Decision to Continue S2 Study

abharto, 2020-11-11 09:26:12

English:

Decision to Continue S2 Study

College is the dream of every human being who has a vision to improve the quality of life in the future. Such a vision of course is relatively dependent on the conditions before deciding to continue studying. For some people who are comfortable with their current life, for example, they are busy working in a company with adequate income, or have received adequate "ammunition" from their parents' inheritance so that even without school their life does not require extra struggle, then continue their studies. not a basic need.

However, for others who feel that there is still potential within themselves to achieve a better quality of science, college is a need that should be fought for. This desire can even become an energy to make college assignments even more enjoyable to undertake, even in situations of already working with a myriad of "loads" of work that some people feel they lack 24 hours of time a day.

In 2016, I felt the "law of relativity" in my life was happening where the IT knowledge I got from my undergraduate course was relatively behind. Working experience in the IT sector can indeed facilitate this gap, but it is becoming more and more visible that the technology is very fast with "god-level fertility", making the gap even bigger. This is proven by science at the undergraduate level which is starting to be irrelevant to current conditions, for example, IOT technology, which did not exist at that time, to the rapidly developing Artificial Intelligence technology.

At the beginning of the emergence of this new technology, IT players unconsciously could immediately joke around with new technology toys, but without the basic concepts and blueprints of the new technology, IT players could only talk with the assumption that they followed the flow and output of the new technology. If allowed, this new technology will only be controlled by the creators and learners of these technological creations.

Therefore, as a technology actor since the development of computers, I then tried to find a university that was: based on foreign technology that was broader than local science, the lecture schedule could be done outside of normal working hours, where the lecture could be reached by commuting in a day, I can reach tuition fees, the quality of the curriculum is more complete than the domestic curriculum, but the diploma is recognized by the Ministry of Education and Culture.

From the above criteria, I have searched for several universities with technology-related faculties, but only 1 is included in all the criteria above, namely the Swiss German University (SGU). The first day of my visit there aimed only to see the distance and travel time, the campus situation, the quality of the educational facilities and confirmation whether I could fulfill it or not to enter the University.

After getting the right time, Alhamdulillah I was able to meet and discuss directly with the Head of the Master of Information Technology Study Program. This doctoral graduate from abroad explained that the standard for being a lecturer at SGU is to be a foreign graduate, I immediately imagined the "aroma" of foreign quality just by talking to the Head of Study Program who was so humble and full of mutual respect, "wow you can feel at home studying here. if this "so my feelings that arise at that time.

An explanation regarding the lecture method that upholds discipline was also given where this standard was applied to always ensure the quality of graduates. "Any delay in the arrival of students in the study room can be sanctioned by the lecturer refusal to enter the room, and it affects the percentage of attendance which also affects the requirements for passing related courses," explained the Head of Study Program.

After I felt that there was enough explanation from him and I decided to take study at SGU, then I agreed to come back next week to register. But wisely, the Head of Study Program offered a solution that to streamline my time, registration could be done that day and the Head of Study Program could conduct an interview as a prerequisite for entry as a student. I was a little surprised, but it was more convincing to me that the quality of SGU, the Head of Study Program immediately implemented speaking in English in the interview, Alhamdulillah, finally my English will be used again if I can graduate into SGU for the next 3 semesters in this college.

Want to know the story of your next study at SGU? Always visit this web site, I will write the story at the next sessions.

Bahasa Indonesia:

Keputusan Melanjutkan Kuliah S2

Kuliah merupakan dambaan bagi setiap insan yang memiliki visi untuk memperbaiki kualitas hidup di masa depan. Visi demikian tentunya relatif bergantung kepada kondisi sebelum memutuskan untuk melanjutkan kuliah. Bagi sebagian orang yang telah merasa nyaman dengan kehidupannya saat ini, misalnya telah memiliki kesibukan bekerja di suatu perusahaan dengan penghasilan yang memadai, atau telah mendapatkan "amunisi" yang memadai dari warisan orang tuanya sehingga tanpa sekolahpun kehidupannya sudah tidak memerlukan perjuangan ekstra, maka meneruskan kuliah bukan merupakan kebutuhan pokok.

Namun bagi sebagian lainnya yang merasa bahwa didalam dirinya masih ada potensi untuk mencapai kualitas keilmuan yang lebih baik, maka kuliah merupakan kebutuhan yang patut diperjuangkan. Keinginan ini bahkan dapat menjadi energi untuk membuat tugas-tugas kuliah itu semakin nikmat untuk dijalani, bahkan dalam situasi sudah bekerja dengan segudang "load" pekerjaan yang bagi sebagian orang sudah merasakan kurangnya waktu 24 jam dalam sehari.

Pada tahun 2016, saya merasakan "hukum relativitas" pada hidup saya sedang terjadi dimana ilmu IT yang saya dapatkan dari bangku kuliah S1 sudah relatif ketinggalan. Pengalaman kerja di bidang IT memang dapat memfasilitasi gap ini, namun secara tak kasatmata makin terasa dimana teknologi yang amat pesat dengan "fertilitas tingkat dewa", membuat gap semakin besar. Terbukti dari keilmuan di tingkat S1 yang mulai tidak relevan dengan kondisi saat ini misalnya teknologi IOT yang saat itu belum ada, hingga teknologi Artificial Inteligence yang berkembang pesat.

Pada awal munculnya teknologi baru ini, secara tidak sadar pelaku IT memang dapat segera bersenda gurau dengan mainan teknologi baru, namun tanpa adanya konsep-konsep dasar serta blueprint teknologi baru tersebut, pelaku IT hanya bisa bicara dengan asumsi mengikuti alur dan keluaran dari teknologi baru. Jika dibiarkan, teknologi baru ini hanya akan dikuasai oleh pencipta dan pembelajar ciptaan teknologi tersebut.

Oleh karenanya, sebagai pelaku teknologi sejak mulai berkembangnya komputer, saya kemudian mencoba mencari universitas yang: berbasis teknologi luar negeri yang lebih luas dari keilmuan lokal, jadwal kuliahnya dapat dilakukan diluar jam kerja normal, tempat kuliahnya dapat dijangkau dengan perjalanan pergi-pulang dalam sehari, biaya kuliah dapat saya jangkau, kualitas kurikulum lebih lengkap dari kurikulum dalam negeri namun ijasahnya diakui oleh Kemendikbud.

Dari kriteria di atas, beberapa universitas dengan fakultas terkait teknologi sudah saya cari, namun hanya 1 yang masuk dalam semua kriteria di atas yaitu Swis German University (SGU). Hari pertama kunjungan saya kesana bertujuan hanya untuk melihat jarak dan waktu tempuh perjalanan, situasi kampus, kualitas fasilitas pendidikan dan konfirmasi bisa saya penuhi atau tidaknya untuk masuk ke Universitas tersebut.

Setelah mendapatkan kesesuaian waktu, Alhamdulillah saya bisa menemui dan berdiskusi langsung dengan Kaprodi Master of Information Teknologi. Doktor lulusan luar negeri ini menjelaskan bahwa standar untuk menjadi dosen di SGU adalah merupakan lulusan luar negeri, saya langsung membayangkan adanya "aroma" kualitas luar negeri hanya dengan berbincang dengan Bapak Kaprodi yang begitu humble dan penuh rasa saling menghormati, "wah bisa betah kuliah disini kalau begini" begitu perasaan saya yang muncul saat itu.

Penjelasan terkait metode kuliah yang menjunjung tinggi disiplin juga disampaikan dimana standar ini diterapkan untuk selalu memastikan kualitas lulusan. "Setiap keterlambatan kedatangan mahasiswa di ruang belajar dapat diberi sanksi penolakan masuk ruangan oleh Dosen, dan mempengaruhi persentase kehadiran yang juga mempengaruhi prasyarat kelulusan mata kuliah terkait," begitu Pak Kaprodi menjelaskan.

Setelah saya rasakan cukup penjelasan dari beliau dan saya memutuskan untuk mengambil kuliah di SGU, kemudian saya setuju untuk kembali pekan depan untuk melakukan pendaftaran. Namun dengan bijaksana, Pak Kaprodi menawarkan solusi bahwa untuk mengefisiensikan waktu saya, pendaftaran dapat dilakukan hari itu juga dan Pak Kaprodi dapat melakukan wawancara sebagai prasyarat masuk sebagai mahasiswa. Sedikit kaget namun makin lebih meyakinkan saya kualitas SGU, Pak Kaprodi langsung menerapkan berbincang dalam bahasa Inggris dalam wawancara, Alhamdulillah akhirnya bahasa Inggris saya akan dipakai lagi jika saya bisa lulus masuk menjadi mahasiswa SGU selama 3 semester kedepan di bangku kuliah ini.

Ingin tahu cerita pengalaman selanjutnya kuliah di SGU ini? Selalu kunjungi web site ini, ceritanya akan saya tulis pada kesempatan berikutnya.