Tukar-menukar Barang

Jual beli barang merupakan kegiatan umum yang sudah amat lazim kita lihat di sekitar kita. Jual beli merupakan kegiatan menukar barang dengan sejumlah uang yang disepakati antara penjual dan pembeli. Kesepakatan harga ini dapat didasarkan kepada suatu aturan yang ditetapkan oleh pemerintah setempat maupun suatu harga yang ditetapkan sendiri tanpa batas oleh penjual dan pembeli yang mau membeli barang.

Harga barang pokok yang dijual di Pasar Induk, sudah sering kita dengar dalam informasi pasar media siaran publik seperti televisi dan radio. Harga daging sapi Rp 100.000,- per kilogram, harga cabe keriting Rp 25.000,- per kilogram, merupakan contoh harga yang ditetapkan oleh pemerintah pada suatu waktu agar masing-masing penjual tidak dirugikan, dan pembeli tidak dirugikan. Jika harganya jauh di atas harga ketetapan maka pembeli tidak mampu membeli, dan jika harganya jauh di bawah harga ketetapan maka penjual tidak mendapatkan untung.

Harga barang-barang yang dikoleksi untuk disukai misalnya, harga burung hias dengan suara lantang dan warna yang indah, harga ikan arwana Irian Gold, harga ayam jago yang pemenang dalam aduan, harga mobil antik dan sebagainya, merupakan contoh harga yang ditetapkan sendiri oleh penjual yang sudah tahu potensi pasar.

Nah, jaman dahulu sebelum ditemukannya uang atau bahkan sebelum ditemukannya angka-angka, jual beli barang rasanya tidak mungkin dapat terjadi. Karena salah satu syarat mandatory-nya adalah adanya uang sebagai alat tukar.  Oleh karenanya kita mendengar adanya transaksi tukar-menukar barang. Saat ini nilai uang dapat dipercaya oleh berbagai negara sehingga masing-masing negara menggunakan mata uangnya sendiri untuk bertransaksi.

Namun bagaimana jika misalnya pada suatu daerah, dan atau suatu waktu sekelompok orang lebih percaya kepada nilai barang yang dimilikinya daripada ditukar dengan uang? Misalnya barang-barang yang disukai orang kuantitasnya jauh melebihi barang-barang umum yang harganya stabil mengikuti aturan yang ditetapkan. Contohnya jumlah mobil antik jauh melebihi jumlah mobil baru yang diciptakan oleh produsen. Maka kegiatan tukar barang menjadi solusinya.

Saat ini saya dan tim sedang mencoba membuat situs untuk memfasilitasi tukar menukar barang. Anda dapat melihatnya di tukarbarang.com. Tulisan ini sengaja dibuat selain untuk dibaca oleh pembaca budiman sekalian, juga untuk membandingkan antara urutan peringkat hasil pencarian kalimat “tukar barang bekas” di blog ini dengan situs tukarbekas.com yang dicoba untuk diterapkan beberapa faktor search engine optimization (SEO). Jika hasilnya sesuai yang ditargetkan, maka checklist faktor SEO ini dapat digunakan oleh pembuat web yang ingin peringkat web-nya berada di atas pada hasil pencarian Google.

Demikian dan semoga bermanfaat. (abharto/201710)