ke depan dengan jenis ujian dan tempat yang sama.
  8. Kuncinya adalah konsentrasi dan sabar.

Area ujian berbentuk T, lebarnya kira-kira ada spasi 30cm di sebelah kanan dan kiri mobil terios. Balok-balok kayu pembatas yang tidak boleh dilanggar tingginya hanya sekitar setengah meter sehingga dengan jarak amat dekat tidak akan tampak oleh pengemudi, sehingga konsentrasi dan kemampuan ingatan spasial yang amat diandalkan. Perhatian saya tertuju pada belokan ban mobil petugas yang mencontohkan dan tidak pernah menabrak balok kayu dimana mundurnya dimulai dengan sudut belokan dari kecil hingga membesar disesuaikan dengan jarak mobil dengan balok kayu.

Yah, tibalah saatnya giliran saya maju. Petugas mengingatkan agar tidak terburu-buru, konsentrasi dan sabar. Uji belok kanan maju lolos diikuti dengan mundur begitu pula yang kekiri. Benar-benar tidak tampak balok-balok yang ada di depan dan hanya perlu mengkonsentrasikan diri agar seolah tampak ada balok dan tidak ditabrak. Petugas merespon “excelent! bagus banget bapak nyetirnya, dapat nilai 93, cuman kurangnya tidak menyalakan lampu hazard untuk mendapat nilai 100,” Alhamdulillah.

Ternyata benar bahwa pembuatan SIM A saat ini benar-benar sudah tidak ada yang menawari untuk bypass, jikapun ada itupun oleh oknum-oknum yang mencoba-coba saat kita berhenti parkir. Semoga pengalaman ini dapat memberikan referensi bagi calon pembuat SIM A di Bekasi, aman, nyaman, bebas CALO, dan cepat. (abharto/012017)