Mudahnya Mengurus Paspor di Bekasi

Melihat tanggal batas kadaluarsa dokumen paspor, terbayang sama rumitnya dengan urusan perpanjangan SIM, pengurusan surat tanah, dan urusan yang menyentuh birokrasi di negara kita tercinta ini. Inilah stigma yang terjadi di masyarakat kita sehingga pada setiap kali kita hendak mengurus sesuatu yang menyentuh urusan birokrasi, mereka cenderung menceritakan sesuatu yang negatif, misalnya: antri panjang dan panas, pemohon membeludak, pasti tidak lulus, lebih mudah bayar calo, dsb.

Namun demikian, jika kita berhenti pada batas stigma, maka kita akan terjebak kearah yang merugikan kita sendiri. Sebagaimana pernah saya tulis tentang bagaimana mudahnya mengurus pembuatan SIM A baru di Bekasi, kali ini saya akan menceritakan pengalaman yang pasti akan amat berguna bagi pembaca yang ingin memperpanjang paspor yang dimilikinya, termasuk untuk mengikis stigma yang beredar.

Untuk suatu keperluan, saya ingin memperpanjang paspor, dengan menggunakan cara online yang beredar, maka saya mengakses situs kantor imigrasi bekasi. Pada hari Jumat malam 5 Januari 2018, waktu yang tersedia paling cepat untuk mendapatkan pelayanan adalah pada tanggal 13 Pebruari 2018. Artinya saya baru bisa mendatangi kantor Imigrasi hampir 40 hari kemudian. Cara ini sudah menjadi tidak mungkin digunakan jika perjalanan yang harus saya lakukan dalam wakttu tidak lebih dari 2 minggu kemudian. Oleh karenanya, kemarin tanggal 6 Januari 2018, saya memutuskan untuk mencoba menggunakan layanan Walk-in (datang langsung) yang disediakan.

Sekitar sebelum jam 1 dinihari, saya berangkat melalui jalan yang relatif sepi dari rumah menuju Kantor Imigrasi Kelas II Bekasi di Jl. Ahmad Yani. Beberapa menit kemudian setelah parkir kendaraan, tampak para pemohon telah panjang antri tepat di depan gerbang masuk. Beberapa orang yang tampak berjaga menyarankan agar kembali saja pada Sabtu mendatang pada layanan Walk-in berikutnya.

Saya tetap ingin masuk karena jika paspor diurus pada Sabtu mendatang maka pasti potensi risiko kegagalan perjalanan menjadi lebih tinggi. Saya berjalan masuk menyusuri para pemohon yang menghampar tikar, beberapa orang terlihat pulas tidur berjajar, hingga urutan paling ujung. Setelah dihitung, ternyata saya mendapat urutan ke 81, beberapa nomor melebihi dari kuota hari itu yakni 75 orang, wow. Rasa kecewa, sedih bercampur berfikir keras mencari cara agar kebutuhan paspor ini bisa terpenuhi.

Suasana remang di lapangan tempat kami antri diselingi semilir angin berisi butiran rintik calon gerimis membuat kami semakin was-was. Terbayang bagaimana jika hujan benar-benar turun, akan berdiri di manakah para antriwan dan antriwati ini. Beberapa orang khususnya yang berada di zona tidak nyaman di atas nomor antrian 75 ini tampak ada yang yakin bisa masuk dan ada juga yang sambil berbisik tanda tidak yakin akan bisa mendapatkan kesempatan siang ini.

Tampak seorang pengamanan berdiri di jarak yang cukup dengan para antriwan namun cukup jelas terdengar ketika dia mengatakan sambil mengarahkan pandangannya kepada antriwan zona tidak nyaman ini “Pak, Bu, masih mau nunggu? Sudah jelas batas kuota hanya 75, yang lain tidak akan mendapat kesempatan. 75 orang ini sudah di daftar dan di foto sehingga tidak mungkin dapat digantikan!,” ucapnya tegas mengingatkan. Tentunya peringatan ini semakin menambah peserta zona tidak nyaman yang terus bertambah hingga menuju angka 100 ini, sebagiannya mundur teratur.

Ufuk dari ujung barat sudah mulai merasuki pagi menerangi lokasi antrian. Beberapa orang ada yang saling titip tempat antri karena harus sholat Shubuh dan atau ke toilet. Tak lama kemudian, petugas lain memberikan penjelasan yang sama agar antrian yang di atas nomor 75 segera pulang beristirahat dan mencoba di Sabtu depan saja atau mengajukan antri online. Namun jumlah para antrian masih terus bertambah karena mereka menganggap bahwa berangkat jam 6 itu sudah sangat pagi, padahal jam 1 dinihari sudah penuh mencapai batas kuota.

Sekitar jam 7:30 tibalah saatnya para antriwan zona nyaman mulai diijinkan masuk satu persatu. Saya mengajak beberapa orang Bapak-bapak untuk hadir ke depan melakukan negosiasi untuk mendapatkan tambahan kuota dengan berbagai cara. Para petugas berbaju seragam olah raga kuning tetap enyatakan bahwa keputusan kuota sudah ditetapkan dari pusat, namun saya tetap terus memberi semangat bahwa Allah akan tetap memberikan pertolongan kepada hamba-Nya yang memohon.

Setelah beberapa menit, para petugas memberikan komando perhatian agar para antriwan sedikit mundur untuk memberi jalan kepada seorang yang sangat mereka jaga dan hormat untuk masuk ke dalam gerbang berbaju merah. Beberapa orang petugas tampak bahkan ada yang memberikan hormat dan mencium tangan orang yang berbaju merah tersebut. Kami saling pandang dan percaya bahwa sosok ini adalah pemimpin mereka yang perlu ditemui untuk berdiskusi agar diberikan kebijaksanaan.

Alhamdulillah setelah menang melawan kantuk dan sedikit berkeringat karena harus berjalan kesana kemari demi melihat perjuangan antriwan antriwati yang telah datang dari sejak dini hari, kami lakukan approach kepada petugas, sosok berbaju merah yang ternyata adalah Kepala Kantor Imigrasi berkenan menemui kami dan kamipun menyalami tangannya tanda ucapan terima kasih telah memberikan sinyal positif. Tak lama kemudian petugas menyiarkan melalui pengeras suara bahwa Kantor Imigrasi berkenan memberikan kebijakan untuk menambah 45 nomor antrian lagi, horeeee.. para antriwan antriwati termasuk seorang nenek tua renta berteriak serempak tanda senang.

Saya mendapatkan urutan yang hampir paling depan dari para antriwan zona di atas 75 ini, sehingga saat masuk ke dalam area kantor, sempat bertemu dan bersalaman dengan Bapak Soetrisno, S.Sos. Saya pribadi mewakili seluruh antriwan antriwati mengucapkan terima kasih, dan berjanji kepada beliau untuk menyebarkan berita baik ini kepada seluruh calon pemohon paspor di area bekasi melalui media sosial termasuk blog ini. Terima kasih Pak Soetrisno.

Di dalam ruang tunggu, setelah mengisi 2 lembar formulir yang disediakan, saya melihat dengan jelas bagaimana Pak Soetrisno bolak-balik memastikan setiap sendi proses pengurusan paspor. Sempat terdengar beliau mengingatkan kepada seorang petugas senior di bagian pemeriksaan berkas “Mas, sampeyan itu supervisor, musti berdiri posisinya jangan duduk,” juga terdengar beliau menanyakan progress antrian yang sudah diproses, “Sudah berapa? sudah sampai seratus belum?” teriak beliau kepada para petugas.

Tibalah giliran saya nomor 81, para petugas menanyakan dengan senyum, “Bapak dari jam berapa antri semalam?,” saya jawab jam 1. Lalu petugas lain yang kebetulan dari pagi di hari non-dinas harus bertugas berseragam olah raga, dengan senyum tulus menawarkan, “Mari sarapan Pak, ini hanya roti, maaf saya belum sempet sarapan dari tadi,” saya bilang, “monggo diteruskan sarapannya, kami yang mohon maaf telah membuat Bapak-bapak disini harus berdinas di hari yang seharusnya libur.”

Setelah dokumen persyaratan dinyatakan lolos, selanjutnya menunggu giliran untuk dipanggil di loket 7. Di dalam sana terdapat beberapa loket terbagi 2 yakni: bagian pertama bertugas untuk memotret dan mengambil sidik jari, dan bagian kedua bagian interview. Menurut saya prosesnya sangat cepat dan tentunya dengan jam terbang yang tinggi, para petugas sudah amat faham jika didapat adanya keganjilan dan sebagainya. Petugas menyatakan tinggal bayar setelah mendapatkan resi pembayaran, dan ditunggu prosesnya 4 hari setelah tanggal pembayaran.

Selesai sudah prosesnya, saat berjalan menuju jalan keluar, Pak Soetrisno kembali menyapa dan saya menyalaminya kembali, serta tak lupa menyampaikan terima kasih dan ucapan selamat atas prestasi kerja tim hari ini, “Terima kasih Pak, prosesnya sangat cepat, dan selamat atas prestasi kerja tim Bapak hari ini dengan angka pencapaian 120%, 120 orang dari 75 orang kuota.” Dengan senyum berkharisma, beliau menjawab, “Begitulah tugas saya sehari-hari, turun ke lapangan untuk memastikan kinerja tim supaya masyarakat kita dilayani dengan maksimal, dan hari ini bukan 120 tetapi sudah saya tambah tadi menjadi 130. Maaf anak buah tidak memiliki kewenangan untuk merubah kebijakan, sehingga diawal masih harus dengan Bapak dan teman-teman.”

Begitulah, bertemu dengan sosok pejabat memang tidak mudah, Alhamdulillah bisa mengenal beliau dan bertemu langsung. Kesimpulan yang saya rasakan bahwa mengurus paspor khususnya di Kantor Imigrasi Bekasi Kelas II sangat mudah dan cepat, dengan syarat:

  1. Lakukan permohonan pengurusan jauh hari sebelum tanggal diperlukannya paspor, sehingga akan jauh lebih mudah menggunakan layanan online.
  2. Perhatikan dan penuhi kelengkapan dokumen yang dipersyaratkan seperti yang ditulis di web.
  3. Usahakan tidak menggunakan layanan Walk-in karena harus berebut tempat dengan para pemohon yang menggunakan layanan Walk-in, dan agar diperhatikan bahwa layanan Walk-in ini merupakan layanan bonus khusus pada bulan ulang tahun Imigrasi, sehingga pada hari Sabtu lainnya sudah tidak ada lagi.

Jika didapat keterangan positif yang terlupakan, silahkan mengirim email ke abharto[at]gmail[dot]com.

Demikian, terima kasih untuk para Bapak pemohon yang telah berkenan bersama-sama berjuang memohon penambahan kuota hari ini, terima kasih kepada seluruh jajaran petugas Kantor Imigrasi Kelas II Bekasi, dan terima kasih serta salam hormat kami kepada Bapak Soetrisno, S.Sos atas pelayanan yang diberikan oleh Tim yang solid. (abharto/012018)